HAM, Negara, dan Nasionalisme

https://i1.wp.com/tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2012/12/human-rights1a-300x289.jpgOleh: Weren Talia

“Kolektivisme mengurbankan individu, dan itu berarti: manusia kongkret nyata, demi masyarakat, bangsa, ras, negara, dan sebagainnya. Padahal masyarakat, bangsa, ras, dan negara tidak memiliki eksistensi sendiri kecuali melalui orang-orang yang menjadi anggotanya” (Franz Magnis-Suseno).

Negara sebagai satuan pemerintahan dan Hak Asasi Manusia (HAM) seharusnya adalah dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Masing-masing mempunyai spirit yang sama dalam melihat hakekikat manusia sebagai subyek. Spirit itu pula yang kemudian melahirkan semangat yang baru dan satu, yakni semangat nasionalisme. Semangat yang semestinya menjadi simbol komitmen seluruh bangsa terhadap realita sejarah masa lampau, kini dan yang akan datang.

Kesadaran Hak Dasar Universal

Kesadaran akan hak-hak dasar manusia oleh manusia itu sendiri telah ada sejak zaman sebelum masehi. Zeno, seorang filsuf Yunani kuno (300 SM) misalnya, ia menegaskan bahwa hak-hak asasi manusia itu berasal dari kodratnya sebagai manusia, bukan pemberian dari pemerintah. Orang-orang romawi sebelum masehi pun telah diberi peluang untuk menuntut hak-hak asasi mereka berdasarkan hukum yang berlaku saat itu. Lanjutkan membaca HAM, Negara, dan Nasionalisme

Iklan

Degradasi Nasionalisme Pemuda di Tengah Realitas Bangsa

Oleh: Kepanduan GPI

Reformasi yang digelorakan pada tahun 1998 oleh pemuda dan mahasiswa secara substantive adalah tuntutan perubahan pada struktur system, nilai dan actor baik dalam bidang ekonomi, social, politik, budaya serta pertahanan dan keamanan. Secara teoritis, perubahan tersebut diupayakan supaya tatanan Negara dan masyarakat baru Indonesia akan menjadi lebih bermartabat, demokratis dan sejahtera. Pemuda sebagai pelopor perubahan memerlukan roh dan semangat yang menjadi landasan utamanya. Nasionalisme Indonesia pada hakekatnya adalah roh dan semangat yang menggerakan untuk bangkit melawan penindasan yang sekarang ini menjadi realitas bangsa.

Di Indonesia, nasionalisme yang mendasarkan diri pada nilai-nilai kemanusiaan (perikemanusiaan) yang hakiki dan bersifat asasi. Tujuannya, mengangkat harkat, derajat, dan martabat kemanusiaan setiap bangsa untuk hidup bersama secara adil dan damai tanpa diskriminasi di dalam hubungan-hubungan sosial. Sebenarnya rasa nasionalisme itu sudah dianggap telah muncul manakala suatu bangsa memiliki cita-cita yang sama untuk mendirikan suatu negara kebangsaan. Lanjutkan membaca Degradasi Nasionalisme Pemuda di Tengah Realitas Bangsa

Tumbuhkan Semangat Nasionalisme Untuk Indonesia Jaya

1381455974361173358Oleh: Mabruri Sirampog

Menilik sejarah perjuangan bangsa ini, kita akan bertemu generasi 1900-an yang mempelopori kebangkitan nasional dengan terbentuknya Boedi Oetomo pada tahun 1908 sebagai organisasi yang bisa dikatakan sebagai titik awal terbentuknya organisasi yang bersifat nasional. Dilanjutkan dengan perjuangan generasi 1928 yang berhasil mempelopori persatuan nasional melalui Sumpah Pemuda. Dari dua peristiwa penting itu, maka terwujudlah kemerdekaan pada tahun 1945.

Dua peristiwa besar pada tahun 1908 dan 1928, yang merupakan akar dari semangat perjuangan menuju gerbang kemerdekaan, keduanya muncul karena adanya rasa kebersamaan, semangat persatuan dan kesatuan, tak memandang suku, ras, etnis, semuanya merasa memiliki satu cita-cita yaitu memperjuangkan terwujudnya kemerdekaan Indonesia. Jadi bisa dikatakan bahwa, kemerdekaan yang telah dicapai oleh bangsa ini pada waktu itu, adalah karena semangat persatuan dan kesatuan dari seluruh masyarakat bangsa ini. Dari berbagai macam ras, suku, golongan, etnik, agama, semuanya bersatu, terhimpun dalam satu kekuatan demi tercapainya kemerdekaan bangsa Indonesia. Peristiwa besar tahun 1908, telah melahirkan semangat nasionalisme yang begitu besar. Lanjutkan membaca Tumbuhkan Semangat Nasionalisme Untuk Indonesia Jaya

Bhinneka Tunggal Ika dalam Demokrasi Indonesia

Oleh: kompasiana.com

Perbedaan suku, bahasa, agama, serta budaya, telah terbentuk menjadi satu kesatuan yang utuh (NKRI), yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Keragaman tersebut berdiri tegak dalam lingkaran persamaan, di bawah naungan satu bendera: bendera Merah Putih. Satu lagu kebangsaan: lagu Indonesia Raya. Satu bahasa: Bahasa Indonesia. Satu lambang negara, yakni seekor Garuda yang memiliki azas Pancasila, dan dipadu dengan seuntai kalimat bermakna agung “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai mottonya.

Jika merujuk pada esensi atau inti dari motto “Bhinneka Tunggal Ika” yang hakekatnya mengandung nilai-nilai nasionalisme Lanjutkan membaca Bhinneka Tunggal Ika dalam Demokrasi Indonesia

Revitalisasi Nilai Luhur Pancasila Dalam Kehidupan Nasional

Oleh: Budi Susilo Soepandji

1. Latar Belakang

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang lahir karena kemajemukan dan perbedaan yang dipersatukan oleh kesadaran kolektif untuk hidup sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Perjuangan panjang bangsa untuk bersatu, diwarnai oleh kepahitan dan perjuangan fisik yang panjang dari generasi pendahulu bangsa untuk merdeka. Bukan merupakan hal yang mudah bagi para pendiri negara (founding fathers) menyepakati Pancasila, yang merupakan kristalisasi nilai-nilai luhur bangsa, dan menetapkannya Lanjutkan membaca Revitalisasi Nilai Luhur Pancasila Dalam Kehidupan Nasional

Dawam Rahardjo: FKUB Itu Rekayasa Untuk Lindungi Mayoritas

detail_img

Oleh: http://www.jawaban.com

Menurut cendikiawan Muslim Dawam Rahardjo, pruralisme yang ada saat ini adalah pruralisme rekayasa dari pemerintah. Terlebih keberadaan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) bentukan pemerintah saat ini kurang berdampak bahkan terlihat seperti melindungi kelompok mayoritas.

“Pemerintah sudah merekayasa pluralisme itu dengan membentuk Forum Kerukunan Umat Beragama. Itu rekayasa untuk melindungi mayoritas. Pasti yang menang selalu mayoritas,” demikian ungkap Dawam Rahardjo saat menghadiri diskusi dalam rangkaian Konfrensi Lanjutkan membaca Dawam Rahardjo: FKUB Itu Rekayasa Untuk Lindungi Mayoritas

Membangkitkan Nasionalisme Melalui Industri Kreatif

Oleh: Muhammad Syarif Hidayatullah

Latar Belakang

Industri kreatif menjadi arus baru dalam dunia industri Indonesia. Mengalami pertumbuhan 15% setiap tahunnya, industri kreatif tumbuh pesat selama beberapa tahun terakhir. Perkembangan ini yang menjadi fenomena besar, sehingga pemerintah turun tangan langsung untuk turut mengembangkan industri kreatif Indonesia. Departemen perdagangan RI kini cukup kencang mempromosikan industri kreatif Indonesia. Lanjutkan membaca Membangkitkan Nasionalisme Melalui Industri Kreatif