Tamansiswa Persemaian Kusuma Bangsa

Oleh: Ki Juru Bangunjiwa (www.perwara.com)

SEANDAINYA Ki Hadjar Dewantara masih ‘sugeng’, mungkin beliau akan merombak total sistem pendidikan yang tengah berlangsung di sekolah. Saya yakin Ki Hadjar Dewantoro amat respon terhadap situasi. Orang-orang seperti Ki Hadjar pasti mempunyai semboyan ‘teguh dalam prinsip, luwes dalam pelaksanaan’. Mungkin hal ini bisa menjadi semacam renungan bagi Tamansiswa sendiri.

Ide dasar dari Ki Hadjar memang indah. Jadikanlah sekolah sebagai taman bagi para siswa. Taman tempat mekarnya bunga-bunga bangsa, tempat memupuk semangat dengan lambaran kasih sayang-asih-asah dan asuh.

Tetapi bagaimana impian Ki Hadjar itu bisa terwujud, manakala guru dibebani dengan target-target dan beban yang tidak ringan. Sementara dari rumah persoalan rumahtangga sudah seabrek yang dipikulnya. Instruksi yang diberikannya pun kelihatannya seperti momok. Guru kemudian menimpakan kekesalan tugasnya pada murid. Belum lagi penghargaan terhadap jerih payah guru hanya dihargai dengan sebutan ‘Pahlawan tanpa tanda jasa’yang nota bene tidak bisa menopang kehidupan sehari-hari dengan layak, apalagi harus berpikir mengembangkan bidang keilmuannya. Oleh karena itulah bukan tanpa alasan kalau murid kemudian jadi obyek yang kadang harus dijejali dengan muatan-muatan materi kurikulum. Kadang tidak bisa dibedakan antara anak dan robot yang dituntut untuk menirukan keinginan gurunya. Sementara dari rumah anak sudah disetel demi keinginan orangtuanya. Seusai sekolah harus les, ini, itu atas dorongan orangtuanya agar anaknya menguasai ketrampilan tertentu yang nantinya diharapkan berguna bagi anaknya, dan tentu saja menopang prestise orangtuanya, meskipun anaknya enggan untuk membantah perintah orangtuanya itu.

Yang sedikit memprihatinkan adalah pembinaan mental-spiritual anak, sedikit banyak terabaikan. Yang lebih parah lagi, anak kehilangan taman bermain, kehilangan kesempatan untuk bergembira. Kesekolah ibarat beban hidup yang sebenarnya tak diinginkan oleh anak. Oleh karena itu pelampiasannya pun macam-macam. Ada yang merokok, menegak minuman keras, ngepil, mencari kebebasan di mall dan pasar swalayan yang berkecenderungan bikin onar, tawuran dan masih banyak lain kegiatan negatif lainnya..

Sekolah bukan lagi menjadi tempat yang nyaman bagi anak. Namun situasi ini bukan kesalahan siapa-siapa. Sejarah memang tidak bisa disalahkan. Proses sejarahlah yang memang harus demikian. Namun semua itu harus disadari semua pihak. Sebab faktor pendidikan sekolah ini amat memegang peran penting dalam menumbuhkembangkan anak, baik secara mental-spiritual maupun aspek lain. Kita lihat bagaimana ulah anak ketika mereka lulus dari SMP maupun SMA, mereka melepaskan kegembiraan di jalanan. Seolah mau mengatakan bahwa mereka kini bebas. Padahal mereka masih harus mencari sekolah lanjutan lagi yang bagi orangtuanya bisa jadi bikin pusing tujuh keliling.

Kita berharap banyak agar anak-anak yang lulus sekolah, baik itu sekolah dasar, menengah, atau lanjutan atas langsung ke Masjid atau ke Gereja atau Pura, atau ke mana saja untuk mengucapkan doa syukur. Syukur-syukur kalau ada yang mengucapkan syukur itu dibarengi dengan niatan baik menyumbangkan seragam atau buku-bukunya yang tidak terpakai lagi untuk siswa-siswa lain yang mungkin masih memerlukannya.

Impian Ki Hadjar untuk menjadikan sekolah sebagai taman, memang jauh panggang dari api. Sekolah sebagai tempat yang menarik untuk berrekreasi, berkreasi, memupuk saling setia kawan, saling kasih, saling asah dan saling asuh, saling menghormati, sulit untuk diwujudkan. Sekolah diharapkan menjadi alternatif kesempatan untuk memupuk hobi yang sehat seperti pertanian, perikanan, perkebunan, olahraga, olah pikir, hoby baca dan lain sebagainya yang memacu dan memicu anak untuk berpikir kreatif sambil bercengkerama, memang amat sulit diwujudkan. Masalah ini kiranya bisa menjadi sebuah wacana permenungan bagi Tamansiswa khususnya dan pendidikan umum lainnya pada umumnya.

Untuk itulah sebenarnya Ki Hadjar menurunkan semboyan yang diperas dari sebuah mahakarya Sultan Agung Sastra Gending yakni ‘Ing arsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani’. Teladan-teladan yang pantas dilihat anak masih adakah? Lalu untuk membangun tekad anak masihkah disimak oleh para guru. Pun kalau di belakang, apakah kita semua, khususnya guru masih sabar untuk ‘tutwuri handayani?’.

Sekolahnya boleh tradisional, tetapi cara pikirnya harus global. ‘Think globally, act locally’.

Kita bisa lihat bagaimana Ki Hajar menjabarkan salah satu inti dari ‘Sastra Gending’ dalam bahasa yang gampang. Bisa kita bandingkan atau sejajarkan pemahaman Sastra Gending dengan dimensi psikologi anak yang digarap oleh pakar-pakar manca yang disebut dengan Intelegence quotient (IQ), Emotion Quotient (EQ), Spiritual Quotient (SQ), di Jawa disebut dengan Tata Basa, Tata Rasa dan Tata Brata. Hanya saja pemahaman akan budaya Jawa yang bertujuan ‘Hamemayu hayuning bawana’ sudah dilupakan oleh sebagian masyarakat Jawa khususnya, dan Nusantara pada umumnya.

Tata basa dimaksudkan anak diperkenalkan dengan etika dan tata cara hidup dengan menempatkan diri secara benar. Lewat bahasa ibu, yang sekarang sudah banyak dilalaikan, lantaran digilas pemahaman Sumpah Pemuda yang salah kaprah, anak dibimbing untuk belatih ‘udanegara,unggah-ungguh’ menghormati orangtua, menghormati sesama dan lain sebagainya. Lewat bahasa, anak ditempa untuk memahami siapa dirinya sesungguhnya dan untuk apa ia hidup. Disini dibutuhkan ketrampilan untuk merangkai kata dan tindakan agar pemahaman akan bahasa disertai laku yang selaras.Sumpah Pemuda yang salah satu sumpahnya berbunyi menjunjung tinggi bahasa persatuan Bahasa Indonesia, diganti dengan Berbahasa satu bahasa Indonesia yang menyiratkan kepentingan komersial yakni demi kapitalisme yang berkembang di dunia. Dengan begitu bahasa ibu tidak mendapatkan tempat lagi di hati masyarakatnya.

Kemudian tata-rasa, adalah mengolah rasa, memahami jati diri manusia secara mendalam, bahwa manusia dan lingkungannya itu sesungguh-sungguhnya berasal dari sumber yang sama yakni Allah Yang Maha Esa, untuk apa berselisih, bertengkar. Didalam pemahaman ini mengalir pengertian untuk hidup rukun bergotong royong. Perbedaan yang ada bukan sebagai tantangan, tetapi justru sebagai warna-warni kehidupan. Manusia wajib memberi garisbawah pada warna-warni duniawi ini agar semakin indah dan bermakna bagi kehidupan dunia ini, sehingga makin membuat dunia nyaman untuk hidup.

Kemudian Tata Brata menyiratkan keprihatinan, yang merupakan spirit hidup, semangat hidup yang mendekatkan diri kepada Yang Maha Esa. Bisa jadi didalam hal ini tata brata bisa merupakan sebuah kriteria untuk bertahan dan terus berkarya dalam semangat dasar kehidupan yang sangat kuat. Struggle of live– yang tinggi. Atau perjuangan hidup yang sangat dahsyat. Ketekunan menjadi landasan hidup masyarakat. Melakukan yang biasa secara luar biasa.

Kalau semangat Jawa ini mengedepan kembali dan didukung oleh Taman Siswa, artinya semangat bangsa ini kembali bersinar selaras dengan tembang kebangsaan ciptaan Wage Rudolf Supratman, dengan kata-kata ‘bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya‘, bukan tidak mustahil harapan itu akan terwujud.

Dari sinilah bisa diharapkan munculnya seorang manusia Indonesia yang bebas namun bertanggungjawab. Sebab yang terjadi akibat kebebasan yang terpendam selama beberapa dasa warsa ini membuat kebebasan manusia Indonesia salah arah, bikin kacau, setelah mereka mendapatkan kebebasan. Bahkan tanggungjawabnya dilalaikan.. Boleh dibilang kebebasan yang kebablasan. Setiap orang seolah bebas melakukan apa saja. Bahkan para penjahat, perusak, pembunuh berdarah dingin berkeliaran bebas. Para pembela mereka mendapatkan liputan bebas dari media massa. Sementara itu berita-berita yang menyejukkan malah dicekal, disensor. Self sensorship. Para tycoon media enggan menurunkan berita-berita macam itu karena takut diteror..

Siapa yang memberi julukan mereka itu. Tanpa kita sadari ya kita semua. Sebutan teroris bagi penjahat, perusak dan pembunuh merupakan pengakuan akan keberhasilan mereka menyebarkan terror. Kita seharusnya tidak perlu takut kepada mereka. Kita sadar bahwa pembunuh adalah penjahat, perusak adalah penjahat, koruptor adalah penjahat. Penyebar kebencian adalah penjahat. Namun demikian kita dan anak-anak kitapun perlu sadar bahwa kekerasanan hanya dapat diatasi dengan kelembutan. Penawar kebencian adalah kasih. Seperti halnya najis hanya dapat dibersihkan dengan air bersih. Manusia Indonsia tidak berpihak kepada kebencian dan kejahatan.

Karena kita berharap manusia Indonesia bebas dari kejahatan dan kebencian. Manusia Indonesia bebas merdeka dan berdaulat. Manusia Indonesia tidak pula terbelenggu oleh petuah para budak nafsu rendahan. Walau budak-budak nafsu itu kadangkala berdandan rapi dan berkesan berakhlak beragama dan berpengetahuan.. Manusia Indonesia nantinya harus menolak diperbudak. Diperbudak siapa saja, sekalipun menggunakan dalil agama. Karena ia hanya berhamba kepada Allah , pada kasihNya, pada rahkmatNya, tidak pada penafsir ayat-ayat suci yang sering dipelintir artinya demi kekuasaan dan demi kepentingan pribadi maupun kelompok. Kebebasan hidup manusia inilah yang membuat hidup semakin hidup. Tidak ada kehidupan tanpa kebebasan jiwa dan raga.

Dari pendidikan yang muncul di Taman siswa itulah kita juga bisa berharap akan lahirnya kebersamaan, kesetaraan dan keadilan sosial bagi sesama hidup yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, sebagai petani ia tidak merasa rendah karena pekerjaannya. Ia sadar bahwa tanpa usahanya itu pembangunan negara dan bangsa sungguh tidak berarti. Negara yang masih mengimpor kebutuhan-kebutuhan pokoknya sudah amat jelas berada di ambang kehancuran. Tinggal menunggu diperbudak.

Sebagai pejabat, ia perlu merasa malu bahwa gaji dan tunjangan yang diterimanya dari kas negara hasil pajak yang diambil dari rakyat setiap bulan melebihi tabungan seumur hidup seorang petani.

Sebagai wakil rakyat, ia perlu sadar sesadar-sadarnya bahwa ketidaksadaran dan ketidakpekaan para pejabat negara, termasuk dirinya, menciptakan lahan subur bagi revolusi berdarah bagi masuknya lagi komunisme.

Sebagai pedagang, pengusaha, professional dan industrialis, iapun perlu tahu bahwa kesejahteraan dirinya tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan bagi semua. Ketenangan dan rasa aman yang dirasakan oleh para usahawan dan pedagang serta industrialis itu sungguh semu, selama mereka-mereka yang tinggal di tempat-tempat kumuh masih tidur dengan perut kosong.

Para alim ulama, rohaniwan dan agamawan tidak lagi berpihak pada kekuasaan hanya untuk mempertahankan kedudukan dan status sosial mereka.

Para seniman, ilmuwan dan budayawan tidak melacurkan pengetahuan mereka, tidak menjual seni mereka, tidak menggadaikan budaya asal mereka, demi kepingan emas.

Dunia pendidikan kita tidak hendak menciptakan kelompok-kelompok eksklusif dan tidak menjadi bagian darinya – karena ia sadar bahwa eksklusivitas berlawanan dengan budayanya, bertentangan dengan ruh bangsanya, bertentangan dan semangat di balik kemerdekaaan rakyat dan pendirian negara Indonesia.

(Ki Juru Bangunjiwa)

 

Ki Juru Bangunjiwa, mantan Guru SKKA-Taman Ibu, penulis buku, pemerhati budaya, Tinggal di Bangun Jiwo Kasihan Bantul.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s