6 Pesawat Terbang Buatan Indonesia yang Mendunia

https://i0.wp.com/jadiberita.com/wp-content/uploads/2015/05/5-pesawat-buatan-indonesia.jpgOleh: Admin

Selain bus dan taksi, pesawat terbang juga menjadi alat transportasi yang selalu digunakan banyak orang untuk berpergian ke suatu tempat.

Di zaman modern seperti sekarang, pesawat terbang sudah dirancang dengan model dan teknologi canggih. Belum lagi fasilitasnya yang memuaskan para penumpang. Hal inilah yang menjadikan pesawat terbang semakin digemari oleh publik,

Pesawat terbang adalah elemen terpenting transportasi saat ini. Efisiensinya dalam hal waktu adalah alasan banyak orang menggunakan pesawat terbang untuk bepergian, apalagi ke tempat-tempat berjarak jauh. Misalnya, waktu perjalanan haji dari Indonesia ke kota suci Mekah yang dahulu berbulan-bulan lamanya kini hanya ditempuh dalam hitungan jam saja dengan menggunakan pesawat.

Selain efisiensi waktu, ada manfaat lain yang dapat diambil dari keberadaan pesawat terbang. Misalnya adalah keberadaan pesawat sebagai solusi atas konektivitas tempat-tempat yang sulit dijangkau melalui medan darat. Pun pesawat memiliki manfaat pada sektor pariwisata, ditandai dengan menjamurnya maskapai penerbangan berbiaya rendah yang sangat cocok digunakan oleh para backpacker.

Hal-hal di atas membuat keberadaan industri pesawat pada suatu negara bersifat penting. Selain merupakan bagian dari kemandirian ekonomi, kehadiran industri pesawat tentu akan menghasilkan pesawat-pesawat yang menandakan tingkat kemajuan teknologi dirgantara suatu bangsa.

Untuk hal ini, Indonesia telah merintisnya melalui industri bernama Industri Pesawat Terbang Nurtanio, yang kemudian berubah nama menjadi Industri Pesawat Terbang Negara, lalu mengalami perubahan nama menjadi PT. Dirgantara Nasional.

Berbicara soal pesawat, ternyata Indonesia pernah membuat pesawat terbang yang mengantarkan alat transportasi massal itu mendunia lho. Inilah 6 pesawat terbang buatan Indonesia yang mendunia.

Pesawat N-2130 (beritamaya)1. Pesawat N-2130

N-2130 termasuk salah satu pesawat terbang buatan Indonesia yang mendunia. Transportasi massal ini hendak dikembangkan PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada masa jaya perusahaan tersebut di pertengahan 1990-an. Pengembangan N-2130 ini terinspirasi dari pesawat yang dikembangkan perusahaan pesawat terbang Brasil, Embraer. Sayang, pesawat harus terkubur oleh krisis moneter 1998.

Pada 10 November 1995, bertepatan dengan penerbangan perdana N-250, Presiden Soeharto mengumumkan proyek pengembangan N-2130. Soeharto mengajak rakyat Indonesia untuk menjadikan proyek N-2130 sebagai proyek nasional. N-2130 yang diperkirakan akan menelan dana dua miliar dollar AS itu, tandasnya, akan dibuat secara gotong-royong melalui penjualan dua juta lembar saham dengan harga pecahan 1.000 dollar AS. Untuk itu, dibentuklah perusahaan PT. Dua Satu Tiga Puluh (PT. DSTP) untuk melaksanakan proyek besar ini.

Saat badai krisis moneter 1997 menerpa Indonesia, PT. DSTP, Tbk. yang telah terdaftar di Bapepam turut terkena dampaknya. Akibat ketidakstabilan politik dan persyaratan dari IMF yang memberhentikan semua fasilitas dan pendanaan untuk PT. IPTN, mayoritas pemegang saham PT. DSTP melalui RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) 15 Desember 1998 meminta PT. DSTP Tbk untuk melikuidasi asetnya.

Untuk preliminary design pesawat ini, IPTN telah mengeluarkan tenaga, pikiran, dan uang yang tak kecil. Dana yang telah dikeluarkan ialah lebih dari 70 juta dollar AS yang, sesuai keputusan RUPSLB, selanjutnya dianggap sunk-ost.

Seluruh kekayaan perseroan selanjutnya diaudit kemudian hasilnya disampaikan kepada Bapepam tanggal 22 April 1999 dan diumumkan lewat media massa. Pembayaran hasil likuidasi kepada para pemegang sahamnya sendiri kemudian dilakukan bertahap mulai 9 Agustus hingga 15 Oktober 1999. Dari hasil pengembalian dana tersebut, diperkirakan masing-masing pemegang saham mendapatkan “capital gain” lebih dari 30% dari modal yang telah ditanamkan.

N-2130 dipertimbangkan untuk dapat mengangkut 80, 100 atau 130 penumpang. Pesawat ini pun dilengkapi dengan teknologi canggih advanced fly-by-wire system. Teknologi ini termasuk yang paling mutakhir kala itu. Bila tak terkena krisis ekonomi dan sukses mengudara, N-2130 barangkali akan menjadi pesawat terbaik di kelasnya sekaligus ‘membusungkan dada’ bangsa Indonesia.

Pesawat N-2502. Pesawat N-250

Selanjutnya ada N-250 yang menjadi pesawat asal Indonesia yang mendunia. Terbukti, pesawat ini sempat mengudara menuju Le Bourget Perancis untuk mengikuti Paris Air Show. N-250 adalah pesawat yang menggunakan teknologi fly by wire yang pertama dikelasnya. N-250 adalah pesawat regional komuter turboprop yang dibuat oleh IPTN atau PT. DI sekarang. Pesawat yang memuat kapasitas 50 orang ini diberi nama gatotkoco (Gatotkaca).

Pesawat N-250 adalah pesawat penumpang sipil regional komuter turboprop rancangan asli IPTN. Menggunakan kode N yang berarti Nusantara menunjukkan bahwa desain, produksi dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia atau bahkan Nurtanio, yang merupakan pendiri dan perintis industri penerbangan di Indonesia.

Pesawat ini merupakan primadona IPTN dalam usaha merebut pasar di kelas 50-70 penumpang dengan keunggulan yang dimiliki di kelasnya (saat diluncurkan pada tahun 1995). Menjadi bintang pameran pada saat Indonesian Air Show 1996 di Cengkareng. Namun akhirnya pesawat ini dihentikan produksinya setelah krisis ekonomi 1997.

Rencananya program N-250 akan dibangun kembali oleh B.J. Habibie setelah mendapatkan persetujuan dari presiden Indonesia kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono. Namun untuk mengurangi biaya produksi dan meningkatkan daya saing harga di pasar internasional, beberapa performa yang dimilikinya dikurangi seperti penurunan kapasitas mesin dan rencana dihilangkannya sistem flyby wire.

Pertimbangan B.J. Habibie untuk memproduksi pesawat itu (sekalipun sekarang dia bukan direktur PT. DI) adalah diantaranya karena salah satu pesawat level sejenis, Fokker F-50, sudah tidak lagi diproduksi sejak keluaran perdananya pada 1985. Hal ini disebabkan oleh kebangkrutan Fokker Aviation di Belanda pada tahun 1996.

Pesawat yang memuat kapasitas 50 orang ini memiliki dua varian purnarupa. Varian pertama adalah PA-1 dengan sandi Gatotkaca. Memuat 50 penumpang, Gatotkaca terbang perdana selama 55 menit pada tanggal 10 Agustus 1995. Sementara itu, varian kedua adalah PA-2 dengan sandi Krincing Wesi (N250-100). Mampu membuat lebih banyak penumpang, 68 orang, Krincing Wesi terbang perdana pada tanggal 19 Desember 1996.

https://i0.wp.com/jadiberita.com/wp-content/uploads/2015/05/CN-235MPA-Defense-Studies.jpg3. Pesawat CN-235

Di urutan ketiga, nama CN-235 ikut menjadi pesawat karya anak bangsa yang mendunia. Pesawat ini dirancang oleh CASA di Spanyol and IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia). CN-235 adalah sebuah pesawat angkut turboprop kelas menengah bermesin dua. Rupanya, versi militer CN 235 banyak diminati dan diekspor ke negara lain seperti Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Emirat, dan Arab Saudi. CN-235 dijadikan sebagai pesawat terbang regional dan angkut militer.

CN-235 adalah sebuah pesawat penumpang sipil angkut turboprop (baling-baling) kelas menengah bermesin dua. Kode CN pada CN-235 berasal dari CASA (industri dirgantara Spanyol) dan Nusantara/Nurtanio (Industri Pesawat Terbang Negara/Nurtanio).

Pesawat bermesin turboprop ini dirancang bersama antara IPTN Indonesia dan CASA Spanyol. Pesawat ini diberi nama sandi Tetuka dan saat ini menjadi pesawat dengan permintaan tertinggi di kelasnya.

Kerja sama kedua negara dimulai sejak tahun 1980 dan purwarupa milik Spanyol pertama kali terbang pada tanggal 11 November 1983, sedangkan purwarupa milik Indonesia terbang pertama kali pada tanggal 30 Desember 1983. Produksi di kedua negara di mulai pada tanggal Desember 1986. Varian pertama adalah CN-235 Series 10 dan varian peningkatan CN-235 Seri 100/110 yang menggunakan dua mesin General Electric CT7-9C berdaya 1750 shp bukan jenis CT7-7A berdaya 1700 shp pada model sebelumnya.

Tercatat ada sekitar 21 pengguna CN-235 oleh pihak militer, termasuk TNI AU.

https://i1.wp.com/jadiberita.com/wp-content/uploads/2015/05/pesawat-n219.jpg4. Pesawat N-219

Layaknya CN-235, pesawat N-219 pun mencatatkan dirinya sebagai pesawat buatan Indonesia yang mendunia. Ini merupakan pesawat generasi baru yang dibuat oleh Dirgantara Indonesia. Pesawat ini dirancang sesuai dengan kondisi geografis Indonesia. Hebatnya, pesawat ini dapat mendarat di landasan yang pendek di wilayah terpencil dengan lahan terbatas. Rencananya, N-219 akan dipasarkan ke negara lain seperti negara-negara di Afrika.

N-219 dikembangkan dari CASA C-212 Aviocar. Desain konstruksinya terbuat dari bahan metal. N-219 diklaim sebagai pesawat dengan volume kabin terbesar di kelasnya (6.50 x 1.82 x 1.70 m). Selain itu,N-219 juga memiliki sistem pintu fleksibel yang memungkinkan pelaksanaan berbagai jenis misi pengangkutan penumpang dan barang (kargo).

Pesawat ini dirancang untuk memenuhi standar FAR 23 (standar pesawat kategori komuter) dan akan disertifikasi pada tahun 2016, dengan pengiriman pertama dijadwalkan untuk 2017. Anggaran pembangunan N-219 diperkirakan adalah sekitar 30 juta dolar Amerika untuk 15 unit pesawat.

Total permintaan untuk N-219 ini diperkirakan sebanyak 97 pesawat sipil dan 57 pesawat militer. Pada Agustus 2013, perusahaan mengumumkan bahwa mereka telah memperoleh pesanan untuk 100 pesawat dari Lion Air untuk pengiriman pada tahun 2016. Selain itu, terjalin pula kesepakatan pembelian dengan Nusantara Buana Air, Aviastar Mandiri, dan Trigana Air Service.

https://i0.wp.com/jadiberita.com/wp-content/uploads/2015/05/Pesawat_NC-212_-_iniunik.web_.id_.jpg5. Pesawat NC-212

Pesawat buatan anak bangsa yang mendunia ialah NC-212. Ini adalah pesawat yang diproduksi Indonesia di bawah lisensi oleh PT. Dirgantara Indonesia. NC 212 ini umumnya digunakan dalam operasional hujan buatan. Pesawat ini dilengkapi dengan Weather Radar (Radar Cuaca) dan Global Positioning System (GPS).

NC-212 memiliki desain sayap tinggi, badan kotak, dan ekor konvensional. Dapat menampung 21-28 penumpang, tergantung pada konfigurasi. Karena kabin NC-212 tidak bertekanan, penggunaannya terbatas pada tingkat rendah (di bawah 10.000 kaki (3.000 m) MSL) yang berarti pesawat ini cocok untuk layanan penerbangan regional.

https://belanegarari.files.wordpress.com/2015/12/b9ed8-r80_toraslubis.jpg?w=151&h=856. R-80

Dan pesawat yang terakhir adalah R-80 merupakan pesawat terbang yang digadang-gadang akan mampu menjawab permintaan kebutuhan transportasi udara jarak pendek masa depan. Dukungan pemerintah terhadap pengembangan pesawat R-80 membawa semangat bagi Indonesia untuk memiliki pesawat terbang buatan sendiri. Saat ini, pesawat R-80 ini masih dalam tahap desain awal.

“Kita masih dalam tahap desain awal. Desain awal di sini maksudnya adalah kita belum memilih komponen-komponen utama yakni seperti mesin dan sistem pengendalian pesawatnya. Kita belum sampai situ,” ungkap Komisaris PT.Regio Aviasi Industri (RAI), Ilham Habibie, akhir Juli lalu, sebagaimana dikutip dari Merdeka.com.

Kendati begitu, Ilham berharap di pertengahan tahun depan, hal itu sudah tuntas semua sehingga bisa melanjutkan ke pembuatan purwarupanya.

“Jadi, prototype selesai tahun 2019. Soalnya ini masih lama dari segi desain awalnya,” ujarnya.

Pesawat R-80 yang sedang dalam pengembangan ini, akan menggunakan tiga alternatif mesin yaitu Rolls Royce, Pratt & Whitney, dan General Electric. Sayangnya, Ilham tak menyebutkan yang mana dari ketiga produsen mesin pesawat itu yang akan cenderung dipilih oleh pihaknya.

Pesawat R-80 ini akan menjadi kompetitor pesawat ATR. Bedanya, R-80 diklaim akan lebih unggul 10 persen dari ATR dari sisi kapasitas penumpangnya.

“Kita akan lebih besar dari ATR. Pesawat R-80 itu menjawab permintaan pasar di masa mendatang. Pasalnya, di masa mendatang akan banyak penumpang yang menggunakan transportasi pesawat untuk jarak pendek. Kalau ATR 72 penumpang, kita bisa lebih. Nah, kami menjadi solusinya nantinya,” ungkapnya. Merujuk pada serinya, R-80 memang didesain untuk memuat kapasitas 80 orang.

Untuk calon pembelinya, sudah ada beberapa nama maskapai penerbangan di antaranya Nam Air, Sky Aviation, Wings Air, Kalstar.

 

Sumber dari: Zulfian Prasetyo & JadiBerita.Com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s