Kesejahteraan Berbasis Budi Pekerti Luhur

Stairway IllustrationOleh: Budi Susilo Soepandji, Guru Besar Universitas Indonesia bekerja di Lemhannas RI

Dengan semangat memerdekakan bangsa ini, sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, para pendiri Republik ini telah menetapkan tujuan bernegara bangsa Indonesia yang salah satunya ialah memajukan kesejahteraan umum. Terkait dengan hal itu, pilihan atas kebijakan, sistem, dan pengelolaan perekonomian nasional merupakan kunci keberhasilan bagi tercapainya tujuan tersebut. Oleh karenanya, peranan dan kemampuan pemerintah menjadi hal yang sangat penting dan mendasar dalam menjaga perekonomian makro agar tetap memfasilitasi perekonomian sektor riil sebagai tulang punggung dari perekonomian nasional.

Dewasa ini, Indonesia dihadapkan pada berbagai tantangan lingkungan strategis pada tataran global, regional, ataupun nasional yang memengaruhi pengelolaan perekonomian nasional secara makro ataupun mikro. Pada level global, sektor riil Indonesia dihadapkan pada krisis finansial dunia yang belum sepenuhnya pulih, yang beberapa di antaranya ditandai dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat. Sementara itu, pada level kawasan, Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan diberlakukan awal 2016, selain memberikan peluang, membawa tantangan besar bagi sektor riil di Indonesia. Padahal, daya saing sektor riil Indonesia di tingkat nasional, kawasan, dan global merupakan titik kunci yang akan menentukan peluang keberhasilan dalam berkompetisi dengan bangsa lain demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia.

Budi pekerti
Dalam konteks pengembangan sektor riil, kualitas manusia Indonesia merupakan komponen utama bagi kesejahteraan yang kukuh. Hal itu sejalan dengan paradigma ekonomi dunia yang telah memasuki era knowledge economy sebagaimana disebutkan Peter Drucker dalam bukunya yang berjudul The Age of Discontinuity (2000). Knowledge economy mendorong kemampuan kita dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin penting, utamanya dalam memaksimalkan peran dan manfaat komposisi demografi Indonesia, posisi geografis, serta sumber kekayaan alam bagi kesejahteraan nasional. Dengan demikian, berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas manusia dalam menyokong daya saing perekonomian nasional menjadi kebutuhan dan wajib dikembangkan.

Realitasnya, persoalan kualitas manusia bukan hanya soal membangun kemampuan akademis dan profesional semata. Yang jauh lebih penting yaitu membangun fondasi manusia yang berbudi pekerti luhur sebagai elemen pokok kesejahteraan jangka panjang suatu bangsa. Bung Karno pada 31 Maret 1953 menyatakan, “Hanya bangsa yang tinggi budinya dapat mengerti apa yang sebenarnya dimaksud dengan kemerdekaan. Kemerdekaan dapat dicapai sembarang bangsa. Akan tetapi, kemerdekaan sejati hanyalah hasil daripada budi pekerti yang luhur. Sejarah telah menunjukkan jatuhnya negara-negara besar, oleh karena budi pekertinya tidak luhur.”

Ada dua peristiwa sejarah yang membuktikan ungkapan Bung Karno. Pertama, kisah industri baja Jerman yang pada akhir abad ke-19 berhasil menjadi produsen baja terbesar di Eropa (Webb, 1980). Kejayaan industri baja Jerman dimotori perusahaan keluarga yang bernama Krupp AG. Harold James, dalam Krupp: A History of the Legendary German Firm (2012), menjelaskan rahasia kesuksesan Krupp AG ialah kerja keras, konsistensi, dan inovasi. Selama 25 tahun awal berdirinya, Krupp AG tidak mencari keuntungan demi menemukan cara produksi kualitas terbaik (2012: 178). Setelah menjadi raksasa, tanpa pedoman budi pekerti luhur yang kukuh, Krupp AG kemudian terjebak program gleichschaltung-nya Partai Nazi dalam pembuatan alat utama sistem senjata Jerman dengan memanfaatkan tawanan perang sebagai tenaga pekerja paksa (2012: 225). Seusai Perang Dunia II, bersamaan dengan kehancuran Nazi Jerman, pemilik Krupp AG diadili di Nuremberg oleh sekutu (2012: 223).

Contoh kedua ialah realitas Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Bernard HM Vlekke dalam bukunya, Nusantara (Sejarah Indonesia), menguraikan ekonomi Hindia Belanda yang sangat maju sehingga dalam 10 tahun setelah 1914 ekspor Hindia Belanda ke Amerika Serikat meningkat tujuh kali lipat (2008: 383). Catatan sejarah menunjukkan peningkatan persentase ekspor itu tidak berpengaruh positif terhadap kesejahteraan bangsa Indonesia sebagai rakyat jajahan. Hal itu disebabkan susunan dan pengembangan kesejahteraan Hindia Belanda berbasis penindasan manusia atas manusia. Pada akhirnya, kejayaan Hindia Belanda hancur lebur dihempas perubahan geopolitik karena kerapuhan sistem kolonial yang penuh dengan angkara murka dan keserakahan sehingga tidak mampu menjawab tantangan sejarah terutama dari perlawanan bangsa Indonesia yang telah bangun jiwanya.

Dalam perspektif pembangunan bangsa, kedua contoh di atas dapat dijadikan renungan bahwa susunan dan kemajuan kesejahteraan umum sangat berkaitan erat dengan tujuan negara Indonesia yang berikutnya, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian, wajib hukumnya bahwa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, budi pekerti luhur harus ditanamkan dan diarahkan sejak dini mulai dari rumah, sekolah, dan lingkungan masyarakat terkecil. Hal-hal sederhana perlu dilatih secara bertahap dan berlanjut sebagai awalan penting dan mendasar seperti tepat waktu, hidup sederhana, tertib dalam antrean, tidak serakah dan kesediaan untuk melayani kepentingan umum. Apabila budi pekerti luhur telah hidup, bangsa ini dalam mengejar ilmu, pengetahuan, dan teknologi tidak akan mudah hanyut dalam dinamika dan pergolakan sejarah.

Kepercayaan dan kesejahteraan
Kegiatan ekonomi memiliki dasar yang universal, yaitu kepercayaan (trust). Kepercayaan ialah roh yang menghidupi masyarakat. Hanya dengan meresapi hidupnya dengan kepercayaan yang benar, bangsa Indonesia bisa memiliki kesejahteraan yang benar. Kepercayaan yang benar pada hakikatnya ialah penyerahan utuh pada kekuasaan Tuhan. Dengan demikian, penting bagi kita untuk mengingat pesan Bung Karno di IAIN Jakarta pada 2 Desember 1964 bahwa, “Negara yang tidak menyembah Tuhan, akhirnya celaka, lenyap dari muka bumi.”

Sebagai bangsa yang tetap bulat kepercayaannya kepada Tuhan dan utusan-Nya, tentunya kita selalu sadar bahwa kesejahteraan nasional merupakan tanggung jawab yang wajib sungguh-sungguh kita upayakan secara bersama-sama. Pelaku-pelaku ekonomi riil perlu diikutsertakan dalam kegiatan pendidikan, kajian strategis, serta pemantapan nilai-nilai kebangsaan yang diselenggarakan Lemhannas RI. Hal itu bertujuan agar susunan dan kemajuan kesejahteraan bangsa dalam bingkai kemerdekaan sejati selalu berpijak pada dasar kepercayaan yang benar, budi pekerti yang luhur, serta memiliki karakter kebangsaan yang kuat sehingga bangsa ini dapat kukuh menjadi teladan di tengah pergaulan antarbangsa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s