Militansi dan Intelektualitas dalam Pandangan Generasi Muda

Oleh: Aloysius Selwas Taborat, S.H., dan Tim Perumus dari Forum Diskusi Nasionalis Muda

Disampaikan pada seminar sehari, “Militansi dan Intelektualisasi Sumber Daya Manusia Pertahanan Negara”, pada tanggal 4 November 2010, bertempat di Kementrian Pertahanan Republik Indonesia, Jakarta.

A. Pendahuluan

Sikap militansi dan intelektual yang dijembatani oleh sistem pendidikan yang terintegrasi serta terarah dengan berlandaskan semangat Pancasila, Undang Undang Dasar Tahun 1945 (“UUD 1945”), dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (“NKRI”), merupakan sikap-sikap yang dibutuhkan untuk memaknai dan menghadapi peluang maupun ancaman yang muncul dari dinamika lingkungan nasional, dinamika pergeseran kekuatan dunia, dan globalisasi ekonomi.

Narendra Singh Sarila mencatat, bahwa salah satu alasan berpisahnya Pakistan dari India pada tahun 1947adalah karena ketidakmampuan pemimpin nasional India untuk mengejawantahkan dan menyesuaikan ide persatuan India dengan kenyataan dalam masyarakat (jati diri bangsa), dan juga karena tidak berpengalamannya para pemimpin tersebut untuk membaca situasi politik internasional yang sedang berlangsung (dinamika pergeseran kekuatan dunia).[1]

Peristiwa tersebut menjadi salah satu hal yang dapat memberikan pelajaran kepada bangsa Indonesia, bahwa pemahaman terhadap jati bangsa yang diseimbangkan dengan kemampuan untuk memaknai dan menghadapi situasi perubahan dunia yang semakin intensif, merupakan simpul yang utama bagi jiwa, semangat, dan daya juang yang tinggi (militansi), dan sikap cerdas (intelektual) dalam membela dan mempertahankan negara.

B. Arti penting sikap militansi dan intelektual

Pemahaman terhadap jati diri bangsa sebagai landasan dari jiwa, semangat, dan daya juang yang tinggi dalam membela dan mempertahankan negara merupakan hal yang sangat penting. Pentingnya hal tersebut pernah ditekankan oleh Bung. Karno dengan menyatakan,

“Seseorang bertanya kepada Konfucius mengenai hal-hal apa saja yang membuat negara dan bangsa dapat menjadi kuat. Konfusius kemudian menjawab, bahwa terdapat tiga pilar agar bangsa dan negara menjadi kuat. Pertama, tentara yang kuat, kedua, makanan dan pakaian rakyat yang cukup, dan ketiga, kepercayaan di dalam kalbunya rakyat itu. Seseorang itupun kemudian kembali bertanya mengenai hal-hal apa saja dari ketiga hal tersebut yang dapat ditinggalkan jika negara dan bangsa dalam situasi sulit. Konfusius-pun menjawab, bahwa dua syarat pertama dapat ditinggalkan, tetapi syarat ketiga tidak bisa ditinggalkan. Syarat yang ketiga, yaitu geloof, tidak dapat ditinggalkan. A nation without faith can not stand. Bangsa yang tidak mempunyai geloof, bangsa yang tidak mempunyai kepercayaan, tidak mempunyai belief, bangsa itu tidak bisa berdiri. Maka bangsa Indonesia-pun harus mempunyai belief, mempunyai geloof, mempunyai kepercayaan. Dan geloof bangsa Indonesia harus larger than the nation itself. Lebih luas daripada bangsa Indonesia sendiri, berupa Pancasila, saudara-saudara. Pancasila merupakan pengutamaan daripada rasa kebangsaan. Keinginan daripada bangsa Indonesia untuk menjadi negara yang kuat, bangsa yang kuat, mengadakan satu masyarakat yang adil dan makmur.”[2]

Dengan demikian, jiwa, semangat, dan daya juang yang tinggi dalam membela dan mempertahankan negara harus bertumpu pada Pancasila, UUD 1945, dan NKRI.

Sikap militan, namun tidak didukung oleh sikap intelektual akan menjadi sikap yang membabi buta. Artinya, diperlukan suatu kecerdasan untuk memaknai dan menghadapi dinamika lingkungan nasional, dinamika pergeseran kekuatan dunia, dan globalisasi ekonomi yang saat ini sedang (dan terus) berlangsung. Hal ini diperlukan untuk dapat memaknai dan menghadapi peluang maupun ancaman yang muncul dari ketiga hal tersebut.

Interaksi yang tercipta dari dinamika lingkungan nasional, dinamika pergeseran kekuatan dunia, dan globalisasi ekonomi menunjukkan adanya interaksi dalam fora hubungan internasional. Interaksi dalam fora hubungan internasional menunjukkan fenomena saling ketergantungan dan keterkaitan antar negara.[3] Fenomena tersebut diakibatkan oleh globalisasi yang dampaknya tidak dapat dielakkan oleh negara manapun di dunia.[4] Globalisasi telah membawa berbagai peluang besar bagi kemajuan bangsa, namun juga tidak dipungkiri berpotensi membawa dampak yang merugikan pada negara-negara yang kurang mampu memanfaatkan kesempatan yang tersedia.[5] Oleh karenanya, penting untuk memaknai ‘peringatan’ yang disampaikan oleh Fareed Zakaria bahwa,

“the emerging international system is likely to be quite different from those that have preceded it. One hundred years ago, there was a multipolar order run by a collection of European governments, with constantly shifting alliances, rivalries, miscalculations, and wars. Then came the bipolar duopoly of the Cold War, more stable in many ways, but with the superpowers reacting and overreacting to each other’s every move. Since 1991, we have lived under an American imperium, a unique, expanded and accelerated dramatically. This expansion is now driving the next change in the nature of the international order.”[6]

Dituntut suatu kecerdasan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi serta memanfaatkan dinamika pergeseran kekuatan dunia, dinamika lingkungan nasional, dan globalisasi ekonomi. Kecerdasan dalam mempertahankan dan membela negara menuntut adanya inovasi dari segenap komponen bangsa. Inovasi tidak hanya berimajinasi, atau berkhayal belaka. Inovasi berarti menggali sumber-sumber baru bagi nilai-nilai yang sudah ada (to find new source of value).[7]

Sikap intelektual sebagai “to find new source of value” dalam konteks membela dan mempertahankan negara Republik Indonesia, dapat diejawantahkan sebagai suatu usaha-usaha untuk menggali sumber-sumber baru bagi Pancasila. Pancasila sebagai value, source-nya yang harus terus ‘digali’. Usaha-usaha untuk menggali sumber-sumber baru bagi Pancasila tidak lain merupakan suatu usaha-usaha untuk menggali sumber kekuatan dan potensi bangsa Indonesia. Dalam konteks tersebut, penting untuk mengingat kembali pernyataan dari Bung. Karno bahwa,

“sumber kekuatan kita bukan hanya kekayaan alam yang berlimpah-limpah di tanah-air kita ini. Sumber kekuatan kita bukan hanya jumlah rakyat kita yang berpuluh-puluh juta. Sumber kekuatan kita bukan hanya letak geografis negeri kita yang strategis diantara dua benua dan dua samudera. Sumber kekuatan kita bukan hanya ilmu teknik yang sedang kita tumbuhkan. Sumber kekuatan kita adalah di dalam semangat dan jiwa bangsa. Sumber kekuatan kita tertimbun dalam sejarah perjuangan bangsa, dalam semangat Proklamasi, bahkan juga dalam sejarah nasional yang kita warisi dari nenek moyang yang telah mangkat. Segala kebijaksanaan yang ditinggalkan oleh sejarah, segala tekad, segala semangat yang menjadi api-pembakar perjuangan kita yang telah lampau, ini semua harus dijadikan tulang-punggung daripada kepribadian nasional!”[8]

Menggali sejarah bangsa sebagai sumber kekuatan baru bagi Pancasila tidak berarti bernostalgia terhadap apa yang telah terjadi di masa lalu. Menggali sejarah bangsa berarti menelusuri sejarah bangsa untuk memperkuat pemahaman terhadap jati diri bangsa dan negara Indonesia untuk memaknai dan menghadapi situasi dan kondisi pada masa kini.

Hal yang senada dengan apa yang disampaikan oleh Bung. Karno juga disampaikan oleh A. R. Soehoed, mantan Ketua Otorita Asahan, dan Menteri Perindustrian Republik Indonesia (“RI”) pada Kabinet Pembangunan III, yaitu,

“ … akan tetapi masa yang lalu adalah pengalaman yang banyak kali mengandung pelajaran bagi masa-masa mendatang bila kita pandai-pandai memilahnya, pandai menafsirnya dan menarik pelajaran dari pengalaman itu, termasuk pengalaman yang kurang sedap dan kekhilafan sekalipun … kita teliti kekuatan dan kelemahan kita sendiri dan kita gali pengalaman-pengalaman kita sendiri untuk mencari kekuatan dan menyusun landasan baru bagi kita sebagai bangsa, yang disusun atas kekuatan diri kita di bumi kita sendiri. Sehingga terwujud suatu kemantapan untuk menetapkan dan memilih apa yang kita perlukan. Hal ini memerlukan kekuatan lahir dan batin, suatu dasar nasionalisme dan rasa harga diri yang kuat.”[9]

Diperlukan suatu sikap untuk tidak cepat puas (complacent) dan mau melihat berbagai sisi sebelum memutuskan mengenai bagaimana cara memaknai dan menghadapi suatu masalah. Hal ini dapat terlihat dari kata-kata yang pernah disampaikan oleh Mao Tse-Tung, mantan Presiden Republik Rakyat Cina,

“Only those who are subjective, onesided and superficial in their approach to problems will smugly issue orders or directives the moment they arrive on the scene, without viewing things in their totality (their history and their present state as a whole) and without getting to the essence of things (their nature and the internal relations between one thing and another). Such people are bound to trip and fall.”[10]

Dalam konteks demikian, terdapat beberapa peristiwa dan fakta-fakta yang terjadi dalam sejarah bangsa dan negara Indonesia yang ‘luput’ dari perhatian publik. Peristiwa-peristiwa dan fakta-fakta tersebut dapat dimaknai untuk memperkuat pemahaman akan jati diri bangsa dan negara Indonesia, dengan tujuan untuk mencari kekuatan dan menyusun landasan baru bangsa Indonesia dalam menjawab peluang serta ancaman yang terjadi pada masa kini. Berikut adalah peristiwa-peristiwa dan fakta-fakta tersebut:

1. Republik Fang Lan di Pontianak (1776-1884)

Lee Khoon Choy, mantan Menteri Luar Negeri Singapura dan Duta Besar Singapura untuk Indonesia, menyatakan bahwa di tanah air Indonesia, yaitu di Pontianak, pernah berdiri suatu republik yang bernama Republik Fang Lan.[11]

Republik ini didirikan oleh seseorang yang bernama Loh Fang Ber. Loh Fang Ber merupakan pendukung Dinasti Ming di Cina yang segera setelah Dinasti Ming jatuh, melarikan diri ke Borneo (Kalimantan) bersama dengan para pendukung Dinasti Ming lainnya.[12] Pada tahun 1776 Loh Fang Ber mendirikan dan menjadi presiden pertama dari Republik Fang Lan selama 19 tahun sampai dengan tahun 1795.[13] Tercatat, bahwa Republik Fang Lan memiliki bendera nasional dan bahasa nasionalnya sendiri.[14] Sebagai presiden pertama, Loh kemudian menunjuk seseorang yang bernama Wu Yuan Seng sebagai Jendral Militernya, hal mana yang menunjukkan kemungkinan besar Republik Fang Lan telah memiliki angkatan bersenjata.[15]

Tercatat pula bahwa republik ini lebih demokratis dari pada Dinasti Ming, memiliki sistem hukum, pengadilan-pengadilan, polisi, pelayan masyarakat. Kesemua hal ini untuk menunjang eksplorasi tambang emas yang ada di Pontianak.[16] Para pemuda direkrut untuk membela negara berdasarkan kesukarelaan.[17] Lee Khoon Choy menyatakan, “It was perhaps the first and only republic established by Chinese outside China”.[18]

Republik Fang Lan hanya bertahan selama 108 tahun yaitu sampai tahun 1884, dan berhasil memiliki 12 presiden selama kurun waktu tersebut. Hancurnya Republik Fang Lan diakibatkan karena krisis kepemimpinan. Ketika Belanda datang ke Indonesia, mereka mencoba untuk melemahkan Republik Fang Lan dengan cara menyuap pejabat Republik Fang Lan.[19] Untuk menghormati jasa-jasa dari Loh Fang Ber, masyarakat Pontianak mendirikan Kuil Dewa Laut. Setiap tahun, kuil ini didatangi oleh masyarakat setempat untuk berdoa.

2. Pengaruh Gamelan Jawa terhadap komposisi musik Claude Debussy (1889)

Claude Debussy adalah komponis Perancis dan figur utama dalam musik impresionis. Pada tahun 1889 dalam rangka memperingati seabad revolusi Perancis, Perancis menggelar suatu pekan raya dan juga sekaligus peresmian Menara Eiffel.[20]

Pada acara tersebut, Claude Debussy memperkenalkan Gamelan Jawa kepada masyarakat Perancis.[21] Kesukaan Debussy terhadap Gamelan Jawa tidak hanya disebabkan oleh kualitas suara namun juga oleh kompleksitas komposisi Gamelan gending Jawa yang selalu mematuhi alur panjang.[22] Debussy bahkan menyatakan,

“Jika anda mendegar alunan gending Jawa dengan telinga Eropa yang normal, anda harus mengakui bahwa musik kita tidak lebih daripada sekadar bunyi-bunyi dasar dari sirkus keliling. Selain itu, musisi Jawa tidak punya ego menjadi musisi handal ala Barat. Bakat artistik individu dan teknik musik menjadi elemen sekunder dalam gamelan Jawa. Keseluruhan inti Gamelan menjadi satu-satunya elemen yang dijunjung tinggi, bukan pemusiknya.”[23]

Peristiwa ini menunjukkan bahwa kesenian yang tumbuh di tanah air Indonesia ini tidak hanya menghasilkan bunyi-bunyian semata, namun juga memiliki nilai-nilai yang mendalam sehingga menyentuh tokoh musik impresionis Perancis yang masih dikenang hingga sekarang ini.

3. Indonesia sebagai persilangan maut (“der Totenkreuz”)

A.R. Soehoed menyatakan bahwa Nusantara (Indonesia) adalah ibarat persilangan maut (“der Totenkreuz”).[24] Indonesia adalah ‘focus and crossroads of interest’ bagi banyak pihak.[25] Indonesia adalah daerah yang kental akan kepentingan-kepentingan baik dalam negeri maupun luar negeri, sehingga tidak mengherankan bahwa potensi-potensi konflik dapat meledak apabila tidak dapat dialihkan untuk menjadi untuk menjadi suatu potensi manfaat yang besar.

Hal lain yang membuktikan bahwa Nusantara adalah suatu persilangan maut adalah karena di Nusantara-lah terjadi suatu endapan-endapan falsafah/kebenaran hidup tertinggi dari masing-masing peradaban dunia yang kemudian berasimilasi dengan falsafah lokal. Ahmad Syafii Maarif juga mengakui bahwa, “ke Nusantara yang cantik inilah pada abad-abad yang lalu berbagai bangsa telah datang dengan membawa agama dan peradaban yang kemudian tumbuh subur di sini.”[26]

Sejarah mencatat, pedagang-pedagang muslim yang berdagang di Nusantara kemudian menyebarkan ajaran-ajaran Islam, di mana ajaran ini menjunjung tinggi kebenaran sejati melalui Allah. Tercatat bahwa penyebaran agama Islam cenderung mulus dan melalui jalan damai karena tidak ada satu-pun bukti mengenai ekspedisi-ekspedisi militer asing yang memaksakan agama Islam melalui cara penaklukan.[27]

Sekitar tahun 1540-an datang para pedagang Eropa ke bumi Nusantara.[28] Terlepas dari munculnya niat untuk menjajah, para pedagang tersebut kemudian memperkenalkan ajaran Kristiani, yaitu ajaran untuk mengenal Tuhan dan Kasih Sayang. Contoh, Ludwig Nommensen berhasil mengubah suku Batak yang tadinya terkenal akan kanibalisme untuk kemudian menjadi orang-orang Kristen yang mengenal kemanusiaan. Usahanya ini dilakukan dengan cara penerjemahan Injil ke dalam bahasa Batak pada tahun 1878. Nilai-nilai kebenaran dalam agama Hindu dan Budha-pun turut mengendap dalam bumi Nusantara, begitu juga dengan ajaran Kong Hu Chu.

Dengan demikian, tidak dapat disangsikan bahwa ajaran-ajaran Hindu, Budha, Kong Hu Chu, Islam, dan Kristen serta falsafah lokal yang begitu agung meresep dalam jiwa bangsa Indonesia yang beraneka-ragam.[29]

4. Bangsa Tagaroa di Nusantara

Pada suatu ceramah di Lembaga Ketahanan Nasional RI, John Rahasia mengungkapkan bahwa dahulu bangsa yang mendiami kepulauan Asia Tenggara, Polinesia, Samudera Pasifik, hingga Oseania, adalah bangsa pelaut dan mereka menyembah dewa laut “Tagaroa”. Bangsa ini disebut sebagai bangsa Tagaroa. Karena kehandalannya dalam melaut, bangsa Tagaroa ini kemudian mengarungi samudera luas hingga daerah Madagaskar. Dalam catatan sejarah, keturunan bangsa Tagaroa yang memiliki perkembangan paling mencolok adalah di daerah Nusantara dan Asia Tenggara. Penyebab hal ini tidak diketahui, apakah karena iklimnya yang tropis atau karena kedudukkannya yang strategis.

Hal ini dibuktikan dengan munculnya kerajaan-kerajaan yang digdaya pada saat itu, yaitu Sriwijaya dan Majapahit. Kedua kerajaan ini memiliki kemahsyuran sendiri-sendiri tetapi pada hakikatnya merupakan kerajaan Maritim yang memanfaatkan posisi silang Nusantara (der Totenkreuz) untuk berinteraksi dengan peradaban-peradaban besar seperti peradaban Cina, Eropa, dan India.

5. Indonesia sebagai “Ring of Fire”

Hampir seluruh pulau di negeri ini menjadi bagian dari lingkaran gunung aktif global (“Ring of Fire”).[30] Hal ini didukung dengan penelitian yang dipublikasikan dalam majalah Time yang menyatakan bahwa 84% dari aktivitas vulkanik dunia berada di Indonesia, sebagai daerah yang dilalui lingkaran gunung aktif global. Konsekuensinya, bencana gunung berapi merupakan ancaman rutin setiap tahun.[31] Bencana yang baru-baru ini terjadi, seperti meletusnya Gunung Merapi adalah salah satu contohnya.

Dalam sejarah Nusantara, peristiwa meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883 dikisahkan dengan baik oleh Simon Winchester dalam bukunya yang berjudul, “The Day the World Exploded: August 27, 1883 KRAKATOA”.[32] Simon Winchester menyatakan bahwa begitu dahsyatnya letusan Gunung Krakatau, sehingga letusannya terdengar sampai jarak 2986 mil jauhnya. Batu dan pasir dari letusan Gunung Krakatau masuk ke orbit dan mengelilingi dunia selama bertahun-tahun. Hal ini membuat pada tiap-tiap musim waktu senja, dan sore, langit di Amerika dan Eropa tertutup oleh abu vulkanik selama bertahun-tahun.

Pemahaman yang mendalam terhadap situasi dan kondisi alam Indonesia dapat menghantarkan kita untuk mengubah ancaman menjadi peluang dari kondisi-kondisi yang terjadi pada masa kini.

Lima contoh di atas menunjukkan bahwa yang berkumpul atau yang menghuni bumi Nusantara bukanlah hanya sekedar orang-orang yang cari makan, tetapi juga ada suatu value/nilai-nilai luhur, yang apabila dikembangkan dapat menjadi modal bagi bangsa Indonesia untuk ‘engage’ dengan warga dunia. Lima contoh tersebut juga merupakan bagian dari warisan sejarah yang dapat digali untuk dijadikan kekuatan dan landasan baru bagi bangsa dalam menetapkan dan memilih apa yang diperlukan untuk menghadapi peluang dan ancaman yang datang silih berganti terhadap bangsa dan negara Indonesia.

C. Sikap militansi dan intelektual pemuda dalam membela dan mempertahankan negara

Bung. Karno pernah menyatakan, “berikan daku 10 pemuda maka akan kuguncang dunia!”. A. P. J. Abdul Kalam, mantan presiden India yang mengembangkan dan memajukan nuklir India semasa kepemimpinannya menyatakan bahwa, “Ignited young minds, we feel, are a powerful resource. This resource is mightier than any resource on the earth, in the sky, and under the sea.”[33]

Kedua negarawan yang juga mantan presiden tersebut menekankan arti pentingnya pemuda dalam arus pembangunan dan kemajuan suatu bangsa. Pemuda yang terpantik jiwa, semangat, dan daya juangnya dalam membela dan mempertahankan negara adalah suatu kekuatan yang amat dahsyat. Hal ini perlu didukung dengan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan dapat menjawab ketidakacuhan (ignorance) yang timbul dalam masyarakat, ketidakacuhan terhadap masalah-masalah sosial baik yang riil maupun yang berpotensi untuk muncul. Hal ini pernah ditekankan oleh presiden John F. Kennedy dalam pidatonya mengenai pembangunan NASA bahwa, “the greater our knowledge increases, the more our ignorance unfolds.”

Pemuda perlu untuk memiliki sikap militansi dan intelektual dalam memaknai dan menghadapi perubahan kondisi domestik, dan global yang semakin intensif. Sikap militansi dan intelektual diperlukan untuk memanfaatkan situasi menjadi peluang, dan mengubah ancaman menjadi peluang untuk kemajuan bangsa.[34]

D. Kesimpulan

Sikap militansi dan intelektual adalah sikap-sikap yang dibutuhkan untuk menjawab dinamika kondisi domestik, dan global yang semakin intensif.

Sikap militansi dan intelektual harus melengkapi satu dengan lainnya. Militansi tanpa intelektual akan menjelma menjadi tindakan membabi buta, dan sebaliknya intelektual tanpa sikap militansi akan rapuh dan mudah terombang-ambing oleh gelombang perubahan.

Sikap militansi sebagai suatu jiwa, semangat, dan daya juang yang tinggi haruslah dilandasi oleh kepercayaan (geloof) yang kuat terhadap pemahaman akan jati diri bangsa dan negara. Dengan demikian, sikap militansi harus bertumpu pada Pancasila, UUD 1945, dan NKRI.

Sikap intelektual diwujudkan dalam melakukan inovasi. Inovasi dilakukan dengan menggali sumber-sumber baru bagi Pancasila (to find new source of value). Menggali sejarah bangsa dan negara dapat menjadi langkah awal untuk menggali sumber-sumber baru tersebut.
________________________________________________

[1] Narendra Singh Sarila, The Shadow of the Great Game: The Untold Story of India’s Partition, edisi ke-1, (India: HarperCollins Publishers, 2005), hal. 11.

[2] Pidato Presiden Soekarno berjudul, “PANCASILA MEMBUKTIKAN DAPAT MEMPERSATUKAN INDONESIA”, disampaikan pada peringatan lahirnya Pancasila pada tanggal 5 Juli 1958, di Istana Negara, Jakarta. Lih: Ir. Soekarno, Filsafat Pancasila Menurut Bung Karno, cetakan ke-1, (Yogyakarta: Media Pressindo, 2006), hal. 88-89.

[3] Budi Susilo Soepandji, Bangga Indonesia Menjadi Komponen Cadangan Tanah Air, cetakan ke-1, (Jakarta: Grasindo, 2010), hal. 46.

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Fareed Zakaria, The Post-American World, edisi ke-1, (New York: Norton & Company, 2008), hal. 4.

[7] Pengertian inovasi/innovation sebagai ‘to find new source of value’ disampaikan oleh Peter Senge, Direktur Massachusetts Institute of Technology (MIT) School of Business, pada seminar yang diselenggarakan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) berkerjasama dengan forum Modernisator pada tanggal 22 Oktober 2010, bertempat di Gedung BKPM.

[8] Pidato Presiden Soekarno berjudul, “Re-So-Pim (Revolusi – Sosialisme Indonesia – Pimpinan Nasional), disampaikan pada tanggal 17 Agustus 1961 di Istana Negara. Lih: Departemen Penerangan Republik Indonesia, Pembebasan Irian Barat, hal. 22. Buku ini merupakan kumpulan Pidato Presiden Soekarno dan Keterangan-Keterangan Mengenai Perjuangan Pembebasan Irian Barat dari tanggal 17 Agustus 1961 sampai dengan tanggal 17 Agustus 1962.

[9] Aristide Katoppo, dkk, A. R. Soehoed: Menyertai Setengah Abad Perjalanan Republik, cetakan ke-1, (Jakarta: Primacon Jaya Dinamika, 2001), hal. 425-426.

[10] Dikutip dari kumpulan pidato Mao Tse-Tung yang berjudul, Quotations From Chairman Mao Tse-Tung, (Beijing: Foreign Language Press, 1966), hal. 405.

[11] Lee Khoon Choy, Pioners of Modern China: Understanding the Inscrutable Chinese, (Singapura: World Scientific Publishing, 2005), hal. 85.

[12] Ibid.

[13] Ibid.

[14] Ibid.

[15] Ibid.

[16] Ibid.

[17] Ibid.

[18] Ibid.

[19] Ibid., hal. 86.

[20] Bernard Dorleans, Orang Indonesia & Orang Perancis (Dari Abad XVI sampai dengan Abad XX), cetakan ke-1, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2006), hal. 519.

[21] Ibid.

[22] Ibid.

[23] Ibid., hal. 521.

[24] Soehoed, op. cit., hal. 421.

[25] Ibid.

[26] Ahmad Syafii Maarif, Islam Dalam Bingkai KeIndonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah, cetakan ke-1, (Bandung: Mizan Pustaka, 2009), hal. 45.

[27] M. C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern: 1200–2004, cetakan ke-1, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2005), hal. 48.

[28] Ibid., hal. 114.

[29] Howard Palfrey Jones, Indonesia: The Possible Dream, cetakan ke-3, (Singapura: AYU MAS (S), 1977), hal. xiv.

[30] Soepandji, op. cit., hal. 55; Yansen. “Indonesia and the great challenge of natural disasters.” Dalam harian The Jakarta Post, edisi 2 November 2010, hari Selasa, hal. 7.

[31] Ibid.

[32] Simon Winchester, The day the World Exploded: August 27, 1883 KRAKATOA, edisi ke-1, (New York: Harper Collins Publishers, 2003).

[33] A.P.J. Abdul Kalam dan Y.S. Rajan, India 2020: A Vision for the New Millenium, cetakan ke-1, (New Delhi: Penguin BOOKS INDIA, 2002), hal. xvi.

[34] Kata ‘Bangsa’ memiliki suatu pengertian yang luhur. Hal ini setidaknya dapat terlihat dari teori Ilmu Negara. Dalam Ilmu Negara, kata ‘Bangsa’ yang dalam bahasa Belanda adalah ‘Natie’ memiliki pengertian yang berbeda dengan ‘folk’ atau ras. Folk atau ras adalah pengelompokan manusia berdasarkan persamaan kebudayaan (persamaan bahasa, tradisi, kepercayaan). Sementara itu, Bangsa/natie, adalah pengelompokan manusia tanpa membedakan apakah suatu rasa tau folk, tetapi pengelompokan manusia berdasarkan kesamaan kesadaran bernegara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s