Arogansi Aparat

Oleh: suarakarya-online.com

ENTAH apa yang ada dalam pikiran oknum aparat Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) dari Lanud Roesmin Nurjadin yang dengan beringas tidak saja mengusir, tetapi memukul, mencekik, dan merebut peralatan kerja para wartawan yang meliput jatuhnya pesawat Hawk 200, di kawasan Marpoyan, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru, Riau. Apa yang terjadi menggambarkan bagaimana tidak mengertinya seorang aparat terhadap tugas wartawan.

Di medan perang saja seorang wartawan dalam menjalani tugas dilindungi, di wilayah damai aparat justru menjadikan wartawan bak musuh. Sangat memalukan, bukti bahwa reformasi belum menyentuh seluruh aparat di negeri ini. Setidaknya diperlihatkan beberapa oknum TNI AU di Pekanbaru, Selasa (16/10) kemarin. Apalagi jatuhnya pesawat di pagi itu bukan di kompleks militer, tetapi di ruang publik, di sekitar permukiman warga RT 03, RW 03, Dusun 03, Desa Pandau Jaya, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau.

Tindakan beberapa oknum petugas yang harusnya menjadi pelindung rakyat dari ancaman musuh, justru menganggap rakyat, termasuk wartawan, sebagai pihak yang harus diperangi. Ada kesan, karena tak mampu menjalani tugas, sang oknum justru menyalahkan pihak lain. Bak pepatah, tak pandai bersilat malah lantai yang disalahkan. Artinya tidak mampu menguasai keadaan, orang lain yang jadi sasaran.

Apa yang dilakukan oknum TNI AU dari Lanud Roesmin Nurjadin, bahkan salah satu di antaranya adalah perwira menengah berpangkat letkol bersama beberapa anggota Yon 462 Paskhas, sesuatu yang sangat memalukan. Tindakan itu bukti bahwa oknum aparat itu masih menganut eksklusivisme, atau paham yang cenderung memisahkan diri dari masyarakat karena menganggap diri lebih hebat.

Menyedihkannya lagi, arogansi yang diperlihatkan segelintir aparat mencerminkan kebodohan. Bagaimana mungkin jatuhnya sebuah pesawat tempur bisa ditutupi dengan membungkam lima orang wartawan, seperti terjadi dalam peristiwa jatuhnya Hawk. Terdapat lima wartawan-Febrianto B Anggoro (Antara), Didik (Riau Pos yang mengalami pendarahan pada telinga karena pukulan), Ari (TV One), Dewo (Riau Channel) dan dua wartawan dari Riau TV-yang meliput musibah jatuhnya pesawat tempur, menjadi korban kekerasan aparat.

Peristiwa itu harus menjadi pembelajaran bagi TNI secara umum dan TNI AU khususnya. Ketahuilah tugas wartawan antara lain adalah melaporkan peristiwa yang berkaitan dengan kepentingan publik. Tugas melaporkan berbagai kejadian itu dilindungi undang-undang (UU). Karena itu, pemukulan terhadap wartawan dalam menjalankan tugas adalah tindakan pidana, karena melanggar UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Seperti halnya pesawat Hawk 200 nahas itu, aparat terkait harus mengusut pelaku tindak brutal, beberapa oknum aparat TNI AU. Ingat, pemerintah dituntut memberikan peralatan perang layak bagi militer demi melindungi bangsa dan negara, bukan untuk menyakiti rakyat. Karena itu, pelaku kekerasan terkait jatuhnya Hawk harus dijatuhi hukuman.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s