Salah Satu Potret Bangsa Kita : Tawuran Antar Pelajar Di Jakarta

Oleh: indosiar.com

Siang itu Jalan Diponegoro, Jakarta, macet total, selidik punya selidik ternyata ada tawuran. Yah, harus diakui bahwa tawuran pelajar sesungguhnya bukanlah hal yang baru sekaligus juga bukan hal yang aneh. Sejak jaman dahulu hal itu sudah kerap terjadi. Namun sejak tahun 1989, kenakalan remaja khususnya di Jakarta dalam bentuk tawuran terasa kian menggejala dan intensitasnya dari tahun ke tahun semakin meningkat.

Perkelahian berkelompok tersebut yang berbentuk tawuran telah memusingkan aparat penegak hukum dan pranata pengendali sosial lainnya seperti orangtua, guru, sekolah atau Departemen Pendidikan Nasional. Berbagai upaya telah dilakukan baik melalui ceramah ataupun operasi razia senjata tajam oleh polisi ke sekolah-sekolah, namun setiap tahun gejala tawuran antar pelajar tersebut tetap marak juga. Apakah kejadian tersebut merupakan ekses dari situasi bangsa yang serba tidak menentu ini ataukah ada rekayasa politik dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, tentu menjadi pertanyaan kritis?

Tawuran, Sebuah Potret Remaja Kita?

Menurut data Polda Metro Jaya setiap bulan minimal terjadi 25 kali tawuran yang kadangkala mengakibatkan meninggal. Disamping itu, peristiwa hampir dipastikan selalu menyebar secara sproradis di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi.

“Saya sangat prihatin terhadap maraknya tawuran antar pelajar itu. Padahal di setiap SLTP dan SMU terdapat OSIS, yang ide dasarnya adalah untuk mempersatukan para pelajar,” kata Yus Iskandar (50) salah satu penggagas dan pendiri OSIS. Menurutnya tawuran itu disebabkan mekanisme organisasi itu yang sudah bergeser jauh dari prinsip dasarnya. Sebab ketika dibentuk 28 tahun silam, OSIS merupakan wadah pelatihan kepemimpinan bagi siswa SLTP dan SMU. “Sekarang mekanisme OSIS dipersempit hingga terkotak-kotak. Hubungan antar sekolahpun sudah terputus,”tegas Yus.

Akibat pembelengguan terhadap organisasi intra sekolah itu, selama 28 tahun atau satu generasi kepemimpinan pelajar dimandulkan. Sehingga, organisasi itu tidak lagi mampu mengatasi dirinya sendiri. Keberadaan organisasi itu lebih dikuasai oleh guru pembina. Akibat yang ditimbulkan adalah tidak adanya persatuan dan kesatuan antar sekolah, baik di tingkat wilayah kota maupun propinsi. Apa bila organisasi itu dikembalikan pada prinsip dasarnya, tawuran pelajar mungkin dapat dihilangkan, sehingga tidak perlu membentuk lembaga-lembaga baru yang kadangkala hanya untuk menghabiskan dana.

Upaya Yang Pernah Dilakukan Pemerintah Daerah

Pemerintah Daerah DKI Jakarta bersama para penegak hukum pernah mengupayakan berbagai langkah seperti:

1. Tindakan hukum. Khususnya yang dikenakan pada tindakan yang sudah bisa dikategorikan sebagai tindakan kriminal.
2. Pembuatan daftar hitam. Baik yang ditujukan kepada siswa maupun kepala sekolah. Siswa yang sering terlibat tawuran (minimal 3 kali) pada saat mengurus Surat Keterangan Kelakuan Baik (SKKB) tidak akan mendapat pelayanan. Sekolah bermasalah yakni yang siswanya sering terlibat tawuran dimasukan kedalam daftar hitam agar bisa memberikan peringatan khusus bagi siswanya yang bermasalah.
3. Razia atau operasi pelajar, yang bertujuan untuk melarang pelajar yang berkeliaran pada jam sekolah, mencek pelajar yang sering membawa buku porno, kondom dan obat terlarang.
4. Pembentukan lembaga baru untuk para pelajar.
5. Upaya lain seperti pemberian sanksi kepada orangtua siswa pelaku tawuran, khususnya yang berasal dari kalangan ABRI, pembuatan data dan peta tawuran, kesepakatan damai antar pelajar/sekolah, dan penelitian mengenai tawuran.

Tawuran Pelajar dan Penyebabnya

Diakui setiap remaja pasti mengalami gejolak emosi yang labil. Kondisi ini lalu menjadi rentan terhadap berbagai pelanggaran, termasuk didalamnya masalah tawuran. Akan tetapi, tentu tidak bijak menyalakan kondisi labil ini sebagai pemicu tawuran, seperti diwanti-wanti Dr. Arief Rachman, M.Ed, Direktur Eksekutif Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO. “Sebagian orang berpendapat perkelahian itu terjadi karena pada masa remaja, emosi mereka cenderung tidak stabil. Tetapi kalau hal itu menjadi penyebabnya, berarti seluruh remaja pernah terlibat perkelaian.”

Hal ini di dukung oleh salah satu temuan penelitian tim Peneliti UGM bersama Tramtib DKI Jakarta, menyebutkan indikasi pelajar Jakarta yang berkelahi karena dibayar. Ini terbukti dari hasil polling sejumlah pelajar yang mengaku menerima uang saku masing-masing sebesar Rp 15.000 untuk sekedar membuat onar. Temuan ini tentunya mengindikasikan ada berbagai sebab lain, diluar ramaja itu sendiri.

Penyebab yang cukup banyak andilnya adalah lingkungan pergaulan. Akan timbul masalah apalagi lingkungan pergaulan mereka ternyata kurang sehat. Kurang sehat disini diukur dari proses inisiasi yang terjadi. Kalau mereka mau diterima apa yang diinginkan kelompok itu. Inilah harga yang harus dibayar.

Penelitian yang pernah dilakukan oleh Litbang KOMPAS mendukung pendapat tersebut. Dari 493 pelajar yang pernah terlibat tawuran massal 303 orang (61 persen) mengatakan jika mereka menolak ajakan tawuran, akibatnya sungguh tidak mengenakkan bagi mereka. Dianggap tidak solider (33,9 persen), dimusuhi (12,6 persen) dan dianggap banci (15 persen) merupakan hal menakutkan sehingga mendorong mereka untuk melibatkan diri dalam tawuran yang kadang tak mereka ketahui untuk apa.

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa tawuran pelajar punya dua sisi yang lain yang saling mendukung. Sisi pertama berupa ajakan kawan, yang mana jika ditolak akan mengandung konsekuensi, oleh karena itu lebih diartikan sebagai tekanan. Sisi kedua, berupa dorongan untuk diakui sebagai anggota kelompok, karena kalau tidak akan dikucilkan dan dimusuhi.

Akan tetapi, tak jarang tawuran itu bersifat spontan, seperti dikatakan oleh Andi, seorang pelajar STM di Jakarta yang mengatakan bahwa sekolahnya sering menerima surat permintaan bantuan dari sesama STM lain untuk menggempur sekolah tertentu. Adapula yang berkelahi karena dendam, seperti pengakuan Hilman, seorang pelajar STM di Jakarta. “Saya berkelahi untuk balas dendam”. Hal ini juga menyiratkan adanya pola permusuhan yang menetap, walaupun menurut pihak kepolisian agak jarang kasus seperti ini, akan tetapi aliansi dari sekolah sejenis untuk tawur dengan lain sekolah memang banyak terjadi.

Bahkan dari hasil penelitian Litbang KOMPAS, kebanyakan mereka yang tawuran itu dari keluarga baik-baik. Ini menandakan keluarga baik-baik pun masih ada celah, si anak menjadi pelaku tawuran. Dorongan keinginan si anak untuk lepas landas dari lingkungan superiornya yaitu keluarga, dapat dikatakan lumrah. Bahwasanya si anak mendarat pada lahan yang kurang baik bagi perkembangan jiwanya inilah yang harus diwaspadai. Kehangatan keluarga saja ternyata tak cukup kuat menahan tekanan dari kawan-kawannya. Demikian pula wibawa guru dan peraturan sekolah yang keras juga belum optimal membendung derasnya dorongan emosi kelompok yang memicu tawuran.

Kalau dilihat dari waktu kejadiannya, walaupun hampir setiap bulan terdapat peristiwa yang melibatkan pelajar akan tetapi bulan yang menonjol adalah Februari dan September. Bulan September adalah bulan awal masa sekolah, dimana pada masa inisiasi siswa SMU baru ditanamkan perasaan bermusuhan terhadap SMU musuhnya dan rasa permusuhan itu harus diwujudkan dan hasilnya adalah perkelahian massal.

Faktor lain yang tidak dapat diabaikan adalah Necessary Precondition bagi timbulnya tawuran yaitu kerumunan pada waktu pulang sekolah yang terkonsentrasi pada suatu tempat yang sama yaitu di tempat pemberhentian bus. Hal ini dapat dilihat dari data tempat berkumpulnya pelajar dan waktu berkumpulnya pelajar yang dimiliki oleh setiap polres di wilayah Polda Metro Jaya guna mengantisipasi tawuran. Hasil penelitian Soepardi dkk dari Balitbang Depdiknas memperkirakan konsentrasi di suatu tempat itu kadang dapat mencapai 4.000 – 5.000 pelajar pada saat sekolah usai. Banyaknya pelajar yang berkumpul tanpa diimbangi oleh sarana transportasi yang memadahi sering menimbulkan tawuran.

Tawuran biasanya terjadi karena pelajar tidak menghargai keberadaan orang lain atau fasilitas umum. Hal ini merupakan hasil dari gagalnya sosialisasi dan pengendalian sosial terhadap mereka. Pada diri anak, mereka menghadapi suatu keadaan anomik karena merasa tidak berdaya untuk mendekatkan harapan orangtua dan masyarakat untuk mencapai sukses melalui pendidikan yang setinggi-tingginya. Selain itu diketahui bahwa terjadi persaingan yang ketat untuk mempeoleh kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Selain itu diketahui pula bahwa pendidikan yang tinggi tidak selalu sejajar dengan sukses karena adanya jumlah penganggur yang banyak.

Keadaan anomik ini juga diperkuat oleh adanya rangsangan untuk mengkonsumsi barang yang mencerminkan simbol status dan kemajuan yang dipromosikan sebagai tren yang harga sulit dijangkau oleh mereka yang berasal dari kelas bawah dan menegah bawah. Dengan demikian sepajang jarak antara harapan dan kenyataan dipandang jauh, maka keadaan semacam inilah dapat menghasilkan suasana anomik yang bila dikaitkan dengan Necessary precondition melengkapi mudahnya timbuk konflik yang hanya memerlukan pemicu saja.

Renungan

Melihat kepada semua itu, kita bisa melihat berbagai hal tentang penyebab terjadinya tawuran dan situasi diluar remaja itu sendiri yang ternyata tidak dapat begitu saja diabaikan, seperti situasi ekonomi, sosial dan politik. Untuk itu, tentunya kurang bijaksana, setelah melihat semua permasalahan itu, apalagi kita hanya menyalahkan remaja, kalau potretnya seperti sekarang ini?

—————–
Bambang Budi Setiawan (Pengamat Masalah Sosial, Bekerja di YKAI)

Iklan

Diterbitkan oleh

admin

yang buat blog bela negara RI

One thought on “Salah Satu Potret Bangsa Kita : Tawuran Antar Pelajar Di Jakarta”

  1. Lihat hasil riset litbang kompas di mana ya? Saya ingin tahu data nya, mungkin bisa share link. Terima kasih 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s