Kesejahteraan Negeriku

Oleh: Andriyan Yuniantoko

I-n-d-o-n-e-s-i-a, apa yang ada dibenak anda ketika mendengar kata itu? Bagi kita yang lahir, tumbuh, dan berkembang di negeri ini, Indonesia adalah rumah iya benar rumah yang indah, dengan segala ragam budayanya, keindahan alamnya dan memiliki masyarakat ramah, yang suka menebar senyum. Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan kalau Indonesia adalah negeri yang cinta damai meski kedaulatan negeri ini sering digoda oleh Malaysia, iya Indonesia adalah negeri yang cinta damai bukan negeri pecundang atau pengecut. Indonesia pun berada di peringkat ke-63 negara paling damai di dunia. “Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Begitulah sepenggal lirik lagu dari band legendaris Indonesia yaitu Koes Plus yang pede menyanyikan lagu itu sebagai interpretasi alam Indonesia yang gemah ripah loh jinawe. Bisa jadi keadaan Indonesia tahun 70-an ketika Koes Plus membuat lagu itu memang seperti apa yang mereka nyanyikan. Namun, yang jelas keadaan Indonesia sekarang tidak sama persis oke-nya dengan apa yang disampaikan oleh lagu legendaris tersebut.

Indonesia yang indah dan kaya raya dengan jumlah penduduknya berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 bahwa jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 237,6 juta jiwa seharusnya hidup bahagia, makmur, dan sejahtera. Namun kenyataan yang ada justru sebaliknya menyedihkan memang, lalu apa yang salah dari negeri ini? Saya sendiri bertanya-tanya dan pertanyaan yang sesuai adalah ‘mengapa’. Mengapa Indonesia tidak sejahtera? Mengapa Indonesia disebut sebagai Negara gagal? Apanya yang salah? Gelombang aksi Reformasi yang alih-alih membuat Indonesia lebih baik namun malah membuat Indonesia harus kembali dari nol untuk menata diri. Budaya korupsi jaman kompeni yang dipelihara pada era Orde Baru kian ditimang-timang anakku sayang pada era Reformasi. Indonesia yang alamnya oke justru oleh orang-orang hedonis malah dikeruk untuk mensejahterakan diri mereka sendiri. Kita tahu dan kita bisa melihat bagaimana tingkah pemerintah Indonesia pada era Reformasi yang disebut-sebut sebagai era pembaharuan menuju Indonesia lebih baik oleh mahasiswa-mahasiswa yang berdemo besar-besaran di depan gedung MPR/DPR RI.

Korupsi adalah masalah besar mengapa negeri ini belum merdeka dari kemiskinan. Korupsi selalu menghiasi pemberitaan baik media cetak maupun media elektronik, setiap hari pasti ada saja berita tentang korupsi, korupsi di Indonesia ini ibarat kopi yang diminum pada pagi hari dimana hal itu sudah jadi budaya dan kebiasaan. Sudah banyak uang rakyat yang dikorupsi oleh para pejabat-pejabat yang ngakunya jadi wakil rakyat. Bukan membuat kebijakan untuk mensejahterakan rakyatnya tapi malah membuat kebijakan yang menguntungkan mereka sendiri. Lihat saja partai politik pemenang pemilu 2009 yang dipercaya oleh banyak rakyat Indonesia justru menghianati rakyatnya dengan memakan uang rakyat.

Gaya hidup pemerintah yang hedon juga menjadi sorotan, bagaimana bisa ketika sebagian besar rakyat Indonesia hidup di garis kemiskinan Presiden malah membuat pesta perkawinan untuk anaknya dengan budget 4 milyar. Ledakan penduduk pun menjadi akar dari masalah ketidaksejahteraan. Pun begitu pembangunan yang tidak merata juga menjadi masalah pelik bagi pemerintah, dengan pembangunan yang tidak merata akan mendorong arus urbanisasi besar-besaran. Selain itu banyak sumber-sumber tambang di Indonesia malah dikuasai oleh perusahaan asing, barang tambang yang ada di bumi Indonesia justru malah dinikmati oleh orang-orang asing. Dari buku pelajaran waktu saya SMA dulu sistem perekonomian Indonesia menganut sistem perekonomian demokrasi pancasila namun prakteknya sistem perekonomian Indonesia malah lebih condong pada sistem ekonomi liberal.

Indonesia yang pernah mendapatkan gelar swasembada pangan dari FAO kala jaman orde baru pun tak sungkan meng-impor beras kala era reformasi. Adapun hal konyol lainnya yang dilakukan pemerintah yaitu ketika pemerintah Indonesia membuat kebijakan meng-impor singkong. Singkong makanan pokok kedua masyarakat Indonesia setelah nasi, dan kita pastinya tahu kalau pohon singkong bisa hidup mudah tak perlu tanah yang lapang, cukup kita tancapkan ke tanah saja sudah bisa tumbuh. Aneh memang, Indonesia yang gemah ripah loh jinawe yang dikenal sebagai Negara agraris namun untuk memenuhi kebutuhannya sendiri negeri ini terseok-seok dan apa-apa harus impor. Pemerintah berdalih bahwa kebijakan mengimpor bahan makanan adalah mementingkan sebuah kualitas demi pemenuhan gizi masyarakat agar terjamin. Kebijakan impor ini jelas mematikan kinerja petani lokal, pemerintah tidak percaya dengan kualitas lokal. Tidak memiliki pemimpin yang berkarakter kuat juga menjadi masalah bangsa ini, SBY cenderung lembek dan lamban namun selalu saja berdalih dan alasannya adalah bersikap hati-hati. Terciptanya sekat atau batas antara pemimpin dan rakyatnya sehingga pemimpin tidak tahu apa kemauan rakyatnya padahal pada hakekatnya pemimpin adalah pelayan bagi rakyatnya.

Sudah banyak berbagai kebijakan untuk mensejahterakan rakyat di negeri ini dilakukan namun hasilnya tidak memuaskan. Contohnya Bantuan Langsung Tunai kebijakan ini jelas adalah pembodohan, dan rakyat dididik dengan sikap manja. Selain itu uang dari bantuan langsung tunai tersebut pun tidak tepat sasaran dan tepat guna. Belum lagi kebijakan lainnya yang justru malah menyusahkan masyarakat seperti menaikkan harga BBM, ini semakin mencekik rakyat Indonesia kenaikkan harga BBM pastilah memicu kenaikkan harga kebutuhan pokok. Dan tak segan-segan dengan pede-nya Menteri Perdagangan mengatakan kenaikkan BBM tidak akan terlalu berpengaruh besar bagi masyarakat karena daya beli masyarakat Indonesia sekarang sangat kuat. Pemerintah seakan tutup mata dengan keadaan masyarakat Indonesia sekarang ini. Tak sedikit warga Indonesia yang lebih memilih untuk bekerja di luar negeri demi mencari kesejahteraan hidup mereka sendiri.

Jika kita lihat pada UUD 1945 alinea IV yang berbunyi “membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial” disitu tercantum kata-kata “memajukan kesejahteraan umum” entah pemerintah sekarang yang tak bisa memahami isi UUD 1945 atau malah cita-cita bangsa ini yang ada pada alinea ke-IV UUD 1945 itu terlalu tinggi sehingga tidak bisa dicapai, dan sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

Negeri ini akan sangat sulit mensejahterakan rakyatnya bila golongan elite masih bahagia untuk melakukan tindak korupsi. Pemerintah harus tegas, harus berani mengambil langkah yang bijak dan efisien. Dan tugas bagi anak muda sekarang adalah berusaha menjadikan diri bermanfaat untuk bangsa. Tentunya harapan besar ada dalam benak rakyat Indonesia yang ingin hidup bahagia, makmur, tentram, dan sejahtera di bumi mereka dimana mereka lahir, tumbuh, dan berkembang.

Iklan

Diterbitkan oleh

admin

yang buat blog bela negara RI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s