Duka Orangutan dari Kalimantan

Orangutan (foto: alamendah.wordpress.com)Oleh: Mutya Hanifah – Okezone

TAHUN 2011 merupakan tahun yang berat bagi primata khas Indonesia, Orangutan. Sebuah survey yang dipublikasikan Washington Post menyebutkan 750 orangutan dibunuh warga desa di Kalimantan dalam satu tahun. Orangutan-orangutan malang ini dibunuh karena dianggap hama.

Survey ini digagas The Nature Conservancy dan 19 organisasi swasta lainnya termasuk WWF dan Asosiasi Ahli Primata Indonesia dan juga beberapa pengamat. Mereka mewawancarai 6.983 orang dari 687 desa di tiga provinsi Kalimantan antara bulan April 2008 hingga september 2009. Lebih dari setengah responden yang diwawancara, mengaku setelah membunuh, mereka memakan daging orangutan tersebut. Yang juga mengejutkan, tidak hanya orang dewasa yang membunuh orangutan ini. Survey tersebut juga menunjukkan remaja-remaja berusia 15 tahun sudah pernah membunuh orangutan. Ketika ditanya, mereka juga sudah tahu bahwa orangutan adalah hewan langka yang dilindungi pemerintah.

Hal ini menunjukkan bahwa manusia merupakan ancaman serius bagi hewan yang langka serta dilindungi oleh pemerintah ini. Padahal Indonesia merupakan ‘rumah’ bagi 90 persen spesies orangutan liar yang masih tersisa. Namun, selama 50 tahun ini hutan di Indonesia telah banyak berkurang karena adanya pembalakan liar, pembukaan lahan untuk industri sawit, kertas, dan juga bubur kertas.

Akibatnya, primata malang ini kehilangan rumahnya, dan terpaksa berebutan lahan dengan manusia dan akhirnya menimbulkan konflik. Sudah banyak bukti seperti tengkorak, kulit, dan bagian tubuh orangutan yang tergeletak berserakan di hutan, namun pihak pemerintah belum banyak bergerak untuk mengatasi masalah ini.

Permasalahan orangutan ini semakin memburuk, ketika pada tanggal 3 November 2011 lalu Centre for Orangutan Protection (COP) menemukan seekor orangutan dewasa yang terluka parah. wajah orangutan ini bengkak, dan juga berlumuran darah, kemungkinan akibat dipukuli dengan benda tumpul. Orangutan tersebut ditemukan lemah dan tak mampu bergerak di parit kering di dekat perkebunan PT Khaleda Agroprima Malindo (anak perusahaan Metro Kajang Holdings Berhad dari Malaysia), Muara Kaman, Kalimantan Timur. Orangutan yang tak berdaya tersebut pun kemudian dibawa Balai Konservasi Sumber Daya Alam dari Kementrian Kehutanan ke Taman Nasional Kutai untuk dirawat lebih lanjut.

“Orangutan ini dibunuh dan dipukuli masyarakat setempat berdasarkan perintah perusahaan, karena hewan ini memasuki kawasan perkebunan milik perusahaan,” terang juru kampanye dari Centre for Orangutan Protection Hendri Baktiantoro kepada okezone. “Orangutan ini masuk ke perkebunan perusahaan karena habitatnya hilang, akibat adanya deforestasi untuk pembukaan lahan menjadi perkebunan sawit,” lanjut Hendri.

Orangutan dibunuh karena dianggap hama. Menurut hasil investigasi COP, pembunuhan orangutan oleh warga setempat ini merupakan suruhan dari perusahaan-perusahaan kelapa sawit. “Siapa yang membunuh dan mengusir orangutan akan diberi hadiah uang sebesar Rp 500.000 hingga Rp 1.000.000, sehingga banyak warga setempat berlomba-lomba untuk membunuh hewan ini,” jelas Hendri.

Hendri menjelaskan sudah banyak orangutan yang ditemukan terbunuh ataupun luka-luka parah di daerah-daerah di Kalimantan yang tingkat deforestasinya tinggi akibat penebangan liar dan pembukaan lahan. “Pemerintah dulu bilang tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada bukti. Namun kini semua bukti sudah ada dan jelas, namun pemerintah tetap diam saja,” keluh Hendri.

Sebagai aksi terhadap pemerintah, pada tanggal 15 November 2011 COP melakukan aksi di depan istana negara. Aksi ini bertujuan untuk meminta pemerintah khususnya presiden agar bertindak tegas terhadap kasus penganiayaan tersebut. “Kami meminta dukungan penuh dari presiden untuk penegakan hukum terhadap kasus pemukulan terhadap orangutan ini,” tutur juru kampanye dari COP, Daniek Hendarto kepada okezone ketika itu. “Penganiayaan terhadap orangutan ini sudah berkali-kali dilakukan oleh perusahaan sawit Malaysia, dan kami ingin adanya penegakan hukum agar mereka dapat diseret ke pengadilan,” sambungnya.

COP juga menyayangkan bahwa upaya penyelamatan orangutan selama ini hanya dilakukan oleh LSM-LSM. Padahal perlindungan orangutan juga butuh bantuan penegakan hukum, yang hanya dapat dilakukan oleh pemerintah. Padahal, pemukulan dan penganiayaan orangutan dapat dikenakan sangsi karena melanggar UU Konservasi.

Akhirnya, pada tanggal 18 November 2011, Mabes Polri melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap Pt Khaleda Agroprima Malindo, yang diduga melakukan penganiayaan terhadap orangutan. Mabes Polri ketika ini mengakui telah mengirim tim dari Dir V Tindak Pidana Tertentu ke Kalimantan.

Akhirnya penyelidikan ini membuahkan hasil. Pada tanggal 22 November 2011, dua pegawai perkebunan kelapa sawit milik PT Khaleda dengan inisial IM (32) dan M (32) sejak Sabtu lalu, ditangkap Polda Kaltim dalam kasus pembantain orangutan dan monyet diperkebunan Desa Puan Cepak Kecamatan Muar Kaman, Kabupaten Kukar, Kaltim. Kedua pelaku ini mengaku mendapatkan upah sebesar Rp 1juta untuk orangutan, dan Rp 250.000 untuk seekor monyet bekantan. Pelaku menyatakan memburu orangutan dengan menggunakan 12 ekor anjing, kayu, parang, dan senapan angin. Kedua oran ini mengaku telah membunuh 20 monyet dan dua orangutan.

Polisi kemudian membeberkan sejumlah barang bukti yang sita dan dikumpulkan berupa tulang tengkorak orangutan, monyet dan bekatan, sepucuk senapan angin dan sejumlah dokumen. Termasuk menghadirkan kedua pelaku di Polres Kukar. Polisi terus melakukan penyelidikan lebih lanjut karena ada kemungkinan terdapat tersangka lain. Para tersangka akan dikenakan sanksi sesuai dengan undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Pada tanggal 24 November 2011, Kepolisian Daerah Kalimantan Timur kembali menetapkan dua orang tersangka karyawan perusahaan kelapa sawit PT Khaleda Agroprima Malindo (KAM), yaitu seorang warga negara Malaysia, Phuah Chuam Hum (46) sebagai Senior Estate Manager PT KAM dan Widiantoro (39) Karyawan PT KAM. kedua tersangka kemudian ditahan di Polres Kutai Kartanegara. Dalam keterangan polisi ditemukan bahwa Widiantoro bertugas untuk merekrut atau mencari orang di lapangan untuk membunuh orangutan sedangkan warga negara Malaysia tersebut merapatkan dan merestui untuk mencari orang lapangan. Terkuak pula, bahwa pembunuhan orangutan merupakan kebijakan perusahaan PT KAM,karena sebelum memburu orangutan, mereka merapatkannya secara resmi.

Polisi masih mengejar pelaku lainnya yang diduga sudah melarikan diri ke luar daerah. Para pelaku ini adalalah diduga eksekutor orangutan pada tahun 2008 lalu yang juga direkrut oleh Widiantoro. Dengan adanya penangkapan dua orang ini, maka Polda Kaltim sudah menetapkan empat orang tersangka terkait pembunuhan orangutan dan monyet di perkebunan kelapa sawit milik KAM di Desa Puan Cepak, Muara Kaman, Kutai Kertanegara (Kukar), Kalimantan Timur. Sebelumnya dua orang berinisial M alias G, dan M. Mereka ini karyawan PT KAM. Mereka bertindak itu atas kehendak perusahaan, karena monyet sama orangutan itu dianggap sebagai hama yang makan buah sawit. Mereka menembak dan menjerat orangutan. Keempat tersangka itu terancam 5 tahun penjara dan denda Rp100 juta. Mereka melanggar pasal 21 ayat (2) huruf a dan b juncto pasal 40 ayat 2 UU Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Akibat dari kasus orangutan yang semakin parah ini, pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berjanji akan mengevaluasi perkebunan-perkebunan Kelapa Sawit dan juga pertambangan yang ada di provinsinya. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Farid Wadjdy, di Balikpapan pada tanggal 25 November 2011. Menurutnya, evaluasi perlu dilakukan untuk mencari solusi dan mekanisme sebagai bentuk perlindungan terhadap pelestarian alam dan hayati serta ekosistemnya. Untuk itu, perusahaan yang telah maupun yang baru membuka kawasan perkebunan harus memerhatikan, dan menghindari serta memberikan ruang kepada satwa apabila ditemukan. Dari program satu juta hektar perkebunan sawit saat ini baru 760 hektar yang terlaksana. Perkembunan kelapa sawit ini berada di sejumlah daerah di Kaltim yang juga terdapat habitat orangutan seperti Kutai Kartanegara, Kutai Barat, Kutai Timur, dan Berau.

Wagub juga sangat mendukung langkah kepolisian untuk mengungkap, dan menjatuhi sanksi hukum kepada perusahaan manapun yang tidak peduli terhadap kelangsungan lingkungan flora dan fauna. Pemprov juga akan memelajari kejadian ini sehingga ke depan tidak terulang kembali.
(uky)

Iklan

Diterbitkan oleh

admin

yang buat blog bela negara RI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s