Mantan Pahlawan Olahraga, Riwayatmu Kini

Oleh: Kompasiana.Com

Kemarin saya melihat reportase di televisi tentang para pahlawan olahraga yang dulu pernah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional, tapi kini hidupnya sangat menderita. Sungguh prihatin saya melihat para atlet yang sudah tua dimakan usia itu kini hidupnya ternyata terlunta-lunta. Dulu ketika mereka masih muda, masih berjaya, nama mereka senantiasa dielu-elukan. Baik media cetak dan elektronik memberitakannya. Ketika mereka masih muda, mereka menyumbangkan banyak medali bagi bangsa Indonesia, tapi sekarang jangankan tahu akan jasa mereka, orang-orang di sekeliling mereka pun tak kenal lagi siapa mereka. Bagaimana orang-orang bisa mengingat jasa dan wajah mereka kalo mereka saja sekarang hanya bekerja ala kadarnya.

Ada seorang ibu mantan atlet lari (sayang saya lupa namanya) yang hanya jadi penjual minuman botol keliling dan berjualan mie instan rebus di seputaran GOR Bung Karno. Kalo anda sering berolahraga di GOR Bung Karno, mungkin anda akan menjumpai sosok ibu itu. Tubuhnya agak gemuk dan kulitnya agak kehitaman, mungkin karena sering berpanas-panas ria menjajakan dagangan minuman kelilingnya itu. Dia dulu merupakan atlet lari wanita yang membawa harum nama Indonesia di Sea Games 1987, menyumbangkan banyak medali di event-event semacam itu. Selain medali, banyak pula tropi dan piagam penghargaan yang di pajang di rumahnya yang sangat sederhana.

Ada juga seorang bapak bernama Suharto yang dulunya adalah mantan atlet balap sepeda, tapi sekarang dimasa tuanya ia hanya menjadi tukang becak di kota Surabaya sana. Tinggal di rumah kontrakan kecil yang boleh dibilang semacam gubug sederhana dengan hidup ala kadarnya sebagai pengayuh becak. Padahal dulunya ia adalah atlet kebanggaan Indonesia di cabang balap sepeda. Banyak sekali bukti dari keterlibatannya membela merah putih di kancah internasional. Sea Games 1979 di Malaysia dan Sea Games 1977 di Thailand adalah bukti keikutsertaan beliau. Medali baik emas atau perak, tropi dan juga piagam penghargaan banyak dikoleksi dimasa mudanya. Tapi beragam medali, tropi dan piagam itu seakan tidak ada artinya lagi. Semua bukti kejayaan beliau itu ternyata tidak banyak membantu di masa tuanya kini. Yang lebih parah lagi, Pak Suharto ini sekarang sedang menderita penyakit hernia. Walaupun sakit yang dirasakannya, tapi dia tetap saja mengayuh becak setiap hari demi menghidupi anak istrinya. Jangankan bonus ratusan juta rupiah seperti yang sekarang ini di janjikan Menpora Andi Malarangeng untuk atlet Sea Games Indonesia yang memboyong medali ke pangkuan ibu pertiwi, Pak Suharto juga mengaku tidak pernah mendapat bonus uang seperti para atlet yang tengah bertanding di Palembang dan Jakarta saat ini. Hanya pemberian piagam penghargaan dan makan-makan untuk merayakan kemenangannya yang beliau terima kala itu. Sungguh ironis bukan!

Nasib serupa juga menimpa mantan atlet dayung bernama Jumain. Beliau sekarang hanya bekerja sebagai penjaga kapal wisata milik orang asing yang gajinya hanya sekitar 500 ribu/bulan di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Padahal dulu dimasa jayanya, namanya selalu diperhitungkan oleh negara lain di kancah internasional. Sea Games tahun 1986 di Malaysia adalah salah satu bukti nyata keikutseraan pak Jumain dalam mengharumkan nama Indonesia. Masuk koran maupun televisi sudah pasti kala itu. Tapi sekarang masuk televisi bukan dalam kondisi yang membahagiakan. Hidup penuh dengan kesederhanaan dan pemerintah pun tetap tutup mata dengan hal ini.

Itu hanya beberapa kasus tentang nasib mantan atlet yang dulu sangat berjaya dalam mengharumkan nama bangsa. Saya yakin masih banyak mantan atlet yang sekarang hidupnya menderita. Lalu di manakah negara ini? Ketika para pahlawan olahraga itu telah tua di makan usia, tapi harus hidup ala kadarnya. Yang penting tetap bisa menghidupi keluarga, walaupun kerja hanya sebagai penjual minuman keliling, pengayuh becak dan penjaga kapal wisata. Bagaimana mungkin mereka bisa bekerja di tempat yang mapan atau menjadi pegawai di instansi pemerintah kalo ijasah saja mungkin mereka tidak punya. Dulu mereka memberikan seluruh hidupnya untuk olahraga saat menjadi atlit, hingga sekolah saja dinomorduakan. Tapi sekarang setelah pensiun, hidup mereka terlunta-lunta. Negara benar-benar telah mengabaikan mereka. Negara mungkin lalai mengurusi para pahlawannya ini yang telah mengharumkan merah putih di dunia internasional kala itu, toh saat ini mereka bukanlah kalangan yang bisa diperhitungkan lagi bukan. Ibarat pepatah, habis manis sepah dibuang. Begitulah nasib para mantan atlet kita sekarang. Muda dipuja-puja, tua terlunta-lunta. Sungguh menyedihkan!

Iklan

Diterbitkan oleh

admin

yang buat blog bela negara RI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s