Nirwan Dewanto Dalam Tikungan Kehidupan

Oleh: kompas.com

”Saya tidak punya karier apa-apa di dunia film. Ini benar-benar tikungan tajam dalam jalan hidup saya…,” kata Nirwan Dewanto yang memerani tokoh Soegija dalam film ”Soegija”. Dalam perjalanan hidupnya, Nirwan melewati tikungan-tikungan yang membentuk sosok dirinya hari ini.

Pada usia relatif muda Nirwan memasuki dunia pemikiran ketika tampil dalam Kongres Kebudayaan tahun 1991. Ia datang sebagai pemikir yang masih hijau, tetapi menyentak para peserta kongres, yang dulu sebagian besar pesertanya berasal dari kalangan birokrat. Belakangan, selain sebagai pemikir yang tajam, Nirwan juga menulis puisi. Bahkan kumpulan puisinya dua kali menerima Khatulistiwa Literary Award, sebuah penghargaan bergengsi untuk sastra Indonesia.

Mungkin itu tikungan pertama dalam hidup dan kariernya sebagai sastrawan terkemuka. Cuma, sebagai orang yang bergelut dengan dunia kesenian, belum pernah terlintas di benak Nirwan untuk turun bermain film. ”Jangankan sampeyan. Saya sendiri juga kaget,” katanya tentang penawaran bermain dalam film.

”Potensi kegagalan saya memerankan Soegija sangat tinggi. Saya berbicara dengan istri saya, dia menyatakan, ’ambil saja pilihan berisiko itu’,” kata Nirwan, suami penyanyi Nya Ina Raseuki atau Ubiet.

”Saya tidak menganggap saya berhasil memerankan Uskup Soegija. Itu urusan penontonlah. Namun, saya menjadi tersadar, Soegija memang menarik untuk difilmkan. Soegija menegaskan kepemimpinan harus ditegakkan di saat segenting apa pun.”

Bagaimana Anda melihat sosok Soegija?

Soegija berani menegaskan kepada umatnya, menjadi Katolik itu adalah menjadi seratus persen republik. Uskup adalah seorang agamawan, seorang intelektual. Dalam situasi zamannya, Soegija berani mengambil keputusan politik. Hanya dengan sebuah pemberitahuan kepada para Imam Katolik di Jakarta, Soegija memindahkan Keuskupan dari Semarang ke Yogyakarta. Itu tidak ada alasan lain, kecuali menegaskan dukungan bagi Republik Indonesia.

Salah satu negara dari sebagian kecil negara yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia adalah Vatikan. Dan itu adalah usaha Soegija. Kenapa waktu itu dia pro republik? Dia sedang berusaha keras menjawab bahwa Katolik itu bukan Belanda.

Bagaimana Anda menampilkan Soegija?

Dalam film itu, kehidupan keagamaan Soegija tampil dalam serba keseharian, dengan berbagai keterbatasannya. Padahal Soegija menjadi Uskup jauh sebelum Konsili Vatikan II sehingga ia wajib berjubah jika tampil di depan umum. Dengan segala atribut itu, Soegija mampu menampilkan kehidupan beragama sebagai sikap hidup keseharian.

Karakter Soegija dalam film ini dibangun dari pemikiran Soegija, dari tulisan-tulisannya. Bahkan dialog dalam skrip juga disarikan dari berbagai naskah karya Soegija.

Itu kan artinya dia muncul sebagai tipologi. Bukan karakter dengan berbagai kekayaan. Di dalam skrip tidak banyak tindakan. Yang ada adalah ide-ide Soegija.

Semua ide Soegija diterjemahkan menjadi tindakan oleh orang-orang biasa di sekeliling Soegija. Oleh pemimpin gerilyawan, oleh juru rawat. Dalam filmnya, Soegija adalah orang yang hampir tidak pernah terlibat dalam aksi di lapangan. Namun, jika memang ia harus menjawab masalah genting, ya dia menjawab.

Penyair

Pria kelahiran Surabaya, 28 September 1961, ini seorang sarjana Geologi Institut Teknologi Bandung, namun ia memantapkan diri menjalani hidup sebagai sastrawan. Akan tetapi, bukan menjadi penyair yang merupakan tikungan tajam dalam hidupnya. ”Justru kuliah Geologi itulah tikungan tajam dalam hidup saya,” kata Nirwan yang kini adalah Direktur Program Komunitas Salihara.

Bisa dimengerti karena minatnya sejak remaja adalah menjadi penyair, kritikus sastra, dan budayawan. Ketika ia masih duduk di bangku SMP di Banyuwangi, tulisan-tulisannya sudah bertebaran di majalah anak-anak Kuncung hingga majalah Kartini. Puisi-puisinya pun telah dimuat berbagai koran lokal di Surabaya.

Tahun 1980, ia mulai kuliah di Institut Teknologi Bandung. Itu sebuah fase hidup baru yang disebutkan ”keberhasilan untuk keluar dari Banyuwangi dan Jember.” Di sana, ia aktif dalam berbagai kelompok diskusi mahasiswa, menolak tunduk kepada Normalisasi Kehidupan Kampus atau NKK yang banyak ditentang mahasiswa karena dianggap sebagai pemberangus kehidupan kampus. Kecintaannya terhadap sastra ia hidupi lewat Group Apresiasi Sastra atau GAS.

Sejak di Bandung pula ia mulai bergesekan dengan para seniman Bandung dan Jakarta, juga Taman Ismail Marzuki. Lulus tahun 1987, Nirwan lalu pindah ke Jakarta.

Tahun 1989, Nirwan menyentil karya penyair 1980-an yang disebutnya karya penjenuhan karena ”sekadar pencanggihan dari karya yang sudah ada”. Tahun 1991 saat menjadi pembicara dalam Kongres Kebudayaan 1991, Nirwan mengemukakan pemikiran tentang kemustahilan merancang bangun kebudayaan Indonesia.

Nirwan menegaskan, tidak ada determinan tunggal dalam sejarah kebudayaan mana pun. Tidak ada wakil-wakil resmi kebudayaan Indonesia karena setiap orang secara potensial adalah pencipta kebudayaan. Pernyataan itu memicu polemik. ”Saya bukan tidak percaya pada lembaga,” katanya waktu itu, menepis kesalahpahaman orang tentang pidato tajamnya itu.

Setelah 21 tahun berlalu, Nirwan membuktikan konsistensinya berlembaga lewat Komunitas Salihara.

Budaya dan negara

Demokratisasi pascareformasi belum juga memperbaiki keadaan, mengapa ya?

Karena seakan-akan kita ini memiliki negara. Persoalannya, negara berbuat apa untuk menjaga stabilitas dan keamanan?

Problem kita hari ini adalah fundamentalisme, baik dalam kehidupan keagamaan, kehidupan kesukuan, juga kehidupan lainnya. Fundamentalisme karena memercayai suatu nilai dasar yang dianggap statis, padahal nilai itu kan terus berubah. Dan semua itu konon di zaman seperti demokrasi muncul di permukaan untuk beradu. Dahulu, tekanan terhadap kebebasan berekspresi datang dari atas. Sekarang, tekanan kebebasan berekspresi justru datang dari samping, dari sesama bagian dari masyarakat.

Di mana posisi negara dalam soal ini?

Demokrasi itu sebenarnya menuntut negara yang kuat. Negara yang kuat melingkupi hal yang lebih kecil, namun mampu menjaga keselamatan warganya. Negara demokrasi misalnya, tidak mengurusi moralitas warganya. Negara itu kan menjalankan fungsi moneter, politik luar negeri, pertahanan dan keamanan negara. Kalau ada warganya yang berkonflik, negara harus mengambil peran wasit dan penghukum. Jika negara berpihak, negara mulai tidak adil. Itu berarti negara lemah.

Kita berharap ada seorang pemimpin yang memiliki otoritas moral tinggi yang bisa menegaskan bahwa ini semua keliru. Itu yang sekarang kita tidak punya. Yang ada adalah orang yang berjuang untuk bertahan dan mengatasi konflik horizontal itu. Dengan cara apa kita bertahan? Setidaknya mencari teladan. Jika teladan itu tidak ada, ya harus diciptakan dengan menafsir ulang berbagai keteladanan di masa lampau.

Apa yang mesti dilakukan kalangan seniman?

Kalangan berkesenian ya berkarya. Inisiatif selama 25 tahun terakhir di ranah kesenian, baik dalam proses penciptaan maupun penyelenggaraan kehidupan berkesenian telah diambil alih oleh masyarakat. Kesenian adalah salah satu bidang profesi yang di satu pihak bisa mengatasi berbagai hambatan.

Seniman tidak boleh takut untuk menyelenggarakan kehidupan berkesenian dan menciptakan ruang kebebasan ekspresinya. Dengan berbagai cara mereka akan selalu bisa menciptakan ruang kebebasan untuk diri mereka sendiri. Namun ruang kebebasan itu kan seharusnya meluas menjadi sebuah ruang kebebasan sosial. Ruang kebebasan sosial itu yang sekarang dihakimi secara sepihak.

Jika situasi itu dibiarkan, apa akibatnya?

Penghakiman secara sepihak itu memotong komunikasi kesenian kita. Situasi itu menimbulkan masalah komunikasi kesenian. Masyarakat tidak akan mendapatkan hasil terbaik dari produk kebudayaan kita. Bukan karena produknya tidak ada, melainkan produk itu tidak tersampaikan kepada mereka, atau masyarakat terhalang untuk sampai kepada produk terbaik kebudayaan.

Sekarang, kreativitas muncul di mana-mana, namun tetap berjarak dengan publik. Lucunya, publik tiba-tiba merespons tanpa tahu isinya?

Komunikasi ada dua tataran. Yang pertama kali, adalah berkomunikasi dengan kalangannya sendiri dulu. Kaum ilmuwan itu tidak serta-merta berkomunikasi dengan masyarakat, tetapi dengan sesama ilmuwan dulu. Itu penting untuk bisa menjaga standar.

Kita terlalu cepat berkomunikasi dengan publik. Itu tidak salah, namun komunikasi dengan publik harus dilakukan dengan membangun lembaga. Karena, dari dahulu sampai sekarang, jarak antara publik dan dunia berkesenian tidak terjembatani.

Maksud Anda agar lebih konkret?

Orang menjadi dekat dengan seni rupa jika ada museum. Jika tidak ada museum seni rupa, jarak antara publik dan seni rupa makin jauh. Bagaimana publik yang tidak pernah menonton Affandi, Soedjojono, Raden Saleh, tiba-tiba menonton lukisan Agus Suwage, itu lompatan.

Kan aneh bangsa sebesar ini tidak memiliki museum seni rupa. Inisiatif itu yang akhirnya banyak diambil oleh swasta. Itu rahmat, bahwa kegiatan itu dijalankan oleh masyarakat. Tetapi negara seharusnya tidak tinggal diam

Akhirnya, seni rupa hadir dalam kluster-kluster kecil, yang makin lama berhubungan satu sama lain, dan karena itulah akhirnya publik penikmatnya meluas. Namun, itu tidak sepadan dengan kepentingan yang seharusnya. Di Singapura saja, orang bisa pergi ke Museum Nasional untuk belajar seni rupa mereka. Jika itu terwujud di Indonesia, orang akan dengan mudah memahami mengapa karya Agus Suwage atau Rudi Mantovani, akan merasa dekat. Namun itu tidak pernah terjembatani.

Sastra

Sastra kita juga seperti berjarak terhadap publiknya?

Masyarakat yang berjarak terhadap sastranya juga terjadi karena sastra dihadirkan sekolah kita sebagai sesuatu yang harus dihafalkan. Padahal, sastra pertama-tama adalah pelajaran mengekspresikan diri secara lisan dan tertulis. Bukan membaca buku sastra. Bagaimana kita mengharapkan anak-anak kita akan mempelajari buku sastra dengan menyodorkan daftar nama pengarang. Tidak bisa.

Jadi, kalau hari ini orang tidak membaca buku sastra, itu bukan karena di sekolah mereka tidak disuruh membaca buku sastra. Namun, mereka tidak pernah dididik untuk mengekspresikan dirinya dalam lisan maupun tertulis. Sastra sebagai kegiatan organik tidak ada di dalam kegiatan pendidikan kita. Jadi sastrawan berusaha dengan cara masing-masing untuk menemukan pembacanya. Ada yang beruntung, ada yang tidak. Mereka yang beruntung adalah mereka yang bisa menggunakan daya komunikasi, baik dalam karya ataupun di luar karya mereka.

Padahal kesenian dalam arti tradisi itu bagian dari kehidupan kita, di masyarakat agraris misalnya, kesenian bagian dari kehidupan, kan?

Zaman itu telah berlalu. Ketika kita memasuki zaman industri, dan kesenian berubah fungsi kegiatan komersial, kegiatan seperti pedalangan, atau pewayangan masih bisa mempertahankan jejak itu, berubah watak menjadi lebih komersial, namun bisa mengumpulkan penonton yang lebih besar.

Itu karena kehidupan modern tidak berkembang ke seluruh aspeknya. Orang pergi ke gedung pertunjukan, dia perlu pergi ke gedung pertunjukan. Tetapi jika lembaga gedung pertunjukannya tidak berkembang, orang mencari yang lebih mudah. Sektor itu di Tanah Air tidak berkembang.

Sudah lama tidak ada perumus dan peneliti sastra?

Itu kekurangan kita hari ini. Apa yang dikerjakan HB Jassin itu mencatat. Dia tidak mengecualikan siapa pun, dan dia mencatat semuanya. Namun kerja itu sudah lama terhenti. Sejak tahun 1970-an, tidak ada lagi pencatat. Kita jangan membicarakan kritikus, pencatat saja kita tidak punya.

Dunia sastra Indonesia tidak seserius tahun dahulu. Dalam arti, para penulis sekarang menulis untuk berkomunikasi, bukan untuk mendapatkan legitimasi dalam sejarah sastra. Mereka bahkan tidak peduli dengan hal itu. Dalam arti tertentu, itu bagus karena masalah pusat dan daerah menjadi tidak ada. Dan itu ada hubungannya dengan globalisasi. Kanonikal sastra tidak penting, akar karya tidak menjadi pembahasan penting.

Namun, bukan berarti sejarah sastra tidak penting. Dahulu, Sutardji, Abdul Hadi, orang-orang serius melihat atau mencari akar sastra Indonesia. Namun yang mereka sebut akar kan masa lalu Indonesia. Sekarang orang yang mencari akar, mereka akan mencari akar di mana-mana. Sekarang orang transtruktural.

Tidak mungkin lagi kita menutup diri dari kebudayaan lain. Jika orang mencari akar di lingkungannya sendiri bisa terjebak menjadi fundamentalis juga. Apakah seorang Jawa seperti saya lebih mengerti Jawa daripada Clifford Gertz, belum tentu. Kecenderungan untuk menjadi kosmopolitan dalam arti budaya menjadi semakin luas. Sebab jika mencari akar ke dalam, jualannya jadi postcard, kartu pos.

Pewawancara: Aryo Wisanggeni, Frans Sartono, Putu Fajar Arcana

Iklan

Diterbitkan oleh

admin

yang buat blog bela negara RI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s