Sederhana, Merakyat, Demokratis, Berkharisma, dan Rela Berkorban untuk Negara adalah Semangat dan Inspirasi dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX bagi Generasi Penerus Bangsa

Oleh: iwan_daa.blog.ugm.ac.id

Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah raja terbesar Yogyakarta sepanjang sejarah kesultanan Yogyakarta sejak Perjanjian Giyanti 1755, yang juga merupakan salah satu pahlawan nasional berpengaruh Yogyakarta dan kemerdekaan Indonesia. Beliau terlahir dari pasangan Gusti Pangeran Haryo Puruboyo yang merupakan putra mahkota Keraton Yogya yang kemudian diangkat menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara, yang kemudian dinobatkan menjadi Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Sedangkan ibunya, R.A. Kustilah merupakan putri Pangeran Mangkubumi dan kemudian menyandang gelar Kanjeng Raden Ayu Adipati Anom. Lahir pada hari Sabtu, tanggal 12 April 1912 di Sompilan Ngasem, Yogyakarta dan dari kecil dikenal dengan nama Gusti Raden Mas Dorodjatun. Menurut penanggalan Jawa, beliau lahir pada tanggal 25 Rabingulakir tahun Jimakir 1842.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX telahir dengan nama Dorodjatun. Harapannya, agar kelak memiliki atau dibebani derajat yang tinggi, cakap mengemban pangkat atau kedudukan yang luhur, dan selalu berbudi baik walau memegang kekuasaan yang besar. Beliau dinobatkan menjadi Sultan Keraton Yogyakarta pada tanggal 8 Maret 1940 dengan gelar “Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga”. Hal yang menarik dalam pidato penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah, beliau mengatakan bahwa meskipun telah mengenyam pendidikan barat, beliau tetaplah orang Jawa. Sri Sultan Hamengku Buwono IX bertekad akan mempertemukan jiwa Barat dan Timur agar dapat bekerja dalam suasana harmonis.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX merupakan pribadi dan pemimpin yang sederhana, dekat dengan rakyat, demokratis, berkharisma, dan rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara. Berikut adalah sebagian kecil kisah dari fakta sejarah yang menggambarkan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai sosok yang sederhana, dekat dengan rakyat, demokratis, berkharisma, dan rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara. Semoga dengan membaca, memahami, dan merenungi beberapa kisah ini, dapat dijadikan teladan, semangat dan inspirasi bagi seluruh rakyat Indonesia, khususnya untuk generasi muda penerus kepemimpinan bangsa dan negara. Dan semoga dapat dijadikan cermin untuk introspeksi diri bagi para pemimpin yang saat ini benar-benar telah kehilangan jiwa kepemimpinannya.

Pribadi yang Sederhana : Sri Sultan Hamengku Buwono IX sering kos di orang Belanda

Kesederhanaan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sangat nampak ketika sejak kecil Sri Sultan Hamengku Buwono IX harus keluar keraton untuk menempuh pendidikan dengan Belanda. Kehidupan dengan Belanda membentuk pribadinya yang mandiri dan cerdas terhadap pengetahuan budaya barat. Meski terlahir dari keluarga Keraton Jogjakarta, kehidupan Dorodjatun muda jauh dari bayangan orang tentang kehidupan keraton hidup yang serba istimewa. Bahkan ketika berusia empat tahun, Dorodjatun sudah harus dipindahkan dari rumah sang ayah untuk kos di keluarga Belanda. Di tengah-tengah keluarga Mulder yang mengasuhnya, dia merasakan bagaimana hidup sederhana dan penuh disiplin.

Memasuki usia enam tahun, Dorodjatun diberi nama pangilan Henkie, yang diambil dari kata Henk yang berarti kecil. Pada usia enam tahun juga Dorodjatun menamatkan sekolah dasarnya di Neutrale Europese Lagere School di Pakemweg yang sekarang dikenal dengan nama Jalan Kaliurang. Seusai menamatkan Sekolah Dasar di Neutrale Europese Lagere School, Dorodjatun melanjutkan pendidikan ke Hogere Burger School (HBS), sekolah setingkat SMP di Semarang. Belum selesai satu tahun belajar di Semarang, dengan kondisi kota yang dirasa terlalu panas dan tidak cocok dengan kondisi tubuhnya, akhirnya Dorodjatun dipindahkan ke HBS di Bandung. Sama ketika berada di Sekolah Dasar, di kedua sekolah HBS itu, Dorodjatun mondok di keluarga Belanda.

Pada bulan Maret 1930, saat usianya genap 18 tahun, atas perintah ayahanda, Dorodjatun bersama dengan kakaknya, BRM Tinggarto diberangkatkan ke negeri Belanda untuk melanjutkan sekolahnya. Di sana dia dimasukan ke sekolah Gymnasium di Haarlem. Di sekolah setingkat SLTA ini, Dorodjatun menghabiskan waktu selama sembilan tahun untuk menamatkan studinya. Hal ini diakibatkan seringnya dia pindah sekolah. Saat memasuki bangku kuliah, Dorodjatun memilih Rijkuniversiteit di kota Leiden. Di universitas yang terbilang tua dan terkemuka itu, dia mengambil jurusan indologi yang merupakan gabungan dari bidang hukum dan ekonomi. Pada tahun 1937, Dorodjatun berhasil menamatkan kuliahnya. Dirinya meraih ijazah candidaat Indologi.

Melihat dari sejarah pendidikan, Sultan dibesarkan di sekolah Belanda dan diasuh oleh keluarga Belanda. Namun dia tidak pernah merasa bagian dari Belanda. Sultan tidak pernah berkompromi dengan Belanda. Sikapnya jelas membela Republik Indonesia.

Pemimpin yang Dekat dengan Rakyat : Sri Sultan Hamengku Buwono IX membuat pingsan pedagang beras

Sri Sultan Hamengku Buwono IX terkenal merakyat. Kedekatan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan rakyat pun sangat nampak ketika ia selalu mengunjungi rakyat-rakyatnya baik yang ada di pasar, desa, atau tempat lainnya. Banyak kisah menarik yang terjadi antara Sultan dan masyarakat Yogyakarta. Ada satu kisah dimana Sultan bahkan membuat seorang wanita pedagang beras pingsan. Hal ini disaksikan langsung oleh SK Trimurti, istri dari Sayuti Melik, pengetik naskah proklamasi. Wanita yang merupakan mantan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia itu menceritakan bagaimana dirinya mengalami langsung sikap ringan tangan Sultan.

Kejadian tersebut berlangsung pada tahun 1946, ketika pemerintah Republik Indonesia pindah ke Jogjakarta. Saat itu, Trimurti dari Jalan Malioboro ke utara menuju ke rumahnya di Jalan Pakuningratan (Utara Tugu). Dia penasaran dengan kerumunan yang ada. Setelah ditanyakan, ternyata ada wanita pedagang yang jatuh pingsan di depan pasar. Ternyata yang membuat warga berkerumun bukan karena wanita yang jatuh pingsan di pasar, melainkan penyebab wanita itu jatuh pingsan. Ceritanya berawal ketika wanita pedagang beras ini memberhentikan jip untuk menumpang ke pasar Kranggan. Setelah sampai di Pasar Kranggan, sang pedagang wanita ini meminta sang sopir untuk menurunkan semua dagangannya. Setelah selesai dan bersiap untuk membayar jasa, dengan halus, sang sopir menolak pemberian itu.

Dengan nada emosi, wanita pedagang ini mengatakan kepada sang sopir, apakah uang yang diberikannya kurang. Tetapi tanpa berkata apapun sang sopir berlalu menuju ke arah selatan. Seusai kejadian itu, seorang polisi datang menghampiri dan bertanya kepada pedagang wanita itu. “Apakah mbakyu tahu, siapa sopir tadi?” tanya polisi. “Sopir ya sopir. Habis perkara! Saya tidak perlu tahu namanya. Memang sopir satu ini agak aneh.” jawab sang wanita dengan nada emosi. “Kalau mbakyu belum tahu, akan saya kasih tahu. Sopir tadi adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX, raja di Ngayogyakarta ini.” jawab sang polisi. Wanita pedagang itu pingsan setelah mengetahui sopir yang dimarahinya karena menolak menerima uang imbalan dan membantunya menaikan dan menurunkan barang dagangan, adalah Sultan Hamengku Buwono IX.

Sultan yang gemar menyetir sendiri ini memang senang memberikan tumpangan. Berkali-kali orang yang mau nunut alias numpang terkejut karena yang ditumpanginya adalah mobil Sultan Yogyakarta sekaligus menteri negara. Sultan sendiri cuek-cuek saja. Dia malah senang bisa membantu masyarakat.

Pemimpin yang Demokratis :
Sri Sultan Hamengku Buwono IX ditilang Brigadir Royadin

Salah satu sikap demokratis dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah, beliau selalu memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk mengutarakan pendapat di alun-alun. Ada satu kisah yang menunjukkan betapa demokratisnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yaitu ketika beliau terkena tilang di Pekalongan. Sultan Hamengku Buwono IX kerap menyetir seorang diri. Sebuah cerita mengharukan terjadi ketika Sultan ditilang seorang polisi berpangkat brigadir. Sultan mengaku salah, tanpa ragu si polisi yang bernama Royadin pun melaksanakan tugasnya. Tidak ada arogansi atau tawaran damai di tempat. Peristiwa ini terjadi pertengahan tahun 1960an. Jam baru menunjukkan pukul 5.30 WIB di Pekalongan. Brigadir Polisi Royadin sudah berada di posnya. Persimpangan Soko mulai ramai dilalui Delman dan Becak.

Tiba-tiba sebuah sedan hitam buatan tahun 1950an melaju pelan melawan arus. Saat itu mobil yang melintas di jalan raya sangat sedikit. Royadin segera menghentikan mobil itu. “Selamat pagi, bisa ditunjukan rebuwes,” kata Royadin. Rebuwes adalah surat kendaraan saat itu. Pengemudi mobil itu membuka kacanya. Royadin hampir pingsan melihat siapa orang yang mengemudikan mobil itu. Sinuwun Sri Sultan Hamengku Buwono IX! “Ada apa pak polisi kata Sultan?” Sedetik Royadin gemetaran, tapi dia segera sadar. Semua pelanggaran harus ditindak. “Bapak melanggar verboden,” katanya tegas pada Sultan. Royadi mengajak Sultan melihat papan tanda verboden itu. Namun Sultan menolak. “Ya saya salah. Kamu yang pasti benar. Jadi bagaimana?” tanya Sultan. Pertanyaan sulit untuk Royadin. Di depannya berdiri sosok raja, pemimpin sekaligus pahlawan Republik. Dia hanya polisi berpangkat brigadir.

Dia heran tidak ada upaya Sultan menggunakan kekuasannya untuk minta damai atau menekan dirinya. “Maaf, sinuwun terpaksa saya tilang,” kata Royadin. “Baik brigadir, kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya. Saya harus segera ke Tegal,” jawab Sultan. Dengan tangan bergetar Royadin membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu. Tapi dia sadar dia tidak boleh memberi dispensasi. Yang membuatnya sedikit tenang, tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut Sultan minta dispensasi. Surat tilang diberikan dan Sultan segera melaju. Royadin baru sadar setelah Sultan berlalu. Dia menyesal, berbagai pikiran berkecamuk di di kepalanya. Ingin rasanya dia mengambil kembali surat tilang Sultan dan menyerahkan rebuwes mobil Sultan yang ditahannya. Tapi semua sudah terlanjur.

Saat apel pagi esok harinya, suara amarah meledak di Markas Polisi Pekalongan. Nama Royadin diteriakkan berkali kali dari ruang komisaris. Royadin langsung disemprot sang komandan dalam bahasa Jawa kasar. “Royadin! Apa yang kamu perbuat? Apa kamu tidak berfikir? Siapa yang kamu tangkap itu? Siapaaa? Ngawur kamu! Kenapa kamu tidak lepaskan saja Sinuwun, apa kamu tidak tahu siapa Sinuwun? teriak sang komisaris. “Siap pak. Beliau tidak bilang beliau itu siapa. Beliau mengaku salah, dan memang salah,” jawab Brigadir Royadin. “Ya tapi kan kamu mestinya mengerti siapa dia. Jangan kaku. Kok malah kamu tilang. Ngawur, kamu ngawur. Ini bisa panjang, bisa sampai Menteri Kepolisian Negara!” komisaris nyerocos tanpa ampun. Royadin ditertawakan teman-temannya. Komisaris polisi Pekalongan berusaha mengembalikan rebuwes mobil pada Sultan Hamengku Buwono IX.

Royadin pasrah saja, dia siap dihukum, siap dimutasi atau apapun. Yang pasti dia merasa sudah melaksanakan tugasnya sebagai seorang polisi. Belakangan sebuah surat dikirim dari Yogya. Sultan meminta Brigadir Royadin dipindahkan ke Yogya. Sultan terkesan atas tindakan tegas sang polisi. ”Mohon dipindahkan Brigadir Royadin ke Jogja, sebagai polisi yang tegas saya selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat.” Ditandatangani Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Royadin bergetar. Sebuah permintaan luar biasa dari orang luar biasa. Namun Royadin akhirnya memilih berada di Pekalongan, tanah kelahirannya. Sultan pun menghormati pilihan Royadin.

Royadin terus bertugas di Pekalongan. Tahun 2010 lalu dia wafat. Karena sikap tegas dan tanpa kompromi, pangkatnya pun hanya naik beberapa tingkat. Namun mungkin sosok polisi inilah yang paling diingat Sultan Hamengku Buwono IX seumur hidupnya.

Amanat Sri Sultan Hamengku Buwono IX kepada Indonesia

Mungkin belum banyak pihak yang tahu adanya fakta sejarah sebuah prasasti demokratis yang berisikan janji antara raja Yogyakarta yang kala itu dijabat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan pemerintah Republik Indonesia pada era Soekarno.

Dimana dalam prasasti tersebut berisikan pula amanat Sri Sultan Hamengku Buwono IX kepada rakyat agar mematuhi isi janji dalam prasasti tersebut.

Berikut amanat dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX kepada Indonesia yang diabadikan dalam batu prasasti (jenis tulisan disamakan dengan yang ada di prasati).

AMANAT SRIPADUKA KANGDJENG SULTAN JOGJAKARTA :

KAMI HAMENGKU BUWONO IX, SULTAN NEGERI NGAJOGJOKARTO HADININGRAT MENJATAKAN:

1. BAHWA NEGERI NGAJOGJOKARTO HADININGRAT JANG BERSIFAT KERADJAAN ADALAH DAERAH ISTIMEWA DARI NEGARA REPUBLIK INDONESIA.
2. BAHWA KAMI SEBAGAI KEPALA DAERAH MEMEGANG SEGALA KEKUASAAN DALAM NEGERI NGAJOGJOKARTO HADININGRAT, DAN OLEH KARENA ITU BERHUBUNG DENGAN KEADAAN DEWASA INI, SEGALA URUSAN PEMERINTAHAN DALAM NEGERI NGAJOGJOKARTO HADININGRAT MULAI SAAT INI BERADA DITANGAN KAMI DAN KEKUASAAN-KEKUASAAN LAINNJA KAMI PEGANG SELURUHNJA.
3. BAHWA, PERHUBUNGAN ANTARA NEGERI NGAJOGJOKARTO HADININGRAT DENGAN PEMERINTAH PUSAT REPUBLIK INDONESIA BERSIFAT LANGSUNG DAN KAMI BERTANGGUNG-DJAWAB ATAS NEGERI KAMI LANGSUNG KEPADA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.

KAMI MEMERINTAHKAN SUPAJA SEGENAP PENDUDUK DALAM NEGERI NGAJOGJOKARTO HADININGRAT MENGINDAHKAN AMANAT KAMI INI.

NGAJOGJOKARTO HADININGRAT, 28 PUASA, EHE 1976 (5 SEPTEMBER 1945).

TERTANDA

(HAMENGKU BUWONO)

Pemimpin yang Berkharisma : Sri Sultan Hamengku Buwono IX tidak takut dengan ancaman moncong tank Belanda

Dalam perjuangan melawan penjajah, Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah sosok nasionalis dan kharismatik. Ia selalu menyorakkan kemerdekaan RI seperti keikutsertaan dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 membantu Bung Karno dan Bung Hatta. Tak hanya itu, saat masa penjajahan Jepang, Sultan melarang pengiriman romusha dengan mengadakan proyek lokal saluran irigasi Selokan Mataram. Salah satu fakta sejarah yang menunjukkan betapa berkharismanya Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dimana moncong tank Belanda bukan merupakan ancaman bagi beliau. Kejadian tersebut berlangsung saat Agresi Militer Belanda II. Meski secara militer Belanda berhasil menguasai Yogyakarta pada Desember 1948 lewat Agresi Militer Belanda II, namun hal tersebut tidak ada artinya, karena tidak ada dukungan secara nyata dari warga.

Untuk mendapatkan dukungan warga, pejabat Belanda sejak awal mencoba mendekati Sultan Hamengku Buwono IX, agar bisa melunakkan hati warga Yogyakarta. Saat itu, skenario yang digunakan pejabat Belanda adalah dengan mengangkat Sultan sebagai Wali Negara. Sultan tak hanya diberi kekuasaan di wilayah bekas Karesidenan Yogyakarta, namun penguasa Yogyakarta itu diberikan kekuasaan lebih luas, yaitu akan memimpin negara bagian yang meliputi seluruh wilayah di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dengan kekuasaan itu, Sultan akan memiliki kekuasaan di seluruh wilayah bekas Republik di pulau Jawa, kecuali Banten, sebelum diserbu dan dan kemudian dikuasai tentara Belanda setelah Operasi Kraai. Namun, rencana pejabat Belanda itu tak berjalan mulus. Sultan dengan tegas menolak tawaran tersebut. Tidak ada ucapan selamat datang dari sang Sultan kepada pejabat Belanda.

Ketika Belanda mencapai Yogyakarta pada Minggu pagi tanggal 19 Desember, tidak ada sambutan dari Sultan. Dia menutup gerbang Keraton dan menolak untuk menemui komandan militer lokal Belanda, Jenderal Meijer, atau otoritas sipil Belanda. Merasa tidak disambut ramah oleh sang Sultan, panglima tentara Belanda, Letnan Jenderal Spoor, nekad mengendarai Tank Stuart menuju pintu gerbang Keraton, sambil mengancam akan menerobos masuk. Namun, Sultan tak gentar dengan ancaman itu. Sultan justru menghampiri Spoor dan menyarankan agar sang jenderal turun dari tank dan berjalan kaki ke dalam Keraton. Mendengar perkataan Sultan, Spoor merasa senang karena dia ingin bertemu dan membicarakan tawaran Wali Negara kepada Sultan. Dengan menggenakan baju Surjan berwarna kelam dan berkain batik, Sultan berbicara dalam bahasa Belanda secara lantang dengan perwira tinggi Belanda itu.

Dalam percakapan itu, Sultan justru meminta Belanda hengkang dari Yogyakarta secepatnya. “Oleh karena kalian sama sekali tidak berhak tinggal di wilayah yang telah diwariskan nenek moyangku, Ngayogyakarta Hadiningrat,” tegas Sultan menolak kehadiran Belanda. Setelah sepuluh menit berlalu, Sultan langsung bangkit dari kursi yang didudukinya. Sultan lantas mempersilahkan Jenderal Spoor untuk keluar dari Keraton, padahal sang jenderal belum sempat mengutarakan tawaran dari pemerintah Belanda.

Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara : Sri Sultan Hamengku Buwono IX berjasa mendirikan UGM

Sri Sultan Hamengku Buwono IX pernah menjadi wakil presiden NKRI, juga pernah menyumbangkan dana 6 juta gulden kepada Indonesia sebagai modal awal terbentuknya negeri ini. Beliau selalu berkomitmen untuk menjaga agar masing-masing budaya di negeri ini tidak saling mengalahkan. Khususnya budaya Timur jangan sampai kehilangan jati dirinya. Dalam bidang pendidikan Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjadi salah satu founding father Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sultan HB IX juga ikut mendukung penggabungan pendidikan tinggi yang tersebar di berbagai wilayah di Klaten, Surakarta, maupun yang ada di Yogyakarta, menjadi satu perguruan tinggi yaitu UGM. Peran sultan HB IX terhadap pendirian UGM sangat besar baik secara historis, sosiologis, politik, kultural, idenasional-ideologis, faktual, material-fisikal dan spasial-lokasional.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan dan eksistensi kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Beliau berperan sangat besar dalam pembangunan UGM yang dirintis sejak tahun 1946. Secara nyata Sultan HB IX juga memberikan bantuan dalam penyediaan sarana dan prasarana. Di antaranya adalah menyediakan tempat perkuliahan di Sitihinggil dan Pagelaran Kraton serta gedung lainnya di sekitar kraton. Ia pun menyediakan tanah kraton (sultan ground) untuk pendirian kampus UGM yang baru di wilayah Bulaksumur dan sekitarnya. Lahirnya kampus UGM tidak terlepas dari peranan HB IX sejak mulai pendirian Balai Perguruan Tinggi UGM pada 17 Februari 1946 sampai pendirian UGM pada 19 Desember 1949. Kemudian akhirnya, balai perguruan tinggi UGM berubah menjadi Universitiet Negeri Gadjah Mada sampai menjadi Universitas Gadjah Mada di tahun 1954.

Saat diresmikan pembentukan Balai Perguruan Tinggi UGM Yogyakarta pada 3 Maret 1946, Sultan HB IX dan Ki Hajar Dewantara menjabat sebagai Presiden dan Wakil Presiden Kurator Balai Perguruan Tinggi UGM Yogyakarta. Pada saat itu aktivitas perkuliahan dilaksanakan di Pagelaran Keraton, tapi sempat berhenti saat terjadi Agresi Militer Belanda. Perkuliahan baru dimulai kembali setelah persetujuan Roem Royen. Sultan HB IX juga ikut mendukung penggabungan pendidikan tinggi yang tersebar di berbagai wilayah seperti di Klaten, Surakarta, maupun yang ada di Yogyakarta. Lalu menjadi satu perguruan tinggi UGM yang berada di bawah Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Penggabungan UGM ini mendapat dukungan penuh dari Sultan HB IX tidak hanya secara partisipatif, tetapi sejak awal ikut serta menggagas dan mewujudkan.

Tidak hanya secara institusional namun juga secara aktual. Dengan demikian, peran HB IX terhadap pendirian UGM sangat besar baik secara historis, sosiologis, politik, kultural, idenasional-ideologis, faktual, material-fisikal dan spasial-lokasional. Sultan HB IX secara nyata dan konkret juga memberikan bantuan dalam penyediaan sarana dan prasarana pendidikan berupa penyediaan tempat perkuliahan di Sitihinggil dan Pagelaran Kraton serta gedung lainnya di sekitar Kraton. Termasuk menyediakan tanah kraton (sultan ground) untuk pendirian kampus UGM yang baru di wilayah Bulaksumur dan sekitarnya. UGM tidak lepas dari jasa dan sumbangan besar Sultan HB IX sebagai bapak pendiri atau founding father UGM dimana nilai-nilai kepemimpinan beliau patut diteladani oleh anak bangsa dan khususnya civitas akademika Universitas Gadjah Mada.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX menggambarkan sosok yang layak menjadi panutan, meski beliau dididik dengan cara Barat, namun beliau tetap memegang prinsip Ketimuran. Bahkan beliau mengatakan, Saya itu tetap orang Jawa meski dapat pendidikan di Barat dari kecil sampai dewasa. Sri Sultan Hamengku Buwono IX mampu menerjemahkan dan mengawinkan antara budaya Barat dan budaya Timur serta menjaga agar masing-masing budaya tidak saling mengalahkan. Khususnya budaya Timur jangan sampai kehilangan jati dirinya.

Sumber:

blog.ugm.ac.id
id.wikipedia.org
jogjakini.wordpress.com
m.merdeka.com
nationalgeographic.co.id
ugm.ac.id
http://www.esc-creation.org
http://www.google.co.id
http://www.okezone.com

Iklan

2 thoughts on “Sederhana, Merakyat, Demokratis, Berkharisma, dan Rela Berkorban untuk Negara adalah Semangat dan Inspirasi dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX bagi Generasi Penerus Bangsa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s