Menikmati Musik Lady Gaga

Oleh: Najib Yusuf

Keberhasilan kita dalam menguasai budaya dan ekonomi merupakan rahasia kekuatan kita dalam mengendalikan dunia ini. Dan budaya seks bebas merupakan slogan hidup yang dipakai oleh selain kita (goyyim/non-yahudi), agar kita bisa menguasai dan menaklukkan mereka sebagai budak kita nantinya, setelah mereka menjadi budak hawa nafsu mereka sendiri
– Simon Broke –

Kedatangan lady gaga mendapat sorotan dari banyak aktivis islam, sosoknya dinilai merepresentasikan kebebasan yang kebablasan, penampilannya dianggap tidak sesuai dengan norma yang berlaku di Indonesia, terlebih dalam Islam. Bahkan ada beberapa yang secara terang menuduh Lady Gaga sebagai bagian dari Illuminati karena kerapkali menggunakan simbolisme Yahudi. Yang lebih telak lagi ada pula yang menilai sosok Lady Gaga sebagai jelmaan Iblis.

Bukan hal baru kalau urusan moral di Negara ini bisa sangat sensitif sehingga melahirkan banyak polisi moral yang bertindak memberangus apa yang menurutnya amoral. Ada pandangan yang berkembang di sebagian masyarakat kita yang menggap bahwa serangan moral sengaja diciptakan oleh musuh Islam dalam hal ini (Yahudi dan Nasrani) untuk melemahkan generasi Muslim, sehingga kalau saja identitas keislamanannya sudah rapuh maka mudah untuk dikuasai.

Kedua pandangan di atas menjadi spirit bagi banyak kaum muslimin di Indonesia mendeklarasikan diri berperang atas nama agama melawan kehadiran Lady Gaga, walaupun yang secara terang menolak hanya FPI, HTI, MMI, yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI)

Sebuah pertanyaan mendasar perlu kita ajukan untuk menguji analasis di atas tentang asal muasal kemunduran bangsa Indonesia yang kita cintai ini. Apakah benar kalau kehadiran Lady Gaga akan memperpuruk pemuda Indonesia yang kehilangan identitasnya?

Saya akan melepaskan diri dari penilaian apakah Lady Gaga pantas berpentas di Indonesia, sebagai pribadi saya menyukai banyak music Gaga tetapi tidak menyukai cara berpakaiannya, walaupun begitu tetap saja saya mengakui kreativitas dalam berpakaian telah membuatnya terkenal. Menurut saya fenomena Lady Gaga hanya mercusuar dari perubahan zaman yang tidak mungkin di bendung, dalam terminologi the Survival of the Fittest sosok Lady Gaga yang disukai secara naluriah oleh banyak orang akan menang melawan perlawanan kejumudan. Karena sejarah membuktikan bahwa dunia ini ditakdirkan untuk terus berubah dan dinamis, kreativitas menjadi energy sedangkan kejumudan (statis) dipertahankan sekuat apapun akan berubah mengikuti. Fit yang akan bertahan dimaksud bukanlah yang paling kuat, atau mendominasi. Fit yang mampu bertahan adalah siapa yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan.

Perubahan Awalnya tertolak, tetapi anehnya lama kelamaan diikuti juga
(Nurholis Madjid)

Dalam dunia ini tidak ada yang diam, terus bergerak dan berubah, terus mengalir, termasuk berkehidupan sosial, menolak Gaga dengan alasan melanggar moral yang sudah berlaku umum sejak dulu dan berlaku selamanya tentu tidak akan mampu membendung sosok Lady Gaga, dan juga sosok Gaga lainnya. Caranya yang paling mungkin adalah menciptakan kedinamisan dalam membangun identitas pemuda, membuat dakwah lebih dinamis dan menyenangkan dari konser Lady Gaga, membuat dakwah lebih professional, lebih kreatif daripada sosok Lady Gaga. Hanya dengan itu identitas pemuda terbangun, secara logika kalau konsentrasi aktivis Islam menyerang sedangkan identitasnya sendiri tidak dibangun, yang terjadi adalah kekosongan identitas yang rentan. Sekuat apapun pengaruh amoral yang masuk jika benteng sudah kuat tak akan terpengaruh.

Apa yang saya kutip dari Simone Broke pada quote pertama menunjukkan pada kita bahwa apa yang sebenarnya menjadi kekuatan Yahudi dalam menguasai dunia bukan dari bagaimana mereka menyerang identitas orang lain, tetapi yang menjadi rahasia kemajuan mereka adalah membangun kapasitas diri pada bidang ekonomi dan membangun identitas diri pada bidang budaya. Ibarat sedang mengikuti perlombaan berlayar, musuh sudah jauh sedangkan kita sibuk bertengkar siapa yang membocorkan kapal, selain tertinggal berikutnya hanya tinggal tunggu tenggelam saja.

Khawatir terhadap Lady Gaga tidak lah keliru, tetapi pandangan yang menyatakan bahwa penikmat musik Lady Gaga dipengaruhi oleh pesona ‘amoral’ saya sendiri tidak setuju, karena menurut saya sebagai penikmat musik Gaga, dia punya kualitas bermusik yang pantas untuk dinikmati, kreatif, dan juga produktif. Adapun yang berkaitan dia dengan keyakinannya terhadap simbol illuminati itu sudah menjadi urusannya saja dengan Sang Maha Kuasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s