Tutur Katamu Cerminan Jiwa Nasionalisme

Oleh: Astriani

Sohib muda, postingan kali ini saya akan menulis tentang nasionalisme. Menurut L. Stoddard yang saya baca dari buku PPKn, Nasionalisme adalah suatu kepercayaan yang dimiliki oleh sebagian terbesar individu di mana mereka menyatakan rasa kebangsaan sebagai perasaan memiliki secara bersama di dalam suatu bangsa. Kita adalah bangsa Indonesia yang menganut sistem nasionalisme Pancasila. Pada prinsipnya nasionalisme Pancasila adalah pandangan atau paham kecintaan manusia Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila.
Prinsip nasionalisme bangsa Indonesia dilandasi nilai-nilai Pancasila yang diarahkan agar bangsa Indonesia senantiasa:

-menempatkan persatuan – kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas
kepentingan pribadi atau kepentingan golongan;
-menunjukkan sikap rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara;
-bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta tidak merasa rendah diri;
-mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban antara sesama manusia dan sesama bangsa;
-menumbuhkan sikap saling mencintai sesama manusia;
-mengembangkan sikap tenggang rasa;
-tidak semena-mena terhadap orang lain;
-gemar melakukan kegiatan kemanusiaan;
-senantiasa menjunjung tinggi nilai kemanusiaan;
-berani membela kebenaran dan keadilan;
-merasa bahwa bangsa Indonesia merupakan bagian dari seluruh umat manusia; dan
-menganggap pentingnya sikap saling menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain.

Kenapa saya tertarik menulis tentang nasionalisme. Ini ada cerita yang mendasarinya. Hari ini saya mendengar perbincangan antar laborat di sekolah saya dengan salah satu siswa. Bukan niat hati untuk menguping namun volume bicara mereka terlalu besar sehingga wajar saja jika saya dan teman-teman yang kebetulan berada di situ mendengar pembicaraan mereka.Mereka berbicara dalam Bahasa Inggris, awalnya saya agak kesulitan memahaminya. Namun lama kelamaan saya mengerti inti dari pembicaraan mereka. Laborat itu meminta pada siswa untuk menggunakan Bahasa Inggris setiap kali berbicara dengannya. Sang siswa menolak, ia beralasan bahwa ia belum lancar berbahasa Inggis. Si laborat tetap kukuh, siswa itu harus menggunakan bahasa inggris setiap kali berbicara dengannya.
Pembicaraan itu membuatku berpikir, sebenarnya baik nggak sih berbicara menggunakan bahasa asing di negara sendiri ? Lantas siapa yang akan menggunakan bahasa kita (Bahasa Indonesia) ? Orang asing ? Saya tersenyum sinis di tengah lamunan saya.
Bayangkan, di saat kita menyerukan nasionalisme, ada beberapa pihak yang dengan bangga mencetuskan untuk menggunakan Bahasa Inggris dalam pergaulan sehari-hari. Memang kita diharapkan bisa menguasai beberapa bahasa khususnya bahasa asing. Tetapi bukan berarti kita harus menggunakan bahasa asing di negara sendiri. Inilah yang menjadi hambatan bangsa kita. Bagaimana kita bisa maju jika kita terus-terusan memuja (menggunakan) produk asing ?
Harusnya kita bangga menggunakan bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari. Ada saatnya kita menggunakan bahasa asing namun, ada waktunya sendiri. Misal : saat kita pergi ke salah satu objek wisata lalu kita bertemu dengan orang asing. Ia meminta kita untuk menjelaskan tentang objek wisata tersebut. Jelas kita harus menggunakan bahasa inggris. Karena orang asing tersebut pastinya tidak bisa berbahasa Indonesia. Dan masih banyak contoh situasi yang pas saat kita menggunakan bahasa asing.
Jadi, tutur ucapan juga mempengaruhi kemajuan bangsa kita. Jangan sampai kita asyik dengan bahasa asing lalu orang asing mencuri bahasa kita. Kalau sampai itu terjadi, maka PENJAJAHAN terhadap bangsa Indonesia telah dimulai kembali. Tentunya kita tidak menginginkan hal tersebut, kan?
Demikian tulisan saya, semoga bisa menjadi motivasi untuk semua warga Indonesia.

Iklan

Diterbitkan oleh

admin

yang buat blog bela negara RI

One thought on “Tutur Katamu Cerminan Jiwa Nasionalisme”

  1. hanya orang yang berpikirsempit jika ia tidak mau terbuka dengan perkembangan jaman. brbicara dengan bahasa asing bukan berarti tak ada nasionalisme. cinta pada negara tidak hanya ditunjukkan dengan hanya menggunakan selalu bahasa Indonesia. intinya, tetap mencintai bangsa dengan menjunjung tinggi, namun juga open minded dg era globalisasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s