Indonesia dalam Lapar dan Dahaga: Membangun Nasionalisme Dalam Bentuk Kritik

aksi_hanoman_353x500Oleh: Husin’s Point Of View

64 tahun Indonesia merdeka menorehkan berbagai macam peristiwa yang menjadi bagian dari sejarah perjalanan republik ini. Menelaah perjalanan panjang dengan mensandarkan diri pada konteks kekinian dan peristiwa yang menjadi perhatian publik menjadi momentum penting untuk kebangkitan bangsa ke depan.

Pragmatisme politik akut

konstalasi politik pasca tumbangnya rezim orde baru menimbulkan euforia demokrasi yang dasyat. partai politik menjamur dimana-mana, kebebasan berbeda pendapat menjadi hal yang lumrah dan lembaga legislatif tidak lagi menjadi setempel pemerintah tetapi terlihat aktif mengkritisi kebijakan pemerintah. Sayangnya, hal ini tidak diimbangi dengan pembentukan karakter politik yang bermartabat. Dasar pengambilan kebijakan para politisi bukanlah pada kepentingan rakyat banyak tetapi lebih pada kepentingan kelompok atau partainya masing-masing. Ambisi kekuasaan seakan mengalahkan flat form dan kebenaran hakiki. Magnet kekuasaan menarik semua kelompok untuk tampil pada posisi eksekutif. Politik yang mestinya bermazhab netral bermetaforfosis menjadi monster mengerikan yang membungkus kejahatan dengan label untuk rakyat, meninabobokan idealisme atas nama kekuasan dan jabatan.

Ekonomi tak berkeadilan

Kiblat terhadap kapiltalisme dan liberalisme merupakan sosok yang sulit tergantikan secara sporadis. Output kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat menuntut kita untuk merekonstruksi ulang berbagai kebijakan. Privatisasi berbagai aset strategis bangsa merupakan hal yang menyedihkan dan menciderai nilai-nilai keadilan dalam masyarakat. Kita mungkin telah mengusir IMF dari republik ini, tetapi masih menggunakan berbagai mazhab yang dibawanya. Penciptaan lapangan kerja dan pemberantasan kemiskinan harus dimanifestasikan dalam kebijakan yang kongkrit dan bukan hanya jargon kampanye belaka.

Klaim kebudayaan dan hubungan Indonesia-malaysia

Kebangkitan nasionalisme secara sporadis bergema ketika terjadi klaim malaysia terhadap berbagai kebudayaan asli republik ini, seperti reog ponorogo, tari pendet dan wayang. Tanpa pelestarian yang sungguh-sungguh dan kesadaran kita untuk selalu menggunakan kebudayaan kita sendiri, semua tindakan kita terlihat reaktif. Bukankah selama ini kita lebih sering menggunakan budaya barat ketimbang kebudayaam kita sendiri? bukankah remaja kita lebih senang menonton film hollywood daripada pegelaran wayang? bukankah kita lebih senang berdisko daripada belajar tarian tradisonal kita sendiri. ..?

Kita semua semua sepakat bahwa tindakan malaysia adalah sesuatu yang berlebihan. Tetapi, nasionalisme kebudayaan bukanlah sekedar aksi ganyang malaysia melainkan kesadaran untuk menggunakan akar budaya sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

Jika dirunut kebelakang, kekisruhan hubungan psikologis antara Indonesia-Malaysia merupakan efek dari berbagai peristiwa yang mendahuluinya seperti lepasnya pulau sipadan dan ligitan dan nasib TKI kita yang diperlakukan secara brutal. Hal ini terus mengeskalasi dalam konteks klaim kebudayaan dan blok ambalat serta pulau jemur dewasa ini.

Teorisme yang bersemi kembali

Penangkapan terhadap para pelaku terorisme patut mendapat apresiasi. Dibutuhkan pendekatan deradikalisasi dalam penanganan terorisme di tanah air. Pemberantasan terorisme hendaknya diikuti dengan pencarian solusi atas akar masalah terosirme itu sendiri yakni ketidakadilan sosial dan ekonomi. Tanpa tindakan seperti itu tindakan radikalisasi berpeluang untuk muncul kembali.

Prita dan Potret hukum republik.

Peristiwa mencengangkan yang seolah mencederai nurani kita semua. Bagaimana kita seolah dibawa set back ke zaman orde baru. Hukum seolah selalu berpihak pada pemilik modal dan tidak berlandaskan pada nilai-nilai keadilan dalam masyarakat. Pembenahan sistem mungkin sesuatu yang mutlak diperlukan disamping pembinaan mental terhadap aparat hukum.

Nasionalisme dan Kritik

Pandangan yang menyatakan bahwa orang yang mengkritik bangsa ini tak punya jiwa nasionalisme adalah sebuah pandangan yang keliru. Orang yang terlalu banyak memuji justru seringkali tidak tulus sehingga alpa akan tindakan perbaikan. Kritik akan menghasilkan tindakan yang bersinergi positif untuk perbaikan. Kita secara bersama-sama bertanggung jawab untuk memperbaiki segalanya untuk kejayaan bangsa ini. Secara umum dapat dikatakan bahwa bangsa ini sedang mengalami dahaga kemakmuran dan lapar keadilan. Hal ini terjadi karena adanya segelintir orang yang melampiaskan nafsu kekuasaannya untuk kepentingan diri sendiri. Dan ini semestinya yang harus kita koreksi secara bersama demi kemajuan Indonesia tercinta. Dirgahayu Indonesiaku dan jayalah selamanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s