Aku (Juga) Cinta Indonesia

ilove-indonesia1Oleh: Kirana Mahatim

Tulisan ini jadi artikel gara-gara saya coba posting comment untuk artikel Ainun Sasianan Suci, tapi gak bisa-bisa, entah karena setting internet saya atau emang dari sini-nya. Alhamdulillah malah jadi artikel. Semoga mas Admin tak keberatan memuatnya… itung-itung sebagai comment yang puanjang…. Hehe….

Anyway, Baca artikel ‘Aku Cinta Indonesia’-nya Ainun Sasianan Suci, jadi ingat istilah yang rada populer beberapa tahun lalu; generation-gap alias gap antar generasi. Saya merasakan adanya gap ini ketika bicara masalah kecintaan pada ibu pertiwi.

Bagi mereka yang mengalami perang kemerdekaan (dan masih hidup sampai sekarang), mungkin tergagap-gagap menyaksikan bagaimana orang sekarang memperlakukan kemerdekaan. Yah, macam Nagabonar itu… Banyak yang tidak tinemu nalar bagi mereka…

Dulu demi sejengkal tanah, sakgundhuk bukit, orang-orang yang tidak punya cita-cita lain selain Indonesia merdeka rela nekat bawa bambu runcing atau ‘doorstood’ (bener ra ki le nulis?) rampasan, buat menghadapi pasukan Belanda yang bersenjata canggih dan terlatih secara militer. Lah, sekarang tanah, gunung, bahkan pulau boleh ‘dipake’ orang asing, dengan rasionale ‘investasi’. Ya bukannya dikasihin ke mereka, siy, mereka statusnya ngontrak, dan tetap harus ngasih imbal balik buat Indonesia.

Tapi nek dipikir, kalo imbal baliknya (uang sewa, bagi hasil, atau apalah) kok gak sebanding dengan ongkos sosial dan lingkungan hidup, lah sama aja dooong…. Tengok contoh di Papua. Sudah orang-orang native dan Papuanya sendiri tetap miskin, masyarakatnya gak puas dan mudah tersulut konflik, lingkungan alam rusak parah, dan local culture-nya juga terancam. Untuk kerusakan-kerusakan itu, betapa banyak ongkos rehabilitasinya. Belum lagi kalau bicara soal alam, rehabilitasinya bakal butuh waktu yang paaaanjaaang. Penyebab ‘kegumunan’ angkatan Naga Bonar seperti di atas, mungkin bukan sekedar karena pengalaman perjuangan mereka melawan penjajah, tapi yang jelas… itu karena mereka benar2 merasakan sumpeknya dijajah….

Gambaran menyentuh tentang gak enaknya dijajah mungkin bisa kita pelajari dari sikap hidup Nyai Ontosoroh, tokoh dalam Bumi Manusia-nya Pramudya Ananta Toer. Sementara, buat generasi yang lahir sesudahnya, rasa cinta itu mulai berkurang rupanya. Saya tidak tahu pasti, apakah nasionalisme itu hanya sekedar berubah bentuk, bukannya hilang sama sekali. Buktinya, masih ada generasi seperti Ainun yang tergugah melihat betapa ignorant-nya sesama orang Indonesia. Apalagi kalau kita bicara tentang ‘merdeka’.

Sebelum bicara tentang merdeka, ada baiknya melihat apa itu ‘tidak merdeka/terjajah’. Sebagaimana untuk tahu cahaya mungkin kita harus merasakan ‘sebelum cahaya’. Mungkinkah generasi kita lebih cuek terhadap arti kemerdekaan, cinta tanah air, dst., semata-mata karena mereka tak pernah merasakan hidup dalam kesumpekan penjajahan. Ataukah justru terlena dan merasa nyaman dijajah karena penjajahan model baru ini terasa begitu manis?

Tulisan ini bakal terlalu panjang kalau semua pertanyaan itu dijawab sekaligus. Mungkin teman-teman di pLettonic punya pemikiran yang lebih cemerlang tentang itu. Kecintaan tanah air rasanya perlu dibangkitkan lagi, mengingat betapa sebenarnya kita ini terancam atau bahkan mungkin sedang terjajah (lagi!). Sebagaimana artikel Ainun; itulah bentuk ekspresi cinta tanah air generasi sekarang, yang gelisah karena merasa cinta sendiri…hihi… ra ana sik ngancani.. Tenang, mas/mbak/mbah, kegelisahanmu kutemani….

Iklan

One thought on “Aku (Juga) Cinta Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s