Menyegarkan Persatuan Bangsa

200169904-001Oleh : Prof. Dr. Haryono Suyono

Kita sangat bersyukur bahwa kemerdekaan negara yang kita cintai, Republik Indonesia, dihasilkan bukan sebagai pemberian gratis dari penjajah, tetapi kita rebut melalui perjuangan besar bangsa bermodalkan upaya yang gigih dengan mempersatukan anak bangsa yang beraneka ragam latar belakangnya. Upaya mempersatukan anak bangsa itu mencapai puncaknya tatkala Founding Fathers Bangsa Indonesia, Mas Ngabehi Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Dr. Sutomo mendirikan Boedi Oetomo pada tahun 1908. Pendirian Boedi Oetomo itu diikuti berdirinya Serikat Islam di Solo pada tahun 1912. Munculnya kedua organisasi itu memberi inspirasi tumbuhnya berbagai lembaga serupa dalam berbagai aneka bentuknya di seluruh Indonesia.

Tumbuhnya berbagai organisasi atau lembaga tersebut mulai mewarnai niacin menebalnya semangat nasioanalisme dan kebangsaan dengan wawasan yang tinggi dan lebih luas. Duapuluh tahun kemudian, sekitar tahun 1928, anak-anak muda seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan lainnya, mulai memainkan peranannya menyebar luaskan semangat nasionalisme dan semangat kebangsaan tersebut. Seri tulisan Bung Karno dan kawan-kawannya melalui media massa seperti Suluh Indonesia Muda, Panji Islam, Pembangun, dan lainnya, menjadi acuan bagi anak muda pejuang pada masa itu.

Menarik diamati bahwa topik yang menjadi pembicaraan hari ini, sudah ditulis oleh Bung Karno mulai tahun 1926, atau barangkali sebelumnya. Bahkan Bung Karno menulis bahwa pembahasan tentang nasionalisme, kebangsaan dan bangsa telah dibahas oleh para ilmuan sejak tahun 1882. Mengutip tulisan Bung Karno, menurut pendapat seorang pujangga Ernest Renan, bangsa adalah suatu nyawa, suatu azas akal, yang terjadi dari dua hal, pertama, rakyat itu dulunya harus menjalani suatu riwayat; kedua, rakyat itu sekarang harus mempunyai kemauan, dan keinginan hidup menjadi satu. Menurut pujangga Ernest Renan itu, pengertian suatu bangsa bukan sekedar kesamaan jenis ras, jenis bahasa, agania, persamaan kebutuhan, atau batas-batas negeri saja.

Menurut Bung Karno, pendapat Renan itu diperkuat oleh ahli-ahli lain seperti Karl Kautasky dan Karl Radek, utamanya juga oleh Otto Bauer yang mempelajari secara mendalam masalah bangsa itu. “Bangsa adalah suatu persatuan perangai yang terjadi dari persatuan hal-ihwal yang telah dijalani oleh rakyat itu “. Sedangkan nasionalisme adalah suatu itikad, suatu keinsyafan rakyat bahwa rakyat itu satu golongan, satu “bangsa” ! Tekad dan motivasi inilah yang dianggap oleh Bung Karno menjiwai Boedi Oetomo dan lembaga serta organisasi lain yang secara serentak bangkit membangun persatauan dan kesatuan dari anak-anak bangsa yang berbeda latar belakangnya.

Pembicaraan tentang persatuan, nasionalisme dan kebangsaan itu tidak pernah berhenti. Dua tahun kemudian, pada bulan Agustus 1928, sewaktu menanggapi tulisan H. Agus Salim, Bung Karno kembali menulis bahwa para aktifis pergerakan harus berbesar hati karena semangat persatuan sudah merambah kemana-mana. Semangat itu mewarnai berdirinya klub-klub studi di kota-kota pendidikan seperti Bandung dan Surabaya, dan juga gerakan kepanduan pada waktu itu. Semangat persatuan, menurut Bung Karno, menjadi alas dan sendi yang teguh Partai Politik seperti PNI. Semangat persatuan itu juga menjadi roh dan penuntun bagi berdirinya dan geraknya Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).

Setelah Bung Karno menjabat sebagai Presiden, baik melalui pidato maupun langkah-langkah politiknya, kita melihat upaya yang gigih menuangkan roh persatuan, nasionalisme dan kebangsaan tersebut dalam membangun bangsa. Pada jaman Pak Harto kita melihat juga usaha yang dilakukan sama gigihnya. Setidaknya ada tiga hal tentang persatun dan kesatuan yang ditekankan kepada masyarakat. Pertama, adanya kenyataan sejarah perjuangan bersama melawan penjajahan merebut kemerdekaan. Kedua, adanya konsepsi Wawasan Nusantara yang menyatukan tanah air dan bangsa ini dari Sabang sampai Merauke. Dan ketiga, konsekwensi logis dari kedua kenyataan tersebut. Pak Harto melihat bahwa pengalaman historis perjuangan yang berat melawan penjajah, seperti juga diungkap oleh para sesepuh pendiri bangsa, telah berhasil mengatasi perbedaan ras, agama dan latar belakang lainnya.

Dalam hubungan ini jelas bahwa Pak Harto, sejak awal kepemimpinannya tidak menghendaki sebuah masyarakat Indonesia yang membesar-besarkan perbedaan yang ada. Pak Harto selalu mendambakan persatuan dan kesatuan biarpun untuk itu harus sabar menunggu dengan melakukan musyawarah untuk mufakat dalam waktu yang relative lama. Namun dapat dicatat bahwa sekali konsensus dan persatuan dan kesatuan itu tercipta, Pak Harto akan memeliharanya dengan tekun, sungguh-sungguh dan kalau perlu dengan tegas menindak pengganggunya. Latar belakang sebagai orang Jawa dan militer memberi Pak Harto kemampuan memimpin pemeliharaan dan pengembangan persatuan dan nasionalisme yang menarik. Dalam menghadapi gangguan persatuan yang bersifat SARA, suku, agama, ras, aliran/golongan, latar belakang militer yang dimilikinya memberinya kemampuan bertindak tegas. Di pihak lain, untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, Pak Harto selalu siap untuk “momong” dengan penuh kasih saying kepada seluruh anak bangsanya.

Kalau hari ini kita bicara masalah filosofis nasionalisme dan Pancasila, sekaligus mengkaitkannya dengan globalisasi, kita kembali ingat kepada kedua pemimpin besar kita, Bung Karno dan Pak Harto, bagaimana menanggapi masalah tersebut. Bung Karno sangat terkenal sebagai pemimpin yang non-kompromis. Pak Harto selalu percaya dan berusaha memberdayakan anak bangsanya untuk menjadi anak bangsa yang mandiri. Pertanyaan yang mendasar apakah pesan-pesan dan rumusan dari Founding Fathers itu masih relevan. Kalau tidak, apa lagi yang perlu kita kembangkan. Kalau melihat sejarah kenegaraan kita pesan dan rumusan itu masih sangat relevan. Bukti-bukti penyimpangan elama ini selalu berakhir dengan khaos. Karena itu, kalau hari ini kita membatasi diri pada diskusi masalah falsafah dan kemungkinan pengembangan struktur dan langkah-langkah menghadapi globalisasi, kami harapkan diskusi selanjutnya menyoroti upaya mendaratkan Pancasila lebih konkrit. Pembicaraan topik-topik yang lebih konkrit itu sangat penting, karena ada tuduhan bahwa elite politik pada awal reformasi, terangsang eforia reformasi mencoba memisahkan diri dari masa lalu, melupakan semangat nasionalisme yang oleh Founding Fathers diramu melalui persatuan dan kesatuan dengan sabar. Ada kecenderungan setelah dilakukan amandemen UUD 1945, implementasinya melupakan pesan semangat musyawarah untuk mufakat yang dengan jelas mewarnai gerakan Kebangkitan Nasional seratus tahun lalu. Kita cenderung menerima system demokrasi liberal dengan pendekatan konflik yang sangat berbeda dengan semangat yang terkandung dalam Pancasila yang menganut penyelesaian masalah melalui musyawarah untuk mufakat.

Oleh karena itu, kami mengajak Saudara sekalian berdiskusi secara professional dan obyektif dalam Seri Diskusi yang diselenggarakan oleh Nusantara Institue sambil merenungkan ajakan Bung Karno untuk tidak saja banyak bicara, tetapi juga banyak bekerja. Kami menambahkan bahwa disamping banyak bicara dan banyak bekerja, marilah kita bersama-sama mengajak masyarakat menikmati sakralnya persatuan, kesatuan, nasionalisme dan Pancasila, bukan hanya karena keindahannya yang filosofis dan abstrak. Masyarakat biasa, masyarakat awam, bisa berpartisipasi untuk melepaskan diri dari kebodohan, ketertinggalan dan kemiskinan. Marilah falsafah yang demikian anggun itu kita jabarkan secara obyektif sesuai pesan-pesan Founding Fathers yang menjadikan Pancasila sebagai Dasar Proklamasi Kemerdekaan NKRI agar rakyat banyak makin percaya diri dan mampu bersama-sama membangun dalam suasana persatuan, kesatuan dan nasionalisme yang tinggi menjadi bangsa yang lebih bahagia dan sejahera, lahir dan batin.

Iklan

2 thoughts on “Menyegarkan Persatuan Bangsa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s