Mbah Joyo

Demo VeteranOleh : Ryan Rachman

“Dulu ketika mbah masih manjadi pejuang mbah ditempatkan di baris depan. Mbah dulu berjuang di bawah pimpinan Jenderal Soedirman. Kalian tahu siapa Jenderal Soedirman?” Tanya Mbah Joyo.
“Tahu mbah. Dia kan yang berjuang dengan cara perang gerilya,” jawabku.

“Kamu benar, cah,” dia memanggilku dengan sebutan cah, meskipun aku bukan bocah lagi. Saat itu aku sudah duduk di bangku SMP kelas tiga. “Dia adalah sosok yang paling mbah banggakan. Orangnya gagah dan penuh dengan wibawa. Dia sangat kharismatik. Tentara Belanda dulu keder saat mendengar namanya,” lanjutnya.

“Terus mbah?”
“Mbah dulu salah satu pasukan kepercayaanya. Mbah ingat saat kami berada di hutan. Berhari-hari kami berjalan menembus hutan yang gelap. Secara bergantian kami memanggul Pak Dirman dengan tandu. Sungguh berat waktu itu cah, apa lagi jika hujan turun. Hati kami menjadi galau. Bagaimana tidak, kami harus memutuskan diantara dua pilihan. Melanjutkan perjalanan atau berhenti dan menunggu hingga hujan reda. Jika berhenti dan menunggu hujan reda, maka perjalanan kami akan semakin lama sedangkan jarak yang harus kami tempuh masih sangat jauh. Jika meneruskan perjalanan, kami kasihan terhadap Pak Dirman. Sedangkan tandu yang dinaikinya tidak seperti pertama kali kami membuatnya. Kain penutup atapnya sudah sobek di sana sini. Hujan yang deras dengan merembes dan menetesi tubuh Pak Dirman. Kami kasihan kepadanya, tubuhnya semakin lemas, apalagi dengan penyakit yang menggerogoti tubuhnya,” dia berhenti sejenak mengambil nafas.

“Di tengah kebingungan seperti itu, tiba-tiba Pak Dirman berkata untuk melanjutkan perjalanan. Luar biasa dia, dengan keadaan seperti itu semangat cinta terhadap tanah air tidak padam, malahan bertambah dan menggebu-gebu. Mendengar instruksi itu kami pun bertambah semangat dan melanjutkan perjalanan. Dengan semangat membara kami berjalan menembus hujan. Udara yang dingin tidak terasa sama ssekali karena sudah terbakar oleh semangat kami. Kami tidak peduli meskipun jalan licin dan becek. Meskipun kaki kami digerayangi dan dihisap darahnya oleh pacet. Kami terus berjalan.” “Lalu apa yang terjadi mbah?” tanyaku penasaran. Dia tersenyum lebar. “Sebentar,” jawabnya.

Tangannya meraih cangkir yang terbuat dari seng di depannya dan menyeruput isinya. Setelah meletakkannya kembali di atas meja kayu yang lapuk itu, kini gantian rokok kretek berlabel merah itu diambilnya. Lalu diraih korek api di sebelahnya. Dinyalakannya rokok itu. Dihisap dalam-dalam, tak berapa lama kemudian disemburkannya asap dari mulutnya. Hidungnya naik turun. Tiba-tiba dia terbatuk-batuk. Dadanya yang telanjang terlihat kembang kempis. Tubuhnya yang kurus gemetar.

Setelah batuknya berhenti dia melanjutkan ceritanya. “Kami berhenti sejenak untuk beristirahat dan membuka perbekalan kami. Kami makan sedikit sekali karena perbekalan sudah semakin menipis. Kami mengusahakan agar tetap waspada. Memang tentara sekutu tidak ada, namun di dalam hutan apa saja bisa terjadi. Siapa tahu kami diterkam binatang buas tiba-tiba atau diseruduk oleh celeng. Lalu kami melanjutkan perjalanan.” dia berhenti sejenak. Dihisapnya rokok di jari tangannya kembali. Lalu disemburkan asapnya ke arah langit. Aku masih antusias memperhatikannya dan mendengarkan ceritanya hingga selesai.

“Setelah lebih dari dua minggu kami berada di hutan, akhirnya kami sampai juga di sebuah perkampungan. Kami disambut dengan hangat oleh warga. Kami beristirahat di kampung itu untuk mengembalikan tenaga. Kami menginap di rumah kepala desa selama dua hari. Setelah merasa tenaga kami pulih, kami pun melanjutkan perjalanan. Kami memperoleh bekal yang cukup dari warga.”
“Begitu ya mbah?” kataku.

“Ya begitulah, mbah rasa segitu dulu mbah cerita. Sudah sore, sebaiknya kamu pulang, nanti mbok dicari sama ibumu. Besok kalau kamu ke sini lagi, mbah akan ceritakan banyak lagi”
“Ya mbah, terima kasih ya mbah, saya pulang dulu. Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam…”

Aku bangkit dari tempat duduk dan bersalaman dengan Mbah Joyo sambil mencium punggung tangannya yang sudah keriput. Lalu kulangkahkan kaki meninggalkannya. Sesekali aku menoleh ke belakang melihatnya. Di masih duduk di bangku kayu yang hampir ambruk. Pandangannya tertuju padaku memperhatikan setiap langkahku.

***

Mbah Joyo adalah salah satu orang tua yang tinggal di desa kami. Dia tinggal sendirian di rumahnya yang reot. Dia tidak memiliki anak. Dia ditinggalkan istri tercintanya sekitar lima puluh tahun yang lalu. Istrinya yang sedang hamil terpeleset di sungai saat hendak mengambil air. Akhirnya nyawa istrinya tak tertolong dan meninggal. Nama lengkapnya adalah Sastrowijoyo. Aku memanggilnya Mbah Joyo. Rumahnya tak jauh dari rumahku. Jika ditempuh dengan jalan kaki maka membutuhkan waktu sekitar lima menit.

Kini di usia senjanya dia hidup sebatang kara. Rumahnya dari gedg yang sudah terlihat reot. Jika masuk ke dalam maka tak perlu melepas alas kaki karena lantainya masih berupa tanah, bukan lantai cor atau tegel. Di ruang tamu ada satu set kursi tamu dengan mejanya yang usianya kurang lebih sama dengan usiaku.

Di tiang penyangga rumahnya yang terbuat dari kayu gluglu tergantung sebuah foto yang sudah menguning sebesar amplop. Potret dirinya waktu masih muda dulu. Dia nampak gagah dan tampan. Dia mengenakan baju tentara lengkap dengan topinya. Di lehernya melingkar slayer berwarna merah putih. Tangannya memegang senapan. Hanya foto itu yang menjadi hiasan di rumahnya selebihnya tak ada. Tak ada kaligrafi atau lukisan bunga.

***

Hari ini adalah hari Jumat tanggal 10 November. Seperti tahun-tahun yang lalu, pada tanggal itu, sekolah kami selalu mengadakan upacara bendera memperingati hari pahlawan. Aku berdiri di depan sendiri bertugas sebagai pemimpin upacara. aku melaksanakan kewajibanku sebagai pemimpin upacara dengan tanggung jawab.

Saat mendengarkan sambutan dari pembina upacara aku mendengarkannya dengan penuh hikmat. Pembina upacara memberikan wajangan tentang kepahlawanan.

“Anak-anakku, bangsa ini tidak akan seperti ini sekarang tanpa pahlawan-pahlawan kita yang telah gugur mendahului kita. Jasanya sangatlah besar terhadap negeri ini. Mereka rela mengorbankan harta, dan benda, bahkan nyawanya demi kemerdekaan dan mengusir para penjajah. Untuk itu, kita sebagai generasi muda, berkewajiban untuk menghargai perjuangan mereka. Kita tidak harus berperang mengangkat senjata seperti mereka, namun kita bangun negara kita tercinta dengan kemampuan kita.”
Saat mengheningkan cipta untuk mendoakan arwah para pahlawan, tiba-tiba aku ingat Mbah Joyo. Ya, apa jadinya negeri ini tanpa orang-orang seperti Mbah Joyo. Tetapi, meskipun negara ini sudah merdeka, Mbah Joyo seakan belum bisa menikmati hasil perjuangannya mengangkat senjata dulu. Sekarangpun dia harus masih berjuang untuk dapat hidup. Dia masih berjuang demi mendapat sesuap nasi untuk menyambung hidup. Tak ada orang yang bersimpati kepadanya. Jangankan untuk membantu perekonomiannya, untuk sekedar datang berkunjung dan mendengarkan dirinya berceritapun tidak. Seolah-olah tidak ada penghargaan sama sekali kepadanya. Apakah masyarakat hanya memberikan penghargaan kepada mereka yang gugur saja, sedangkan yang masih hidup dibiarkan begitu saja? Apakah pemerintah juga demikian? Pikirku.

Dalam hati aku berjanji terhadap para pahlawan, juga Mbah Joyo. Akan kuteruskan perjuangan mereka dengan membangun negara ini semampuku. Tiba-tiba mataku terasa berat dan tak terasa air mataku meleleh membasahi pipiku.

Iklan

Diterbitkan oleh

admin

yang buat blog bela negara RI

13 tanggapan untuk “Mbah Joyo”

  1. Benar2 cerita yang mengharukan, Indonesia memang seperti demikian, yach banyak terjadi habis manis sepah di buang…
    Cerita di atas hanyalah sampel terkecil dari perjalanan bangsa ini.

  2. kurang lebih sedikit saya tambahkan

    tahun 1943 penduduk setempat mutasi ke bontang,tarakan,melak

    tahun 1944 bulan oktober jam 8 malam
    perebutan basis pertahanan di balikpapan

    ceritanya panjang mungkin kapan” bisa saya kirim
    tapi saya salut keluarga besar kakek saya pejuang semua

    saya bangga akan mental pejuang dulu pantang menyerah

    mudahan saat ini mental kita juga seperti mental” pejuang

    salut buat kamu yang posting hal ini
    jadi inget alm kakek 😦

    god blase indonesia, allah hu akbar amin

  3. good2 ceritanya seru abis mas.., dan aku jadi ingat sama kakeku yang meninggal sebelom aku lahir.. karena tertembak oleh jepang keparat.., aku tahu karna nenek aku masih hidup hingga saat ini Alhamdulillah mas umurnya hapir 100tahun kurang 7 tahun.. dan nenek aku selalu bercerita saat jaman penjajahan disaat aku hendak mau tidur waktu masa kecilku..teruskan mas cerita2 pejuang tempoe duloe update teyus mas… HIDUP INDONESIAKOE Ilv Tanah Airkoe MERDEKA

  4. kakek saya, semasa hidupnya hampir nggak pernah cerita ke saya tentang perjuangan dia. cuma saja, pas ada ribut-ribut masalah pesangon veteran, saya tanya ke kakek, kenapa kakek tidak ikut berjuang sehingga nggak dapat gaji dan gelar veteran?. kakek saya jawab, “berjuang itu harus ikhlas, bukan untuk mengharapkan upah”. titik. disitu saja.

    Ketika kakek meninggal, yang layat banyaaak banget, kebanyakan dari mereka adalah veteran, mereka juga menghormat mayat kakek. dan mereka juga banyak bercerita, kalau kakek dulunya adalah pejuang pemberani, siap berjuang kapan saja dan bersungguh-sungguh. Ternyata, teman-teman kakek yang hampir tidak pernah silaturahmi ke kakek di masa hidupnya, hanya karena malu, malu karena pernah mengajak kakek untuk mendaftar jadi veteran dan digaji. tapi kakek menolaknya dan kata-kata yang sama juga pernah mereka dengar.

    “Berjuang itu harus ikhlas”.

    maksud kakek bukan nggak menghargai sejarah, tapi tidak mau menceritakan kebaikan diri sendiri. dan tidak mau gembar-gembor supaya orang lain juga ikut ikhlas.

  5. Jaya terus IndonesiaKu.
    Jaya terus Tanah AirKU.
    Terima kasih para PejuangKu
    Aku akan selalu menghargai pengorbananmu
    Sampai akhir hayatku….
    Amin

  6. Hormat saya buat penulis, Hormat saya buat sang pahlawan yg mungkin terlupakan mba joyo.>>> buat penulis bagus>>> hal seperti ini banyak orang menutup mata tapi dia bukannya buta,banyak yg menutup kuping bukannya ia tidak mendengar.>>> jangan bosan-bosan terus kita suarakan supaya dunia tahu,supaya masyarakat tahu, bawah ini ada…. bawah ini ada… bawah ini ada……… bawah ini ada… terus suara kan…… bawah ini ada….

  7. ketika ruang berubah dan penuh dengan gemerlap… kesenagan, ketenangan, ……TABAH meski tak bertambah. pada siapa lagi selain kepada anak, cucu, cicit MEREKA mengadu ………….dan akhirnya, MERDEKA adalah suatu PERJUANGAN hidup tanpa kebebasan. Salut… angkat topi dan hormat sen…ja..taaaaaaa…. untuk kalian para PEJUANG. TABAH ya Mbah… mudah-mudahan semua amal mbah menjadikan “MEREKA” TAMBAH berfikir tentang arti MERDEKA.

  8. kakek saya juga seorang pejuang, cuma sayang saya tidak sempat mendengarkan kisah-kisahnya karena saya besar di tolitoli sedangkan dia di makassar.
    sekarang saya sedang berada dimakassar, baru-baru menyelesaikan kuliah, namun kakek saya sudah meninggal waktu saya sma. namun satu hal yang pasti, dia dulu berjuang sama-sama dengan Mongisidi.
    dirumah ada fotocopy kata-kata terakhir mongisidi “Setia Hingga Akhir” beserta fotonya..

  9. Seharusnya generasi sekarang ( kelahiran awal kemerdekaan, dapat menuliskan sejarah yang diketahuinya, terutama harus jujur, maksudnya agar generasi dibawah kita, dapat membaca dan mengetahuinya. Kalau ini tidak dilakukan, saya khawatir, generasi yang kita tinggalkan, akan banyak kehiangan fakta sejarah yang sebenarnya. Apalagi sejak kita merdeka, buku yang banyak beredar adalah kebohongan sejarah. Akibat kebohongan sejarah, kita tidak memahami siapa sebenarnya musuh bangsa Indonesia, ” Indonesia yang kaya raya” sudah terjual. Sebagian besar rakyatnya miskin. Itu terjadi karena sebagian besar Pemimpin kita tidak mengetahui siapa musuh bangsa Indonesia dari dahulu sampai sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s