Nilai Filosofis Dalam Lakon Kumbokarno

kumbokarno1Oleh: Anung Joko Pamungkas

1. Perang

Seperti Jaspers yang berkata bahwa kejelasan adalah sesuatu yang saya tahu. Dalam hal ini Kumbokarno mengetahui bahwa negerinya sedang menghadapi perang melawan pasukan kera dan Rama. Terpikir oleh Kumbokarno seperti juga pendapat Sartre dengan etre-en-soi yakni “ada adalah apa adanya”. Dihadapan telah terjadi perang dan perang tersebut menimpa negeri Alengka. Tanpa sebab yang harus dijelaskan lebih lanjut, perang menyeret diri Kumbokarno untuk secepatnya mengambil sikap bagi negerinya Alengka. Dalam kesadaran yang dibangun kemudian, bahwa perang ada didepan kita dan tidak dapat lagi terelakkan. Diperlukan langkah-langkah agar perang ini dapat segera diselesaikan. Pilihan sebagai eksisten menempatkan Kumbokarno harus bertindak berdasarkan kebebasan yang ia miliki.

2. Suara hati

Perang yang terjadi didepan mata ternyata untuk menyederhanakannya tidaklah mudah bagi Kumbokarno. Dalam tahap selamjutnya suara hati Kumbokarno berperan dalam menilai perang untuk tindakan yang akan ia lakukan. Fungsi suara hati manusia seperti pendapat J.H. Newman yang berkata bahwa dengan suara hati, manusia mampu menilai situasi yang dihadapinya. Namun pada situasi yang sulit, terkadang suara hati ini sulit untuk menilai dengan tepat.

Suara hati Kumbokarno menilai bahwa Rama adalah symbol kebenaran yang tidak dapat dikalahkan. Kebenaran adalah junjungan Kumbokarno selama ini dan kebenaranlah yang selama ini ditakutkan oleh Kumbokarno. Fungsi suara hati dalam sense of duty Newman, menyuruh melaksanakan yang baik dan menghindari yang tidak baik dan seseorang harus tunduk kepada suara hatinya. Hal ini yang membuat cemas Kumbokarno, karena suara hati Kumbokarno menilai bahwa Rama adalah titisan Wisnu pembawa kebenaran di muka bumi, Rama datang untuk memusnahkan keangkaramurkaan yang diwakilkan oleh Rahwana. Suara hati Kumbokarno menilai bahwa Rama tidak bersalah dan tidak perlu diperangi.

3. Jiwa patriotik

Dalam kesadaran tersirat bahwa tindakan yang akan dilakukan Kumbokarno nanti haruslah tepat berdasarkan kesadaran yang memang benar, tindakan tersebut tidak untuk memerangi suatu kebenaran tetapi tidak pula melegalkan keangkara-murkaan. Untuk itu Kumbokarno dengan kesadaran dan kebebasan yang ia miliki harus tetap mengambil suatu keputusan apapun resikonya. Kebimbangan eksistensi ini dapat terjawab dengan melihat bahwa ia (Kumbokarno) adalah seorang senopati yang bertugas mempertahankan tanah air kelahirannya. Sebagai senopati yang bersumpah menepati darma haruslah siap diterjunkan kemedan perang sewaktu-waktu ketika negara membutuhkan dan inilah sumpah kesetiaan seorang senopati yang harus tetap dijunjung tinggi.

Selain sebagai panglima, teristimewa Kumbokarno adalah seorang bangsawan, sehingga bisa saja ia mengelak dari tugasnya tersebut. Namun hal tersebut tidak dilakukan dikarenakan ia bukan seorang pecundang, hal ini tertanam dalam diri Kumbokarno yang sejak kecil selalu melakukan olah kesatria baik fisik maupun batinnya. Nasehat-nasehat dari orang-orang terdekat lambat laun membentuk suatu pandangan hidup bagi diri Kumbokarno. Pandangan hidup yang selalu dipegang teguh oleh Kumbokarno itu adalah sadumuk bathuk senyari bumi ditohi pati yang secara harfiah dapat diartikan bahwa perkara yang menyangkut tanah air, jika diganggu maka akan dibela atau diperjuangkan sekalipun nyawa sebagai bayarannya.

Tanah adalah harta pusaka yang melambangkan harga diri, terlebih jika tanah itu adalah tanah warisan para leluhur yang selalu dipuja-puja. Harta yang harus dipertahankan dari kekuasaan pihak lain, karena tanah tersebut tempat kita dilahirkan, tempat kita mencari penghidupan dan kehidupan; tanah tumpah darah. Sikap Kumbokarno ini sejalan dengan Sartre mengenai kecemasan bahwa keputusan yang seseorang ambil adalah tepat, ketika seseorang memilih untuk ikut serta dalam perang membela negerinya, dan membayangkan bahwa pilihan tersebut adalah yang tepat dan dengan demikian mengharapkan manusia lainnya juga mengambil pilihan yang sama. Kecerahan akan keyakinan sikap akan maju kemedan perang ini seakan disetujui pula oleh pemikiran Jaspers yang menilai bahwa dengan keyakinan, manusia dapat menghayati suatu persoalan dan menghayati siapa dirinya. Keyakinan adalah hal penting berdasarkan refleksitas manusia dalam memandang persoalan dan manusia rela mati dalam keyakinannya tersebut dikarenakan keyakinan dihayati sebagai kehadiran dari yang transeden.

4. Peran cinta

Pada kesadaran yang telah lewat, keyakinan Kumbokarno berbicara bahwa perang harus disudahi. Jalan yang diambil kemudian adalah dengan maju kemedan perang dan dengan keyakinan yang bulat ia (Kumbokarno) siap mati demi negaranya, Alengka. Bagi seorang Kumbokarno, mati sebagai kusuma negara adalah harga tertinggi suatu perjuangan dan menyimbolkan darma yang tulus. Keyakinanlah yang membimbing Kumbokarno bergerak maju menjemput perang dan sekaligus meninggalkan Rahwana.

Dalam perjalanan menuju medan perang tersebut, ditengah jalan bertemulah Kumbokarno dengan Sukesi, ibunda tercinta. Tetesan air mata yang keluar membasahi bumi tempatnya berpijak dan seakan air mata tersebut sengaja dikuras habis hanya untuk pertemuan ibu-anak ini. Cinta kasih yang besar tergambar dalam pendapat G. Marcel sehingga keduanya menyatu dan saling terbuka mengenai persoalan-persoalan selama ini. Masing-masing individu ini menyadari bahwa mereka sebagai individu yang terbatas sehingga cinta kasih yang ada juga terbatas. Ketika cinta berperan dalam proses penyesalan akan penghayatan Sastra Jendra, kemudian buah dari penyesalan itu adalah tubuh bernama Kumbokarno yang sepanjang hidup tidak bisa leluasa bepergian dan harus menerima hidup dengan tapa tidur selama bertahun-tahun.

Cinta kasih membuat diri Kumbokarno jatuh pada absurditas. Kumbokarno menyadari bahwa ia hidup dari rasa penyesalan orang tuannya dalam menghayati Sastra Jendra, kemudian sepanjang tahun ia lewati dengan bertapa dan mendapati dirinya yang tanpa berdaya siap bertempur melawan sesuatu yang dipercaya benar olehnya. Kumbokarno memandang bahwa hidup ini adalah absurd dan akan berakhir pada kematian. Hal yang diemaskan oleh setiap manusia, yang ia tidak mengetahui kelahirannya, kemudian mendapati dirinya dengan berbagai keterbatasan dan manusia tersebut tidak mengetahui akan dibawa kemana tujuan hidupnya.

Kecemasan yang digambarkan oleh A.Camus sebagai sisifus dengan rutinitas hukumannya. Menggambarkan bahwa hidup sama sekali tidak bermakna. Manusia mempunyai banyak pertanyaan mengenai dunia dan kehidupannya yang tak terjawab secara rasional. Kumbokarno merasa bahwa ia lahir dalam dunia yang penuh penderitaan dan akhirnya akan menuju kekematian yang tak terpahami.

5. Makna absurditas

Puncak dari absurditas hidup adalah kematian yang tak terpahami akan maknanya. Jawaban-jawaban untuk pertanyaan seputar absurditas ini sulit untuk dirasionalkan, dan tidaklah lagi ada jawaban karena pertanyaan tentang makna kematian hanya menjadi misteri setiap manusia secara individu. Namun terdapat banyak cara agar kematian tersebut bermakna terutama bagi diri manusia itu sendiri. Cinta kasih yang terbatas seharusnya menjadi awal refleksitas diri dalam memandang dunia dan hidup yang absurd ini. Cinta kasih yang terbatas menyadarkan bahwa terdapat cinta kasih yang mutlak dan murni memperhatikan segala tingkah laku manusia.

Cinta kasih memberikan semangat kepada seseorang untuk melihat kepada dirinya. Cinta kasih yang memberi semangat seperti ungkapan G. Marcel ini diartikan sebagai darma dalam pandangan Kumbokarno. Ketika seseorang jatuh dalan absurditasan hidup, seseorang tersebut tanpa disadari mendapat pencerahan yang tidak dapat diselidiki oleh logika yang ketat. Seperti halnya illative sense Newman yang menjelaskan bahwa dengan kemampuan ini seseorang mampu memperoleh kepastian yang menyangkut hal-hal kongkrit dan individual.

Kebebasan bertindak yang didasari oleh pemahaman akan cinta kasih yang mutlak menempatkan diri Kumbokarno sebagai manusia pemberontak, yang rela menjalankan kenyataan keberadaan diri dan lingkungannya dengan sepenuh hati. Seorang manusia yang telah memahami dirinya dan menjalankan apa yang menjadi tugasnya dimuka bumi ini dengan bersandar pada darma. Menjunjung tinggi darma adalah jalan yang diyakini oleh Kumbokarno sebagai cara yang tepat dalam menjawab perang Ramayana ini. Ia maju sebagai seorang yang bebas dan ia sendiri yang membentuk dirinya menjadi arsitek yang dapat memutuskan, memilih dan bertindak serta bertanggung jawab sekaligus.

Makna Sikap Hidup Kumbokarno Dalam Konsep Bela Negara Indonesia

Maju kemedan perang sebagai senopati ataupun juga sebagai seorang rakyat adalah sama besar kebanggaannya. Negara sebagai tempat berteduh dan tempat menjalani segala hari-hari kehidupan seorang manusia selalu menjadi dasar kuat bagi seseorang untuk selalu cinta terhadap tanah air, bangsa dan negaranya. Kewajiban mempertahankan dan selalu menegakkan keberadaan tanah air tercinta adalah janji yang secara sadar terucap sekalipun dalam batin seorang warga negara sepanjang hidupnya. Kecintaan akan janji setia terhadap bangsa dan negara ini adalah roh kekuatan bagi bangsa itu sendiri.
Warga negara yang baik, yang berjiwa nasionalis adalah warga negara yang selalu meiliki andil bagi tanah airnya. Perjuangan untuk selalu bersama-sama mengawal kejayaan bangsa ini dalam mengarungi kehidupan yang masih terus ada sampai titik yang tidak dapat ditentukan lenyapnya. Segala kerusakan yang ada harus dapat diperbaiki agar selalu tercipta kedamaian hidup bersama menuju kesejahtraan yang selalu diimpikan dan dibanggakan segala bangsa didunia ini. Untuk itulah generasi-generasi yang tangguh dan berjiwa patriotis yang harus terus muncul agar bangsa selalu ada.

Sikap yang melekat pada sosok Kumbokarno diatas memperlihatkan kepada kita semua bahwa seorang warga negara tidak selalu mulus dalam menjalani kehidupannya dalam suatu negara besar sekalipun. Terdapat berbagai persoalan-persoalan yang mewajibkan seseorang atau warga negara untuk bersikap bijak dan tegas dalam memutuskan suatu persoalan, apalagi yang menyangkut kepentingan tanah air, bangsa dan negaranya. Jelas terlihat pada cerita diatas bahwa perang terjadi menimbulkan banyak kerugian dikedua belah pihak dan jalan terang seakan suatu yang utopis didalam suatu realitas perang. Seorang Kumbokarno sebagai seorang warga negara yang memiliki jiwa patritispun tanpa segan-segan membela dan mempertahankan tegaknya tanah air Alengka. Berbagai cara dan usaha telah ia lakukan dalam menangkal terjadinya perang tersebut, namun usaha itu seakan sia-sia kalau saja seseorang tersebut tidak cepat-cepat menyadarinya. Sadar bahwa dibalik kekacauan yang sedang berlangsung tersebut kerselip suatu manfaat yang akan membawa kepada perubahan yang besar bagi bangsa dan negara tercinta dikemudian hari.

Perang dewasa ini tidak hanya bersifat konvensional seperti perang persenjataan, namun juga perang terhadap kerusakan-kerusakan dalam diri kita sendiri yang mempengaruhi kerusakan terhadap bangsa dan tanah air tercinta kita ini; Indonesia. Praktik-praktik korupsi yang merajalela, penegakkan hukum yang hanya menjadi teori manis pada buku-buku tebal sampai dengan isu dis-integrasi bangsa selalu mengancam Indonesia. Perang terhadap prakti-praktik rusak semacam inilah yang harus bersama-sama kita lenyapkan dari tanah air tercinta. Tindakan yang riil seberapa kecipun usahanya adalah lebih bernilai besar dibandingkan dengan sifat munafik dibalut segala macam teori-teori indah sebagai pelembut kata.

Perang terhadap praktik-praktik semacam diatas patutlah kita bangun mulai dari diri kita sendiri. Terjadinya berbagai persoalan-persoalan bangsa haruslah kita sebagai warga negara berkewajiban menyelesaikannya agar kedamaian dan kesejahtraan selalu mengiringi kehidupan bernegara kita. Pandangan hidup Kumbokarno dalam mempertahankan sejengkal tanah airnya merupakan suatu pandangan hidup yang mulia sesuai dengan realitas tindakannya. Hal ini dapat pula kita terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita pada masa kini. Ancaman-ancaman terjadinya perpecahan dalam negara ini dapat kita selesaikan apabila kita bersatu padu dalam naungan Negara Kesartuan Republik Indonesia. Negara yang berdaulat penuh dengan wilayah dari sabang sampai merauke dan berdasarkan filosofi Pancasila.

Konsep bela negara yang sesuai sila-sila Pancasila inilah yang menjadi landasan kita dalam bergaul dan bermasyarakat dengan bangsa lain. Konsep bela negara yang harus selalu diamanatkan kepada generasi selanjutnya dengan media pendidikan yang baik dan efektif yang selama ini telah tercoreng oleh rezim-rezim penghianat bangsanya sendiri. Penyampaian yang proporsional terhadap Pancasila dan harus teraktualisasi dalam segala aspek kehidupan adalah penting dari sekedar pembelajaran Pancasila yang konservatif. Pancasila sebagai pandangan hidup seluruh warga negara Indonesia patutlah dihayati secara menyeluruh lewat jalur penyampaian yang tepat.

Penyajian nilai-nilai Pancasila yang disinggungkan dengan menyinggung persoalan-persolan yang sedang hangat terjadi adalah lebih efektif mengena pada generasi muda Indonesia dewasa ini dibanding penyajian yang selalu teoritis-utopis yang selama ini masih banyak dipraktekkan. Ketika nilai dari sila-sila Pancasila tersebut telah terhayati oleh manusia Indonesia, maka rasa cinta terhadap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dapat tercapai. Hal ini bukan hanya utopia belaka jika segala lapisan masyarakat mulai dari pejabat-pejabat pemerintahan sampai dengan rakyat diharapkan mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai pandangan hidup kita dan ikhlas mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk itu konsep bela negara adalah hak dan kewajiban seluruh warga negara Indonesia, yang hal ini telah tercantum dalam UUD 1945 pasal 30. Upaya-upaya asing untuk merusak dan menghancurkan mentalitas dan moral generasi muda Indonesia melalui berbagai kebudayaan-kebudayaan merusak seperti sikap hedonisme, peredaran narkoba sampai dengan film-film porno semakin hari semakin luas peredarannya. Dalam menangkal hal menyimpang ini diharapkan ketahanan nasional berupa pembekalan nilai-nilai luhur Pancasila berupa mental spiritual, sikap patriotis haruslah dihayati dan tertanam pada seluruh elemen masyarakat Indonesia.

Sikap bela negara ini tumbuh dari dalam diri seseorang yang dapat sekaligus menginspirasi orang lain untuk berbuat sama demi kepentingan yang lebih mulia. Fakta berbicara bahwa kesadaran bela negara masih rendah di kalangan masyarakat kita, terutama di kalangan elite politik dan ekonomi serta kaum akademisi, hal ini dapat dikatakan bahwa pendidikan mengenai arti penting konsep bela negara agar kesadaran mengenai pentingnya sikap bela negara dalam masyarakat Indonesia dinilai masih sangat relevan dan masih sangat dibutuhkan bagi keberlangsungan bangsa saat ini dan di masa mendatang. Kedaulatan penuh sebagai bangsa yang besar dan disegani oleh dunia inter-nasional kembali muncul sehingga negara tercinta ini selalu hidup dalam pangkuan ibu pertiwi disebabkan rasa bela negara yang teraktualisasi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara dan semua sadar untuk bersama membangun negara Indonesia yang lebih baik.

Kesimpulan

Eksistensi Kumbokarno adalah eksistensi yang berhubungan dengan konsep harmonisasi. Keharmonisan alam tidak dapat disangkal oleh setiap manusia walaupun untuk mewujudkan keharmonisan alam tersebut melalui suatu jalan penderitaan yang harus dirasakan makhluk hidup di alam ini. Penderitaan dalam hal ini bukan suatu penderitaan yang dipahami secara parsial oleh setiap orang, namun penderitaan yang merupakan kesatuan dari penderitaan-penderitaan setiap manusia dalam mewujudkan kebahagiaan alam/cosmos bersama, yakni keharmonisan hidup.

Dibalik penderitaan yang dirasakan oleh Kumbokarno, sebenarnya didalam penderitaan tersebut tersimpan nilai-nilai manusia yang bermartabat luhur dan yang bermodalkan kebebasan manusia sebagai makhluk otonom, manusia berbuat demi kebahagiaan yang lebih luas. Manusia dipandang sebagai subjek di dalam sejarah kehidupan, manusia bertindak didalam sejarah sebagai seorang otonom dan dari tindakannya didalam sejarah itulah manusia sekaligus mengarahkan sejarah kearah tertentu. Dengan kata lain bahwa tindakan Kumbokarno dalam perang Ramayana adalah salah satu bagian perjalanan manusia yang bebas (otonom) yang mengarah kepada pembentukan situasi cosmos yang harmonis, dimana kesejahtraan terwujud.

Manusia yang bertindak didalam sejarah menyadarkan pada dirinya bahwa manusia adalah satu kesatuan dari alam semesta dan yang manusia tersebut menemukan makna hidupnya sebagai manusia yang luhur dan bermartabat dalam kesatuannya dengan alam (cosmos). Pembentukan diri atau identitas eksisten manusia dicari dalam kesatuan harmonisasi yang keharmonisan tersebut dipahami luas sebagai keteraturan hubungan manusia dengan sesama dan hubungan manusia dengan alam semesta.

Eksistensi Kumbokarno menyadarkan bahwa manusia adalah salah satu unsur pemersatu dari unsur-unsur lainnya pembentuk keharmonisan alam dengan tujuan luhur membuat kehidupan menjadi harmonis. Unsur-unsur, yang termasuk juga manusia didalamnya merupakan pembentuk kebahagiaan tertinggi yang harus diperjuangkan dan dilalui oleh unsur masing-masing dengan jalan yang berbeda-beda. Perjuangan dimaksudkan untuk mengenal dan menyadari tentang nilai tertinggi dalam seluruh kehidupan yakni keharmonisan alam (cosmos). Konsep tentang keharmonisan ini yang pada akhirnya mengarah kepada sesuatu yang melingkupi unsur-unsur pemersatu alam (cosmos) yakni sesuatu yang transcendental; Tuhan, yang sebagai sutradara dalam cerita berjudul Keharmonisan Alam, yang salah satu pemainnya adalah manusia.
Eksistensi Kumbokarno adalah eksistensi yang lebih menekankan kepada pilihan yang harus diambil olehnya. Pilihan yang dapat membuat diri seseorang terkungkung dalam kecemasan-kecemasan. Dominasi kecemasan-kecemasan dalam diri Kumbokarno membuatnya tenggelam dalam penderitaaan, dengan kata lain dapat dikatakan bahwa ia (Kumbokarno) hidup hanya untuk menderita. Dominasi perasaan yang mengatakan bahwa hidup seseorang (Kumbokarno) hanya untuk suatu penderitaan ini memuat diri manusia untuk mencoba menerima begitu saja bahwa setiap manusia telah memiliki takdirnya sendiri.

Namun eksistensi Kumbokarno tidaklah sekedar hanya menerima kenyataan hidup dan menyimpulkan bahwa hidupnya di dunia hanya untuk penderitaan. Lebih dari itu eksistensi Kumbokarno menerobos penderitaan tersebut dengan berani menghadapi segala kecemasan-kecemasan yang timbul dalam segala persoalan yang ia (Kumbokarno) temui. Seiring penderitaan yang terus dibayangkan oleh Kumbokarno, disisi lain ia mendapatkan pula semangat dan pemaknaan dari pilihannya tersebut. Semangat inilah yang dibutuhkan oleh Ksatria agung Kumbokarno sebagai symbol aktualisasi dirinya.

Eksistensi yang tidak hanya menerima, namun dengan semangat yang muncul dari dalam hatinya yang kemudian aktualisasi diri ini penting bagi eksistensi Kumbokarno. Kesadaran akan aktualisasi menyadarkan bahwa Kumbokarno tidak semata-mata hidup hanya untuk menderita di dunia, namun dengan aktualisasi diri membuat Kumbokarno menyadari bahwa ia lahir di tengah-tengah dunia ini tidaklah sia-sia adanya. Semangat akan darma/ kewajiban suci adalah kehormatan tertinggi dalam diri Kumbokarno. Darma dalam mempertahankan tanah air tercinta, tempat ia dan para leluhurnya lahir serta tempatnya mendapatkan kehidupan adalah hal yang lebih penting untuk dijalankan dengan sebaik-baiknya disertai rasa tanggung jawab yang tinggi. Darma suci yang dipercaya oleh Kumbokarno sebagai kebenaran, Sadumuk bathuk senyari bumi ditohi pati adalah kebenaran yang harus dijunjung tinggi. Kebenaran bagi Kumbokarno adalah menjalankan darmanya sebagai satria agung Alengka, maka ketika ia meninggalkan darma tersebut maka itulah dosa terbesarnya.

Iklan

Diterbitkan oleh

admin

yang buat blog bela negara RI

8 tanggapan untuk “Nilai Filosofis Dalam Lakon Kumbokarno”

  1. Saya sangat terharu akan sifat Kumbakarna, kalau ada tulisan lagi coba ceritakan juga adiknya Wibisana yang justru dia mendukung Rama dalam menggulingkan Dasamuka

  2. jangan ikutin kumbokarno cuman karna salut or keprofesionalitasan aja dong …
    munafik tuh

    dia adalah tokoh hebat, dan semua dari hati jadi ga ada alasan untuk itu semua

  3. Mas Anung… maturnuwun wejangan dan paparan tokoh yang saya kagumi.. secara kebetulan saya dilahirkan oleh orang tua di Jalan Kumbokarno Ponorogo.. namun sejak kecil saya suka dengan tokoh wayang Kumbokarno.. besar dan gagah.. dan memang di saat krisis nasionalisme dan idealisme saat ini.. sepantasnya kita gali kembali nilai nilai filosofis leluhur.. sekali lagi maturnuwun..

  4. ghugurnya kumbokarno konyol,,,,klo diterapkan di jaman sekarang,,sudah tahu ikutpenimpin batil sama dg naik bis yg sopirnya mabuk n ugal2an,,klo manut sj ya busnya masuk jurang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s