Memasarkan Nasionalisme

indonesia-jayaOleh : Handito Joewono

Wapres Jusuf Kalla dalam pidato penutupan Munas ke-5 Kadin pada 22 Desember meminta pelaku usaha agar meningkatkan jiwa nasionalisme dan menggunakan produk dalam negeri.

Inilah salah satu hikmah dari ancaman krisis ekonomi yang sedang menghantui dunia. Tidak ada satu negara pun di muka Bumi ini yang bisa diandalkan untuk menyelamatkan Indonesia kalau sampai krisis ekonomi mendera, kecuali kita sendiri. Inilah saat yang baik untuk bersatu, meningkatkan jiwa nasionalisme dan menggunakan produk dalam negeri seperti pesan Wapres.

Setahun lalu ketika mulai memimpin pelaksanaan rangkaian kegiatan dalam rangka Rakornas Kadin Indonesia bidang Perdagangan dan Distribusi 2008, banyak rekan pengusaha yang ngeledek tema Rakornas Nasionalisme dalam Era Perdagangan Bebas.

“Hari gini kok mikirin nasionalisme,.” Begitu kira-kira komentar yang sampai ke telinga kami. Apalagi saat itu tanda-tanda krisis ekonomi belum tampak. Kini isu nasionalisme menjadi relevan dan kita bisa memanfaatkannya untuk kepentingan pembangunan nasional.

Nasionalisme dalam konteks dunia usaha adalah perwujudan kecintaan kepada bangsa dan negara, yang direalisasikan dalam langkah nyata yaitu mengutamakan produk dan mitra usaha dalam negeri.

Tentu saja nasionalisme dalam era perdagangan bebas sekarang tidaklah dimaknai sebagai antiasing atau ganyang produk asing. Moh. S. Hidayat yang terpilih kembali sebagai Ketua Umum Kadin Indonesia menekankan bahwa nasionalisme dalam era perdagangan bebas bukanlah bersikap proteksionistis. Kita harus tetap menghargai kesepakatan kerja sama internasional dan mengoptimalkannya untuk kepentingan nasional.

Pada butir-butir Pemikiran Perdagangan Indonesia 2009-2014 sebagai hasil Rakornas tersebut, terdapat beberapa poin yang berkaitan dengan nasionalisme, antara lain meningkatkan keberpihakan pada kepentingan nasional, meningkatkan penggunaan produk Indonesia, dan menata sistem perdagangan nasional yang menunjukkan keberpihakan kepada pengusaha Indonesia.

Lima langkah

Pada pokoknya, alasan untuk ‘memasarkan kembali’ nasionalisme sudah menemukan momentumnya. Sekarang bagaimana kita ‘memasarkan’ nasionalisme dalam konteks kekinian, khususnya di kalangan dunia usaha? Dalam pandangan saya, setidaknya ada lima langkah pemasaran nasionalisme yaitu:

1. Re-branding nasionalisme

Masih ada yang beranggapan bahwa nasionalisme merupakan isu zaman dulu. Derasnya pemberitaan bahwa internasionalisme adalah modernitas, bahwa dunia sudah tanpa batas lagi atau borderless world dan berita sejenis membuat nasionalisme terkesan kuno.

Diperlukan re-branding nasionalisme dengan membangun makna baru yang melibatkan generasi baru, khususnya anak muda, untuk menempatkan nasionalisme sebagai kekinian dan masa depan.

Sekarang sudah semakin banyak perusahaan dan produk yang mengangkat tema ke-Indonesiaan, yang perlu didorong lebih lanjut agar tercipta persepsi bahwa nasionalisme itu indah dan sebuah kebutuhan mendasar bagi kita semua.

2. Konkretisasi nasionalisme

Gerakan Nasional Gemar Produk Indonesia yang dimulai pada 2006 sebagai program bersama Kadin dan pemerintah merupakan bentuk konkret dari nasionalisme dalam era perdagangan bebas. Dengan memberi wujud nyata pada nasionalisme, proses memasarkan nasionalisme menjadi relatif lebih mudah.

Untuk mendorong konkretisasi nasionalisme dalam konteks dunia usaha, bisa dilakukan kegiatan memberi apresiasi kepada perorangan atau lembaga yang menunjukkan kepedulian pada produk dalam negeri. Perlu ditemukan dan dikomunikasikan wujud nyata dari nasionalisme pada masa kini.

3. Optimalisasi pendidikan

Pada beberapa dasawarsa terakhir ini kita merasakan adanya penurunan jiwa nasionalisme di kalangan anak-anak kita. Bukan saatnya untuk mencari kambing hitam siapa yang bisa disalahkan. Karena bisa jadi sumbernya dari kita sendiri yang sedang asyik dengan internasionalisme sehingga kurang menyampaikan pesan-pesan nasionalisme ke anak-anak kita.

Tidak heran anak-anak kita lebih doyan burger, pizza atau fried chicken Amerika daripada soto, rawon apalagi rujak cingur. Tentu saja ukuran nasionalisme bukan sekadar soal makan rawon atau rujak cingur, melainkan esensi besarnya menanamkan kecintaan pada bangsa dan negara sejak dini.

Peranan pendidikan, baik di rumah maupun di sekolah, menjadi langkah strategis memasarkan nasionalisme kepada generasi baru. Dengan penanaman jiwa nasionalisme sejak dini, pada masa mendatang kita harapkan generasi baru Indonesia akan menjadi garda depan pengguna produk Indonesia.

4. Penggunaan simbol

Dalam komunikasi pemasaran, peranan simbol sebagai sarana komunikasi merupakan kebutuhan penting. Untuk pemasaran nasionalisme khususnya di dunia usaha, diperlukan simbol perorangan atau lembaga yang menjadi endorser bagi produk Indonesia. Spontanitas Menteri KLH Rachmat Witoelar mencopot sepatunya yang buatan Cibaduyut dan menunjukkan kepada Wapres Jusuf Kalla dan tamu Munas Kadin merupakan salah satu contoh brand endorser yang baik bagi kegemaran pada produk Indonesia dan nasionalisme.

5. Bauran komunikasi

Zaman Bung Karno dahulu, nasionalisme ‘dibakar’ dengan pidato di hadapan ribuan rakyat. Waktu itu media komunikasi memang masih terbatas. Zaman sekarang hadir banyak media alternatif selain televisi, radio, koran, majalah, brosur, baliho, billboard atau Internet yang kesemuanya perlu dimanfaatkan untuk memasarkan nasionalisme.

Hanya saja mengomunikasikan nasionalisme tidak sekadar memilih where to say dan what to say, tetapi juga perlu how to say. Diperlukan kreatif komunikasi yang disesuaikan dengan kekinian zaman.

Kita perlu pakai momentum ancaman krisis untuk memasarkan nasionalisme. Kita tidak berharap ancaman krisis berulang lagi. Kita ingin gunakan ancaman krisis sekarang untuk menyatukan kebersamaan sebagai pengusaha Indonesia yang mencintai bangsa dan negaranya. Kalau bukan sekarang, lalu mau kapan lagi ?

Iklan

6 thoughts on “Memasarkan Nasionalisme

  1. Adalah sebuah Warning kepada kita semua untuk sadar kepada cita-cita awal. Sebenarnya akan dibawa kearah manakah Demokrasi di Indonesia ini? Jangan-jangan demokrasi ini akan diarahkan menuju demokrasi diktaktor proletariat yang haus akan revolusi berdarah atau demokrasi kapitalistik atau demokrasi sosialis yang sedang berIndehoy dengan kapitalis (berkembang di negara kuning) dan bukan lagi menuju demokrasi Indonesia yang berketuhanan, berkemanusiaan dan berkeadilan sosial. Bahkan pernah terjadi dalam sebuah negara berkembang yang dahulu dikenal sebagai sang Macan. Ketika regim lama telah ditumbangkan oleh aksi mahasiswa secara serempak di negara tersebut, serta merta kaum modal dengan lihai masuk kedalam lingkaran kekuasaan agar mereka dapat mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang akan dikeluarkan oleh pemerintah dalam kaitanya terhadap pertumbahan modal mereka. Sekarang ini merekalah yang berteriak paling lantang bahwa pemerintah tidak dapat hidup tanpa dukungan kaum modal rupanya mereka ini sudah lupa atau lupa yang dipura-purakan, ketika krisis ekonomi menghempas sang Macan, kaum modalah yang banyak sekali melakukan pengemplangan utang dalam jumlah yang fantastis dan melarikan asset mereka kenegri tetangga, sehingga saat seorang bayi lahir ceprot di negara sang Macan secara automatis mereka telah dibebani hutang. Selanjutnya apakah uni modal ini bertanggung jawab dengan membayar hutang-hutangnya? golongan kaum marjinal seperti wong cilik, pak kromo, kang marhaen maupun anak bangsalah yang menanggung beban berat atas hutang itu.

  2. Bukankah demokrasi (Demokrasi ekonomi)ala Indonesia adalah Demokrasi yang berkeTuhanan, berkeadilan sosial dan berkemanusiaan.

  3. Adalah lagu Indonesia Raya yang sering kita nyanyikan (tanpa meresapi kebenarannya?) bahwa: Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya, Untuk Indonesia Raya. saya pikir betul sekali susunannya kalau jiwanya dulu dibersihkan konon pula badannya sehat. Wah,Pasti tercapai cita-cita kemerdekaan. sebaliknya siapapun dia politikus, ekonom, birokrat, penguasa/pengusaha etc, jika badannya sehat & montok tapi jiwanya kotor? bagaimana ya caranya mengajak menuju kemandirian, kebanggaan dan kejayaan Indonesia?

  4. kita lebih meninggkatkan suatu bentuk simulasi,permainan,tontonan dan hiburan yang lebih mengarah kepada sebuah rasa nasionalisme terhadap para generasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s