Sejak Belia Cinta Tanah Air

wawan_purwantoOleh: TokohIndonesia.Com

Sebagai peneliti masalah-masalah intelijen, Wawan berhasil mengubahkan berbagai persoalan yang masih gelap menjadi bloking pemetaan geopolitik strategis, baik itu di lingkungan nasional, regional dan internasional.

Wawan secara lugas membahasakan bahasa bawah tanah menjadi bahasa kaum awam. Dengan kehadiran Wawan sebagai semacam pembicara, persoalan-persoalan intelijen yang biasanya tertutup menjadi akrab di telinga setiap orang tanpa dihantui rasa takut. Dan karena kelugasan itu pula suaranya menjadi didengar dimana-mana, terutama oleh para pemimpin negara.

Wawan menjadi sering dimintakan memberikan masukan agar pemimpin tidak salah mengambil kebijakan. Ia menjaga betul seorang pemimpin tidak pernah salah mengambil keputusan, yang salah adalah masukan yang diterima.

Selain dosen luar biasa di berbagai perguruan tinggi Wawan mendirikan pula Lembaga Pengembangan Kemandirian Nasional (LPKN), sebagai sarana baginya berkiprah membangkitkan semangat kebangsaan dan kebanggaan cinta tanah air. Benih-benih rasa cinta tanah air telah tersemai dalam dirinya sejak belia.

Pria kelahiran Kudus, 10 November 1965 ini menetap di tanah kelahiran hanya sampai kelas dua SD. Selanjutnya pindah ke Ungaran, masih Kabupaten Semarang. Selama SD ia selalu beprestasi sebagai juara, sampai-sampai memperoleh perhatian secara khusus dari Bupati Semarang, Suwarto, demikian pula dari guru-guru di kabupaten tersebut.

Hingga memasuki bangku SMP Negeri I Ungaran prestasi Wawan masih tetap menonjol. Ia tetap memperoleh perhatian secara khusus dari Pemerintah Daerah Semarang. Ia kemudian mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) antar siswa se Jawa Tengah, terpilih sebagai Ketua OSIS SMP I Ungaran, bahkan sebagai Ketua IKOSIS (Ikatan Organisasi Siswa Intra Sekolah) se Kabupaten Semarang.

Ketika tampil sebagai pemimpin siswa itulah ia memperoleh pula perhatian khsusus dari Kakanwil P dan K Jawa Tengah, hingga berkesempatan memperoleh beasiswa Super Semar.

Ketika duduk di SMA Wawan aktif di organisasi kepanduan dan prestasinya terus saja menonjol hingga dipercaya menjadi pemandu siswa se Jawa Tengah. Ia tetap mendapatkan beasiswa Super Semar, serta mendapat perhatian khusus baru dari Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Rustam, termasuk memperoleh penghargaan dari Menteri P dan K Daud Jusuf.

Wawan menempuh pendidikan S-1 Sarjana Hukum di Universitas Diponegoro, Semarang, lalu mengambil S-2 di Universitas Indonesia (UI) Jakarta, dengan spesialisasi hukum perbankan. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan doktor S-3 di Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung.

Nama Wawan mulai sangat terkenal sebagai pengamat intelijen pasca ledakan bom Bali 12 Oktober 2002. Ketika itu ia banyak diminta berbicara tentang ancaman bom di berbagai forum. Saat itu sesungguhnya Wawan sudah mengingatkan bom masih akan terus meledak, sebab akar persoalannya adalah kita telah berganti sistem pertahanan setelah pencabutan UU Anti Subversif.

UU ini selama Orde Baru berhasil menjadi kunci utama untuk mendeteksi segala kemungkinan gangguan dan ancaman. Bahkan dengan UU itu jarum jatuh pun bisa dengan peka diketahui. Atau, orang yang sedang berpikir yang tidak-tidak bisa ketangkap sebab UU ini betul-betul sangat efektif melakukan gerakan pre-emptive.

Memperoleh Feedback dari Pemerintah
Sebagai peneliti pertahanan Wawan dianggap berhasil menemukan temuan-temuan intelijen yang cemerlang. Ia kemudian diminta mengajarkan temuannya itu di Institut Intelijen Negara (IIN), Jakarta, di Leiden International Institute, dan di berbagai perguruan tinggi lain mulai sebagai pengajar program S-1 dan pasca sarjana.

Wawan banyak mengajar tentang masalah pemetaan bloking politik, pemetaan terhadap situasi yang sedang berkembang, hingga mengidentifikasi ancaman-ancaman yangmemasuki berbagai daerah. Misalnya, ia diminta mengenali kelompok apakah ini kirikah atau kanan. Wawan sering membawakan mata ajaran pemetaan seperti itu di mana-mana.

Berdasarkan riset-risetnya Wawan ternyata memperoleh feedback yang baik dari Pemerintah. Ia diminta menjelaskan bagaimana link up hasil temuannya, kemudian kalau dikembangkan terus-menerus akan bagaimana, hingga akhirnya temuan-temuan itu menjadi mata ajaran yang dipakai tetap di Institut Intelijen Negara. Karena temuannya pula Wawan berkesempatan menimba ilmu mengenai beberapa persoalan yang berkaitan dengan masalah pertahanan dan kesenjataan.

Bahkan, Wawan yang menjadi sangat familiar dengan masalah intelijen turut pula diminta memperbaharui kurikulum intelijen yang ada, untuk disesuaikan dengan perkembangan yang sekarang dan yang akan datang. Ia mendasarkan perbaikan kurikulim pada Perkiraan Keadaan atau Kirka, sehingga dikenal istilah Kirka tiga tahunan, lima tahunan, dan sepuluh tahunan.

Lobi Adalah Jalan Penyelesaian
Wawan tak pernah berhenti sebatas mengungkap informasi intelijen ke permukaan. Ia turut memberikan solusi atas berbagai persoalan yang muncul. Seperti uuntuk mencegah terorisme ia mengusulkan ada penguatan kewenangan baru bagi intelijen untuk melakukan langkah pre-emptive.

Caranya adalah memperbaharui UU Anti Subversif, kemudian memperbesar anggaran pertahanan agar mampu membeli alat-alat pertahanan yang lebih baru dan modern sesuai perkembangan jaman. Ia juga mengusulkan memperbanyak latihan dan riset-riset intelijen.

Alat-alat yang sering digunakan teroris sudah serba plastik sehingga susah terdeteksi metal detector. Taktik gerilya yang digunakan teroris mulai mengadopsi taktik pejuang Chechnya, yang dasarnya adalah taktik Pakta Warsawa. Sehingga satu-satunya penawar yang paling ampuh adalah taktik gerilya NATO, untuk itu intelijen Indonesia perlu belajar ke NATO.

Wawan juga sangat menyayangkan anggaran intelijen yang diajukan sebesar Rp 1,6 triliun, hanya disetujui Rp 675 miliar saja sudah termasuk untuk anggaran pembangunan, pembelanjaan, sehingga hanya tersisa sedikit saja untuk operasi intelijen.

Dari segi peralatan tempur pun Wawan mencontohkan betapa tertinggalnya kita. Indonesia yang mempunyai 20 unit pesawat angkut Hercules yang jalan hanya enam, dari 39 kapal perang eks Jerman Timur yang jalan hanya 10, lalu empat skuadron pesawat tempur yang jalan cuma empat biji. Pesawat Sukhoi yang kita beli ternyata tak dilengkapi dengan senjata. Karena pesawat itu belum lunas maka penerbang yang menerbangkannya masih orang-orang Rusia.

Untuk memperkuat ketahanan ekonomi akan lebih baik apabila Indonesia melobi langsung para pemilik uang agar mau menjadi investor di Indonesia. Lobi adalah cara terbaik meyakinkan kelompok lobi Yahudi yang terkenal sangat kuat, misalnya melalui IAPAC atau Israelly-American Public Affair Committee. Indonesia perlu menerobos lobi George Soros hingga Julian Robinson, pemegang ranking nomor satu spekulan terkuat Yahudi.

Intelijen Indonesia juga perlu mengetahui masalah-masalah link kelompok mana yang lebih banyak menguasai Departemen Pertahanan Amerika, bagaimana menembusnya, dan bagaimana lobinya serta melalui siapa. Wawan menyebut langkah-langkah intelijen demikian merupakan salah satu hal baru yang harus ditemukan untuk kemudian disarankan ke pemerintah untuk ditindaklanjuti.

Kepada para operator yang sedang merancang Balkanisasi di Indonesia perlu dijelaskan bagaimana posisi strategis kita yang sesungguhnya. Untuk tujuan penanganan terorisme Wawan sering keliling dunia berbicara langsung dengan para pemimpin dunia, atau paling tidak berbicara dengan media asing untuk meminta para pemimpin mau melakukan coolling down. Terorisme sudah menjadi musuh bersama internasional.

Wawan sudah pernah menyempatkan diri berkunjung ke Semenanjung Korea untuk membawa pesan perdamaian. Ia berharap di semenanjung yang lama menjadi arena pertikaian dua negara Korea, itu bisa dijadikan contoh dan sentra perdamaian dunia. Di Korea pula ia pernah hadir dalam sebuah forum pembangunan ekonomi regional, untuk menyakinkan investor agar melirik Indonesia.

Sudah Bergerak Sendiri
Wawan masih akan terus melangkah dan berbuat lebih banyak lagi untuk bangsanya, sesuai pesan Ayahandanya. Ia sendiri sudah banyak membangkitkan wawasan kebangsaan para generasi muda, serta membangun kekuatan ekonomi rakyat berskala usaha kecil dan menengah (UKM).

Wawan adalah anggota Tim Sosialisasi Wawasan Kebangsaan di Kantor Wakil Presiden, dan dipercaya memegang pengembangan sektor UKM. Dari ratusan UKM yang dibina segi permodalan, manajemen, distribusi dan pemasaran, 80 persen diantaranya berjalan dengan baik, menyebar di berbagai daerah, dengan pusat pengendalian di Cijantung, Jakarta Timur.

Wawan memulai pembangunan wawasan kebangsaan dari bawah. Sebagai Ketua Komite Sekolah SDN 08 Kampung Baru, Pasar Rebo, Jakarta Timur, ia aktif memberikan berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Tujuannya agar siswa bisa mandiri, bangkit, dan mencintai tanah airnya sejak kecil. Wawan membekali siswa dengan kegiatan latihan drumband, olah vokal, bola voli, musik, teater, komputer, pidato bahasa Inggris, latihan dasar kepemimpinan, hingga bazar murah dan pesantren kilat.

Di kalangan mahasiswa dan generasi muda di berbagai pertemuan nasional Wawan tampil aktif menjadi tutor atau sebagai nara sumber, menjadi pembina pesantren Wilayah III Jawa Barat, membina para mantan pecandu narkoba, tahanan dan narapidana, dan remaja putus sekolah.

Wawan memberi mereka kesempatan terjun ke sektor usaha kecil dan menengah, atau mengisi hari-harinya dengan berolahraga di Sentra Olahraga Cijantung. Semua dimaksudkan untuk menciptakan citra bahwa hidup tak harus kriminal melainkan perlu membangkitkan rasa percaya diri dan prestasi.

Iklan

2 thoughts on “Sejak Belia Cinta Tanah Air

  1. Sepertinya pemimpin seperti beliau yang kita cari, sudah saatnya beliau jadi orang pertama di bangsa ini yang mampu membawa bangsa ke arah yang lebihbaik, Pak wawan adalah Obama Indonesia. Mari dukung pak wawan untuk menajadikan Indonesia kearah yang lebih baik.

  2. Banyak orang2 yg bergelut didunia intelijen seperti pak wawan malah sbg pelaku sejarah perjalanan bangsa ini (bukan sekedar teori2, studi2 kasus) namun tidak diberi kesempatan memberikan sumbangsih pd bangsa dan negara, tidak ada ruang gerak, malah langkah dan kariernya dimatikan krn dianggap berseberangan dalam hal kejujuran, keluhuran, keikhlasan dalam melaksanakan tugas, no kompromi dan menomorduakan materi dan atau krn statusnya bkn ORANG KAYA bahkan bukan level seorang PEJABAT korup.
    Kebetulan saja org2 disekeliling pak wawan adalah org2 yg memiliki rasa nasionalisme yg tinggi, msh memiliki kejujuran, berbudi luhur, tanggap, arif dan bijaksana.
    Dua perbedaan yg mendasar, anda berada pada poin yg mana?
    1. PADAMU NEGERI, atau
    2. DISINI SENANG DISANA SENANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s