Bhineka Tinggal Luka

garuda-10Oleh: Tanti R Skober

Memotret Indonesia di ruang majemuk multi warna, membhineka, kayaknya sih, seperti melihat album sejarah berdebu yang perih, yang selalu saja ada gambar-gambar nanar tersembunyi. Simak, kekerasan cendekiawan, kekerasan fisik, adu provokasi, tukang perintah bernama pemerintah dan amarah muncrat berdarah-darah telah diubah-suai menjadi produk intertainment manjing ning sjroning televisi. Lelaku luka ini dihidangkan di ruang keluarga. Dengan secangkir kopi hangat, bisa saja kita bicara, ”Kebiadaban ini mari diadopsi sebagai peradaban hak epilepsi bhineka tinggal luka.”

Atas nama HAM, kerap dialirkan isyarat bahwa keindonesiaan ketika memosisikan diri di ruang steril reliji, lebih dimaknai sebagai ke-tidak-indonesia-an. Lantas pancasilapun diusung sebagai keagungan plus keanggunan. Adalah sesajen sakti mandraguna yang selalu dizikirkan sebagai obat mujarab.

Di posisi lain, dari mataair persada airmata Indonesiana, tak sedikit sejarawan yang meyakini cikal bakal nasionalisme Indonesia bermula dari Nur Islam. Histeria Allah hu Akbar yang dikobarkan para nasionalisme Islam, sebut saja pembrontakan santri Cerbon tahun 1818 yang kelak menghihami santri-santri Tegalrejo untuk mengadakan pembrontakan 1825-1830 yang lebih dikenal dengan Perang Diponegoro juga di awal abad ke-20, Haji Oemar Said Tjokroaminoto, pemimpin Syariat Islam canangkan kebangkitan nasional yang dikenal dengan gerakan kerso kuwoso mardik—, adalah pernik-pernik warna masa lalu Indonesia. Bahkan, pas merdeka, petinggi republik ini berzikir “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.…rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya.”
Dua kutub yang termaktub itu dilirik dari bilik sejarah, sebagai tiwikrama kecemasan holistik. Apa artinya? Di antara kisi-kisi jendela Indonesia, yang hadir adalah rasa cemas yang tak pernah putus dirundung malang. Ada banyak airmata tanah air mengalir di sajadah sejarah yang tentu saja bukan fiksi. Lihatlah, kemiskinan absolut, jejer pengangguran, bertebarnya fakir miskin, amarah bumi lapindo, kekerasan fisik versus kekerasan cendekiawan awal Juni 2008 di Monas hingga amarah muncrat-muncrat dan histeria massa yang menyebut Allah hu Akbar yang gemanya tidak merefleksikan keagunggan Allah; adalah fenomena sirnanya deret ukur kadar bhineka tunggal ika.
Malangnya, Indonesia tidak ragu untuk menjadi republik nestapa. Negara dan idenya pada posisi ini cuma fiksi. Nation passion yang diatasnya berkibar merah putih yang aneh. Yang kadang setiap kali ada perumitan paradoks bhineka, selalu saja ada cerita tentang negara yang gagal mengaktualisasikan diri menjadi ‘tangan tersembunyi’ penyelamat bangsa!

Negara diada-adakan, apa harus ada? Bisa jadi ini dolanan politik ketika langit makin mendung. Mungkin, ada nyanyikan puja-puji terhadap negara. Usai chaos, usai parahara amarah terbitlah bhineka tunggal ika. Sebab prahara dan kekalutan tatanan sosial perlu diakhiri. Caranya? Bendera otoritas sentral kudu dikibarkan. Dan otoritas sentral itulah yang benama negara.

Artinya lagi,mestinya kedaulatan tertinggi itu ada pada negara. Indonesia kudu memosisikan kekuasaan sejenis genita ajaib yang menciptakan ‘hukum-hukumnya’nya sendiri di luar moralitas konvensional dan agama. Negara lahir dan mengalir memetaforsa secara alamiah. Ia tumbuh dari tatanan sosial. Dan perlu. Soalnya, tanpa otoritas sentral dan otoritas tak tersaingi, Indonesia cuma album busuk di atas brandkar rumah sakit jiwa.

Memang mensakralkan Indonesia sekaligus mensterilkan tangan negara dari darah, tirani dan kebringasan totaliter adalah keniscayaan utopis. Tapi Indonesia harus sebagai pamayung hukum tatanan umum. “Negara itu tercipta dari bentangan jiwa yang mensejarah, “ungkap Georg Wilhelm Friederch Hegel, “Maka negara adalah penjelmaan kehendak Tuhan.” Bahkan lebih jauh Hegel esaikan cahaya imani sebagai substasi ruh negara. “Negara tidak sekedar suara Tuhan, tetapi Tuhan itu sendiri, ”tulis Hegel,” Tuhan, sang Jiwa menyatakan diri-Nya dalam sejarah dan negara merupakan tujuan dari sejarah.”

Indonesia tentu saja bukan karya fiksi. Meski kita menyadari bahwa Indonesia adalah satu halaman dari satu buku yang sangat luar biasa besar, yang tidak diketahui jumlah halamannya. Indonesia adalah darah syuhada, adalah airmata bhineka tunggal ika yang mengalir di hamparan sajadah sejarah.

Artinya, republik bernama Indonesia tidak lebih dari kesementaraan yang tak ajeg. Maka, mumpung bayang-bayang bernama Indonesia itu belum ditarik dari garis edarNya, kenapa bhineka tunggal ika ini tidak diartikulasi sebagai biarlah kemajemukan menari di atas sajadah sejarah penuh warna, berekspresi di bawah lanskap langit tunggal ika?

Iklan

Diterbitkan oleh

admin

yang buat blog bela negara RI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s