Tentara Pecah Ndase

tentara-inaBy Ndoro Kakung

Paklik Isnogud punya anekdot bagus tentang tentara Indonesia. Begini katanya, “Tentara itu profesi yang cuma boleh ngumpul ramai-ramai dua kali: waktu ulang tahun atau ada dangdutan di markasnya.”

Saya ngakak. Dan, sedikit khawatir. Soalnya, guyonan Paklik itu sedikit berbahaya. Kalau saja Paklik melontarkan joke itu di zaman “normal” dulu, besok pasti dia sudah hilang mendadak tak tentu rimbanya.

Untunglah, zaman sudah berubah. Kalaupun ada tentara yang mendengar ledekan itu, paling-paling Paklik cuma kena sikut. Semoga sih, tidak ya. Hehehe …

Hari ini TNI memang ngumpul lagi [baca: upacara] untuk merayakan hari jadinya. Tentu saja, seperti biasanya setiap tahun, ada gelar pasukan, defile, terjun payung, dan lain-lain. Nyaris sama setiap tahun. Namanya juga tentara. Kalau beda namanya Menwa atau Pramuka. Ups!

“Tapi, begini, Mas,” kata Paklik Isnogud sambil nonton TV yang menayangkan acara HUT TNI. “Menurut sampean, tentara itu alat negara, alat pemerintah, atau alat mati, sih?”

“Halah, gitu aja nanya. Ya, kalau menurut undang-undang sih, tentara itu alat negara, Paklik. Mosok alat sampean?”

“Oh, begitu ya? Tapi, coba sampean tanyakan kepada para perwira dari angkatan mana pun, terutama mereka yang dari Angkatan ‘45. Mereka pasti akan menjawab bahwa jadi TNI pertama-tama adalah ‘jadi pejuang’, dan sama sekali bukan ‘alat mati’.

“Maksudnya bagaimana tuh, Paklik?”

“Begini, Mas. Memang ndak mudah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh sejarah, setelah pergolakan perjuangan mereda dan semua pihak dihadapkan kepada tugas rutin serta soal-soal yang harus stabil dan melembaga.

Tentara yang melihat dirinya bukan ‘alat mati’ dari pemerintah, bahkan yang ‘tidak dapat berdiri netral terhadap baik-buruknya pemerintah’, bisa terdengar seakan-akan menghalalkan insubordinasi. Tidakkah itu agak mencemaskan, Mas?

Tidak dengan sendirinya mencemaskan, memang. Namun, tentu saja setiap kali seorang prajurit yang bukan ‘alat mati’ harus selalu siap dengan dilema.

Di satu pihak ia tidak netral terhadap baik-buruknya pemerintah. Di lain pihak ia harus patuh, sesuai dengan keharusan tentara untuk utuh dan ampuh, kepada apa yang diperintah atasan — dan atasan itu dalam wujudnya yang biasa adalah orang pemerintah.

Tak ayal lagi, ia seakan-akan contoh tentang kontradiksi yang terkandung dalam istilah ‘prajurit revolusioner’. Prajurit merupakan unsur dari tertib, si revolusioner merupakan unsur pembangkangan.

Mungkin itulah sebabnya, seperti ditulis oleh Amos Perlmutter dalam The Military and Politics in Modern Times (1977): prajurit revolusioner bukanlah satu tipe yang permanen. Yang revolusioner kemarin, memang tak mesti selalu revolusioner di hari nanti.

Begitu, Mas. Ngerti?”

“Hehehe … maaf, saya ndak paham, Paklik. Omongan sampean ketinggian buat saya, hehehe … “

“Huh, dasar lemot!”

Asyem. Memangnya sampean paham, Ki Sanak?

Iklan

3 thoughts on “Tentara Pecah Ndase

  1. Yang pecah kepalanya si paklik itu,,,cuma tentara indonesia yang doktrinnya prajurit pejuang berasal dari rakyat..di jaman sekarang doktrinnya masih tetap tuh…itu tandanya tentara kita tidak mengenal bisnis dalam perjuangan demi mempertahankan kedaulatan negara ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s