Hari Bela Negara Pengakuan Terhadap Tokoh Sumbar

sjafrudin_prawiranegara1Oleh: Saribulih

Deklarasi Pemerintahan Darurat Republik Indonesia oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara di Sumbar, telah disahkan. Setiap tanggal 19 Desember diperingati sebagai Hari Bela Negara. Keputusan ini ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keppres No.28 tahun 2006.

Satu persatu diskriminasi sejarah kembali mulai diluruskan. Bahkan, perlakuan negara terhadap jasa besar seseorang terhadap eksistensi bangsa Indonesia telah dinilai secara objektif dan proporsional.
Sebagai contoh, Sjafruddin Prawiranegara yang sempat menjadi Presiden Pemerintahan Republik Indonesia (PDRI) telah diakui keberadaannya. Padahal, dimasa Orde Baru, tokoh yang terkait dengan gejolak Pemerintahan Revolusinir Republik Indonesia (PRRI) ini dianggap pemberontak. Sampai-sampai salah satu rentetan sejarah republik ini dihilangkan tanpa jejak.
Kalau ditelusuri lebih detail, kata Guru Besar Sejarah Universitas Padjajaran, Bandung, Dr Nina H Lubis, dalam Seminar Keberhasilan PDRI dalam Mempertahankan Eksistensi Republik Indonesia di Aula Gedung Mahkamah Konstitusi, Selasa (18/12), Sjafruddin Prawiranegara pernah menjadi penyelamat Republik Indonesia dari ‘sakratul maut’. Mr Sjafruddin tambahnya, adalah Presiden Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dibentuk karena pusat permintahan ketika itu, Jogjakarta, diserbu pasukan Belanda. Namun, Mr Syafruddin yang berada di Sumatera ketika itu membentuk pemerintahan darurat untuk mengantisipasi kekosongan kepemimpinan nasional. Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh Hatta, dan sejumlah menteri berada dalam tawanan Belanda. “Tanpa PDRI, republik ini tidak akan ada,” tegas Nina.
“Tanpa ibu kota dan kepemimpinan nasional, Republik Indonesia secara de facto kehilangan eksistensi. Akibat kegagalan perundingan lanjutan Renville pasukan Belanda melancarkan serangan militer ke bebagai daerah terutama pusat ibukota, Jogjakarta. Karena itulah, PDRI merupakan simpul dan bagian penting dari kelangsungan republik ini. Atas dasar itulah, Mr Sjafruddin yang menjadi Presiden PDRI harus terus diperjuangkan untuk digelari sebagai pahlawanan nasional,” ujarnya.
Selain jasanya sebagai presiden PDRI, dia juga ikut memberi kontribusi besar terhadap kemunculan Bank Indonesia. Mr Syafruddin dari awal sudah mengusulkan supaya BI sebagai Bank Sentral yang menjadi lembaga independen. Ia tidak di bawah dominasi pemerintah. Baginya, kala kekuasaan politik mencakup kekuasaan finansial bisa membahayakan sirkulasi keuangan. Dan Pada 1999, yakni pada masa pemerintahan BJ Habibie, gagasan Mr Sjafruddin menjadi landasan Undang-Undang BI.
Sementara itu, Gubernur Sumbar dalam sambutan pertama kali peringatan Hari Bela Negara 19 Desember 2007, mengatakan hal ini sebagai penghargaan terhadap perjuangan masa lalu dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia. Ditetapkannya Hari PDRI sebagai HBN satu bentuk kebanggaan Sumbar, karena baru pertama kali sejarah di luar pulau Jawa ditetapkan sebagai hari nasional.
Tanggal 19 Desember 1948 dibentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatra Barat karena pemimpin Republik Indonesia Soekarno-Hatta ditawan oleh Belanda, yang ingin meneruskan penjajahanya kembali. Belanda berharap akan terjadi kevakuman politik di Indonesia karena Presiden dan Wakil Presiden di Yogyakarta telah ditangkap. Sehingga Indonesia yang baru saja merdeka dapat dikuasai kembali.
Dengan inisiatif politik dan penuh rasa tanggung jawab Syafruddin Prawiranegara mengadakan rapat membentuk PDRI tanggal 19 Desember 1948. Pemerintah Darurat yang bersifat mobile ini berbasis pada beberapa tempat antara lain Bidar Alam, Sumpur Kudus, Halaban, dan Koto Tinggi.
Inisiatif politik Mr.Syafruddin Prawiranegara mendapat dukungan luas dari kalangan rakyat. Pada akhirnya kedaulatan dan kemerdekaan RI dapat dipertahankan. “Oleh sebab itu dapat dipahami bahwa PDRI merupakan salah satu mata rantai sejarah kemerdekaan Indonesia yang sangat penting untuk kita kenang, kita ingat dan kita tempatkan dalam rangkaian sejarah perjuangan Nasional,” ujar Gamawan.
Meskipun PDRI tidak pernah ditampilkan secara resmi, namun selama ini juga tidak diakui sebagai mata rantai sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Pada tahun 2006 lalu, atas usulan pemerintah Provinsi Sumatra Barat kepada pemerintah pusat, akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan keputusan Presiden (Keppres) nomor 28 tahun 2006. Menetapkan hari diproklamirkannya Pemerintah Darurat Republik Indoensia yang dilakukan tanggal 19 Desember menjadi Hari bela Negara. Dengan lahirnya Keppres nomor 28 tahun 2006, berarti perjuangan Rakyat Indonesia umumnya dan Sumatra Barat khususnya telah mendapat pengakuan secara Nasional.
Kendati Hari Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) telah diakui secara nasional sebagai Hari Bela Negara (HBN), namun untuk peringatan pertama tahun 2007, baru diperingati di Sumbar saja. HBN tersebut diperingati meriah di Halaman Kantor Gubernur Sumbar. Diikuti unsur muspida Sumbar, TNI, Polri, pamong senior dan para siswa dan dilakukan serentak pada seluruh daerah kabupaten/kota di Sumbar.
Menurut Gubernur Sumbar, dengan Selain itu, penetapan HBN tersebut juga satu bentuk pengakuan nasional terhadap perjuangan tokoh Sumbar Prof Sjafruddin Prawiranegara mendirikan PDRI di Kota Bukittinggi. “Kita telah perjuangkan HBN tersebut cukup lama melalui sejumlah seminar dan penelitian hingga akhirnya direspon Pemerintah Pusat dengan keluarnya SK Presiden RI itu,” katanya.
Seiring perjalan waktu, sudah dua tahun peringatan Hari Bela Negara dilakukan. Lambat namun pasti, peringatan ini semakin luas pada berbagai daerah dan kalangan. Bahkan kunjungan ke enam Presiden SBY ke Sumbar beberapa waktu lalu, juga untuk mengawali peringatan dua tahun Hari Bela Negara.
Sekadar mengingatkan, Hari Bela Negara ditetapkan Presiden SBY melalui Keppres Nomor 28 tahun 2006, pada Peringatan Hari Nusantara ke-7 di Pelabuhan Bungus Padang 18 Desember 2006. Saat menetapkan Hari Bela Negara dua tahun lalu, Presiden mengatakan itu bentuk apresiasi terhadap Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) tahun 1948, yang memiliki arti penting bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Tanggal 19 Desember 1948, kata Presiden, pemerintahan yang sah di Yogyakarta tidak berjalan. Ketika itu Soekarno dan Mohammad Hatta berada dalam tawanan, sehingga tidak dapat mengemban tugas sebagai Presiden dan Wakil Presiden. “Untuk membuktikan NKRI masih ada, maka didirikanlah PDRI di Bukittinggi,” jelas SBY ketika itu.
Ditetapkannya kelahiran PDRI sebagai Hari Bela Negara, kata SBY, karena peristiwa itu bukan sekadar hari bersejarah bagi masyarakat Sumatera Barat, tapi juga merupakan hari bersejarah bagi seluruh rakyat Indonesia.
Photo : Syafrudin Prawiranegara dan Gamawan Fauzi

Kronologis Sejarah PDRI Sebagai Hari Bela negara
19 Desember 1948, Yogyakarta dan Bukittinggi diserang oleh Belanda, secara serentak Kabinet Hatta mengeluarkan dua surat mandat tentang pembentukan Pemerintah Darurat untuk Mr. Sjafruddin Prawiranegara di Bukittinggi dan Mr. A.A. Maramis di New Delhi. Pada saat yang sama Mr. Sjafruddin Prawiranegara mengadakan rapat darurat dengan para pemimpin di Bukittinggi dan mengumumkan secara terbatas tentang pembentukan PDRI.
20 Desember 1948, Rapat-rapat dilakukan di Bukittinggi, sementara arus pengungsi keluar kota mulai terjadi. Kepala Staf AURI Komodor H. Soejono memerintahkan penyelamatan dua Stasiun Radio PHB AURI dengan membawanya ke Halaban (Payakumbuh Selatan) dan Piobang.
21 Desember 1948, Rombongan pemerintah sipil, termasuk Mr. Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Teuku Hasan meninggalkan Bukittinggi untuk seterusnya mengungsi ke Halaban. Kepala Kepolisian Sumatera Barat , Komisaris Sulaiman Efendi dan sejumlah pemimpin menyingkir ke Lubuk Sikaping, Pasaman. Stasiun Radio AURI pimpinan Lahukay tiba Halaban, tetapi tidak sempat mengudara, karena dibumihanguskan di Halaban. Stasiun Radio Pemancar pimpinan M. Jacob Loebis sampai di Piobang, Payakumbuh untuk seterusnya dibawa ke Koto Tinggi, tengah malam Kota Bukittinggi dibumihanguskan.
22 Desembar 1948, Pembentukan Kabinet PDRI di Halaban. Stasiun Radio PHB AURI Pimpinan Tamimi diserahkan oleh Komondor H. Soejono Kepala PDRI (Sjafruddin Prawiranegara) untuk melayani komunikasi radio Mr. Sjafruddin Prawiranegara beserta rombongannya. Stasiun Radio itu ikut serta bergerilya hingga ke tempat pengungsian di Bidar Alam.
23 Desembar 1948, Stasiun Radio Tamimi di Halaban untuk pertama kali dapat berhubungan dengan Stasiun Radio AURI yang lain, baik yang berada di Jawa maupun di Sumatera (Ranau, Jambi, Siborong-Borong dan Kotaraja). Sjafruddin Prawiranegara merasa gembira menerima laporan tes kemampuan Stasiun Radio PDRI, dan mengumumkan berdirinya PDRI.
24 Desembar 1948, Menjelang Subuh, rombongan PDRI di bawah pimpinan Sjafruddin Prawiranegara meninggalkan Halaban menuju Pekan Baru, melalui Lubuk Bangku dan Bakinang. Stasiun Radio Tamimi dengan semua peralatan pengirim dan penerima ditempatkan pada sebuah Jip, mengikuti rombongan PDRI Awak (Crew) Stasiun Radio tersebut adalah :
1. Opsir Udara M.S. Tamimi sebagai Kepala
2. Sersan Mayor Udara Kusnadi. sebagai Teknisi merangkap Teloegrafis
3. Sersan Mayor Udara R. Oedojo, Telegrafis
4. Kopral Udara Zainal Abidin,Telegrafis Mengabungkan diri di Bidar Alam dari Pangkalan Udara Jambi.
5. Letnan Muda Udara III Umar Said Noor, Bagian Sandi
Mengabungkan diri di Bidar Alam dari Pangkalan Udara Jambi.

Stasiun Radio Tamimi mengunakan kode pangil (Call Sign) “UDO” singkatan dari Oedojo. Sering dipakai juga Call Sign “KND” atau “ZAY” singkatan dari Kusnadi dan Zainal Abidin. Type sender yang digunakan ialah MK III 19 Set.
Sumber : Biro Humas Sumbar, dikutip dari buku saku Panpel Mubes Yayasan (Peduli Perjuangan) PDRI Th.2003.

Iklan

One thought on “Hari Bela Negara Pengakuan Terhadap Tokoh Sumbar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s