Aplikasi Bela Negara

movinghouseOleh: Dra Eko Gustini Wardani Pramukawati, Andalan MHK Kwartir Daerah 11 Jawa Tengah

PERINGATAN 17-an pada hakikatnya adalah mengenang dan menghormati jasajasa para pahlawan dalam berjuang, merintis, merebut, dan mengisi kemerdekaan NKRI. Terlebih dalam puncak kegiatannya yaitu upacara, merupakan seruan kepada dunia akan eksistensi dan kedaulatan bangsa dan NKRI. Ini adalah fakta sejarah yang melekat pada dinamika jiwa dan kepribadian bangsa kita sejak jaman nenek moyang, yang senantiasa menolak dan melawan penjajahan. Untuk itulah, sudah sepatutnya apabila kita sebagai generasi penerus berupaya sekuat tenaga menghormati jasa-jasa pendahulu kita, merenungkan nilai-nilai kejuangan dan patriotismenya, serta berupaya melanjutkan etos dan kejuangannya. Kemudian menggelorakan semangatnya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata sesuai bidang tugas dan profesi masing-masing.

Ini karena pemahaman, penghayatan, dan pengamalan nilai-nilai 45, akan berkembang sesuai dengan dinamika dan kreativitas dalam tahap-tahap perjuangan bangsa. Dalam arti, saat bangsa ini dijajah bangsa lain, maka nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam bentuk berperang mengusir musuh yang datang dari luar maupun dari dalam. Saat bangsa ini dalam keadaan aman dan damai, maka pengaplikasian nilai kejuangan, ditunjukkan dengan prestasi dan profesionalitas dalam kehidupan.

Apalagi, sebagaimana tertulis dalam Buku Bela Negara Mu, oleh Departemen Pertahanan Republik Indonesia DITJEN POTHAN, spektrum bela negara itu sangat luas, dari yang paling halus, hingga yang paling keras. Mulai dari hubungan baik sesama warga negara sampai bersama-sama menangkal ancaman nyata musuh bersenjata. Tercakup di dalamnya adalah bersikap dan berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara.

Di sinilah perlunya kesadaran dari semua pihak untuk senantiasa mendorong generasi muda memahami dan memaknai nilai-nilai kepahlawanan dan bela negara secara benar. Sekaligus mengupayakan kegiatannya dengan senantiasa menyesuaikan kepentingan dan kebutuhan masyarakat, bangsa, dan negara.

Satu contoh, upaya penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kepahlawanan dan kejuangan yang saat ini cenderung makin memudar, utamanya pada generasi sekarang lebih-lebih generasi muda.

Tampak adanya pemikiran dan sikap yang ingin memisahkan diri dari NKRI, kurang peduli terhadap dekadensi moral, lebih bangga tokoh luar negeri dibanding pahlawan bangsa sendiri, sikap fanatisme berlebihan di bidang keagamaan dan politik, dll. Ini tentu saja memprihatinkan.

Hal tersebut antara lain disebabkan kurangnya kegiatan pendidikan dan penanaman nilai-nilai kepahlawanan.

Dampaknya ungkapan ”bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”, cenderung kurang dimengerti, dipahami, dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

Meminimalisasi hal tersebut, antara lain melalui upaya memperkuat ketahanan moral, budaya, dan kepribadian bangsa kita. Tidak harus secara fisik berperang, melainkan juga dapat dimanifestasikan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak yang terbaik untuk kepentingan yang lebih luas daripada kepentingan pribadi, dengan penuh keikhlasan, tanggung jawab, disiplin yang tinggi.

Setia, siap, sedia
Tentu saja dalam pengaplikasiannya disesuaikan dengan dunia mereka. Antara lain dengan metode belajar dan bermain (belanbe), serta hal-hal kecil di sekitarnya. Misalnya untuk menanamkan kesadaran berbangsa dan bernegara, seperti menghormati pemeluk agama lain, bisa dengan cara mengajak mereka mengunjungi berbagai tempat peribadatan.

Meningkatkan penghargaan dan penghormatan kepada para pahlawan bisa dengan mengajak jalan-jalan ke objek bersejarah, seperti museum, candi, dll. Demikian pula untuk menanamkan cinta tanah air, dengan mengajak jalan-jalan melihat panorama laut, gunung, dan objek wisata lain.

Untuk lomba, misalnya melalui lomba menghapal Pancasila dengan sikap sempurna, lomba pengucapan (hafal) naskah Pembukaan UUD 1945, lomba menyanyikan lagu-lagu wajib. Bisa pula dengan lomba menggambar, membuat puisi kepahlawanan, membaca buku cerita daerah, menyanyikan lagu-lagu daerah, lomba menghafal doa harian, dll.

Secara sepintas, hal tersebut tampaknya sepele. Namun bila dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinambungan maka akan merasuk dalam hati dan sanubari anak-anak kita. Demikian pula secara teori, hal tersebut mudah diucapkan. Akan tetapi akan sangat jauh berbeda dengan kenyataan di lapangan.

Apalagi mengingat, bahwa pembentukan watak itu merupakan upaya terus menerus dan tiada terhenti. Pun, memerlukan waktu yang panjang, sehingga hasilnya baru bisa dirasakan setelah kurun waktu tertentu. Sedangkan masyarakat sekarang, cenderung suka yang serba instan, serta menilai sesuatu hanya kasat mata.

Itulah sebabnya, upaya PPBN hendaknya dimulai sejak usia dini sebagai upaya membentuk dan meningkatkan potensi serta kualitas diri generasi muda. Muaranya untuk mendukung peningkatan pembangunan karekter bangsa (Nation and Charakter Building) dan mantapnya ketahanan nasional.

Sehubungan hal tersebut, marilah kita berupaya sekuat tenaga menanamkan pada generasi muda di semua kesempatan serta pada tiga lingkungan kehidupan, yaitu pendidikan, pekerjaan dan pemukiman, tentang semboyan Pramuka Garuda untuk selalu setia kepada Tuhan Yang Maha Esa, bangsa dan negara, serta pimpinan dan negaranya. Di samping itu juga siap untuk senantiasa berbuat kebajikan dan berbuat jasa di setiap kesempatan, serta sedia dan ikhlas untuk pengabdian dan berbhakti pada Bunda Pertiwi.

Untuk itu tak ada kelirunya, apabila kita semua mengawalinya dalam keluarga kita sendiri. Antara lain dengan berusaha menjadi motivator, penyuluh dan penggerak PPBN dengan cara mengajak seluruh anggota keluarga dan masyarakat sekitar untuk mengenal lebih jauh dan mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkungan.

Misal dengan tidak menebang pohon sembarangan, membuat tamantaman cantik, dll. Di samping itu juga meningkatkan kesadaran Bangsa Indonesia yang cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan, melalui cara menghormati Bendera Merah Putih, hafal hari-hari penting nasional, dll.

Tidak kalah penting yaitu berupaya menjadi teladan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat yang mandiri, tangguh dan tanggap terhadap kejadian di lingkungannya. Di samping itu juga menjadi inovator dan penggerak melalui kegiatan yang menggugah masyarakat untuk berkreasi, menciptakan sesuatu gagasan dan karya baru dalam berbagai hal.

Meski diakui hal ini tidak semudah membalik telapak tangan. Mengapa? Karena tidak semua masyarakat mau menerima masukan secara mudah. Dan itu juga tergantung pada tingkat pendidikan dan pribadi masyarakat setempat.

Melalui berbagai upaya tersebut, mudah-mudahan mampu memotivasi anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa, agar mencintai dan menegakkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan peduli penanaman PPBN pada anak-anak kita yang kelak sebagai penerus estafet kepemimpinan negeri ini?

Dan sejauhmanakah upaya kita menanamkan pengertian, bahwa negara Indonesia yang kita cintai ini, diperoleh dengan mempertaruhkan berjuta nyawa yang tak lagi terhitung jumlahnya? Meski ibarat setitik debu, tak ada kelirunya kalau kita para orang tua memulainya dalam keluarga.

Semua itu semata-mata dalam upaya memberikan benteng kepada putraputri kita agar mampu memiliki filter terhadap pengaruh asing yang saat ini tak terbendung lagu arusnya. Mari kita letakkan Indonesia dalam detak jantung kita.

Iklan

Diterbitkan oleh

admin

yang buat blog bela negara RI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s