Perjuangan Sekarang Melawan Kemiskinan Mental

Posted: 15 November 2011 in Kemiskinan, Mental Bangsa, Perjuangan

Oleh: Lilik Rosida Irmawati

Pahlawan. Barangkali kata tersebut demikian sakral dan mampu menggetarkan setiap dada generasi pejuang yang dengan gagah berani mengangkat senjata dan menembus hujan peluru di medan laga. Siapapun akan mengakui ketekatan, kegagahan, keberanian arek-arek Suroboyo ketika berhadapan dengan kepungan tentara sekutu yang terlatih, dan dilengkapi dengan senjata-senjata canggih, senjata-senjata otomatis, baik yang mengarah dari daratan, lautan maupun udara. Arek-arek Suroboyo dengan gagah berani menyambut dentuman meriam, menghadang tank-tank amphibi hanya bermodal senjata-senjata tua peninggalan tentara Jepang dan bambu runcing.

Keheroikkan yang ditunjukkan oleh rakyat Suroboyo karena tidak ingin kemerdekaan yang mereka perjuangkan dengan air mata, harta, jiwa, dan raga direbut kembali oleh Belanda yang dengan sengaja membonceng tentara Sekutu yang ingin melucuti tentara Jepang akibat kalah perang melawan Sekutu. Keheroikkan rakyat Surabaya juga dipicu oleh harga diri yang demikian tinggi, penghinaan tentara Sekutu akibat tewasnya Jenderal tertinggi Mallaby supaya rakyat Suroboyo menyerahkan semua senjata dan semua pejuang menyerahkan diri dengan cara mengangkat tangan. Peristiwa inilah yang mengobarkan semangat juang dan menjadikannya mereka menjadi pahlawan. Pahlawan sepanjang masa.

Semangat jiwa patriotik dan semangat juang yang militant tentunya harus tetap diwariskan kepada generasi penerus sebagai modal membangun bangsa. Dan tentunya penghormatan yang tinggi juga kita berikan kepada generasi pejuang yang tinggal dalam hitungan jari. Seputar pahlawan serta nilai-nilai yang diwariskan, berikut bincang-bincang serius tapi santai Lilik Rosida Irmawati dengan Purnawirawan Kapten Soe’oedin, salah seorang pejuang 45 yang turut serta memberikan andil bagi perjuangan kemerdekaan.

Tahun 45 kota Surabaya membara, para pemuda pada waktu itu mampu menunjukkan kepahlawanan. Bisa diceritakan kilas balik peristiwa heroik tersebut ?

Sebetulnya dalam mengacu sebutan pahlawan 45 itu tidak bisa lepas di nilai-nilai perjuangan 45 itu sendiri, karena nilai-nilai 45 pada waktu itu tanpa pamrih apapun, tahunya bangsa Indonesia merdeka, tanpa menerima apapun, tanpa menerima bayaran dari siapapun. Untuk perbekalan perang dan makan pun itu hasil gotong royong dari masyarakat. Itu adalah salah satu diantara nilai-nilai 45 yang tidak mengenal putus asa, militansinya kuat, padahal orang-orang atau pemuda-pemuda itu sebagian besar tidak pernah mengalami latihan, tapi bisa menghadapi tentara-tentara Belanda, termasuk tentara Gurkha bantuan Inggris maupun tentara Sekutu. Tentara-tentara tersebut sudah terdidik dan terlatih dengan baik, tetapi tetap dilawan dengan gigih dan gagah berani. Bahkan ultimatum tentara Sekutu pun akibat tewasnya Jenderal Mallaby untuk meletakkan senjata dijawab dengan pekikan merdeka atau mati. Bung Tomo dengan suaranya yang menggelegar turut memberikan semangat juang pada arek-arek Suroboyo untuk tidak menyerah dan memberikan peluang untuk merebut sejengkal tanah pun.
Keberanian para pemuda tersebut yang hanya berbekal senjata-senjata tua hasil rampasan Jepang dan bambu runcing, ternyata mampu menggetarkan nyali tentara Sekutu. Nah, nilai-nilai juang inilah, nilai-nilai keberanian yang ditunjukkan oleh pejuang Surabaya. Contoh keberaniannya ialah ketika merobek bendera Belanda di hotel Oranye.

Nilai-nilai seperti itu bagaimana menurut Bapak apabila dibandingkan dengan sekarang, khususnya generasi sekarang ?

Ya jauh sekali, sekarang ini pada umumnya sudah cenderung individualistic, kalau tidak bergolong-golong. Sepertinya kepentingan pribadi dan kepentingan golongan itu olah-olah sudah didahulukan. Bahkan tidak sedikit menjadi pemberitaan di media massa kalau para pejuang-pejuang (sekarang ini ) yang berdalih memperjuangkan rakyat itu sebetulnya untuk pribadi maupun golongannya. Masyarakat tahu benar akan hal itu, padahal yang sebenarnya apabila memang mereka berjuang untuk bangsa tidak kesana jalan pikirannya. Sekarang beda jauh, memperjuangkan rakyat saat ini hanya dijadikan kedok untuk memperkaya diri sendiri.

Bagaimana supaya nilai-nilai kepahlawanan yang Bapak sampaikan kembali menguat dan mengakar, khususnya kepada generasi muda dalam situasi dan kondisi semacam ini ?

Sebetulnya nilai-nilai 45 itu bisa dimasukkan kembali kepada generasi sekarang, generasi sekarang ini diingatkan kembali ke dalam memori otaknya tentang sejarah perjuangan masa lalu. Tapi kondisi dan situasi saat ini seolah-olah sejarah kemerdekaan itu sudah diabaikan, salah satu penyebabnya tergerus budaya global. Seharusnya pelajaran sejarah berdirinya bangsa ini mendapat porsi yang sama dengan pelajaran lainnya. Dengan demikian mereka tahu bagaimana sulitnya, bagaimana penderitaan, bagaimana kesengsaraan dan kepedihan akibat penjajahan serta bagaimana pula perjuangan dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh generasi pendahulu.

Tapi itu kan memerlukan keteladanan dari generasi tua, keteladanan tersebut terkadang diabaikan oleh generasi tua yang mewariskan nilai-nilai “pahlawan kesiangan” ?

Memang harus diakui bahwa banyak contoh-contoh yang keliru, bahkan penghormatan kepada generasi tua pun diabaikan. Bahkan banyak diantaranya mereka mengatakan, “orang-orang tua, pejuang adalah laskar yang tak diperlukan lagi”, itu masalahnya. Padahal seharusnya mereka berkewajiban menularkan kembali nilai-nilai perjuangan, keheroikkan, keikhlasan, pengorbanan dijadikan nilai-nilai baru sesuai dengan perkembangan dan perjuangan setiap generasi sesuai dengan jamannya.

Pewarisan nilai-nilai pahlawan tersebut harus tetap diestafetkan kepada generasi muda, nah apa yang mesti dilakukan oleh para generasi sekarang apabila dikaitkan dengan esensi dari pahlawan ?

Ini memang sulit, karena kemajuan begitu pesatnya sehingga seolah-olah perjuangan dahulu itu tidak ada artinya, karena generasi tidak pernah mengalami bagaimana berat ringannya pengorbanan generasi pendahulunya. Tahunya dia hidup dalam era sudah makmur. Lha inilah yang pertama menjadi penyebab sulitnya mewariskan nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan. Generasi sekarang tidak ada yang mengingat-ingat perjuangan masa lalu, tapi kemakmuran yang dikejar-kejar sekarang ini.

Dalam artian generasi sekarang telah melupakan sejarah bangsa sendiri ?

Benar, itulah yang terjadi saat ini. Begitu juga perjalanan Pemerintah sudah 60 tahun, apa orang-orang yang berjuang dengan segala pengorbanan masih utuh ? Saya kira sebagian besar sudah tidak ada, sebagian lagi sudah terpengaruh pada keadaan atau mengejar material. Ini masalahnya.

Media apa yang mesti digunakan agar semangat pahlawan pada generasi sekarang kembali menguat ?

Saya kira perlu diingatkan secara terus menerus dan berkesinambungan, baik oleh media massa maupun elektronika seperti radio dan Televisi tentang nurani dan itikad para pejuang terdahulu, itu tetap dititipkan. Begitu pula di sekolah-sekolah, meskipun pendidikan beragam sebaiknya pelajaran sejarah harus tetap diberikan kepada anak didik. Juga perbanyak buku-buku bacaan di perpustakaan tentang tokoh-tokoh para pemimpin maupun pejuang di jaman revolusi. Dengan demikian generasi sekarang mengetahui hakekat maupun nurani dari pejuang-pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Perlu disampaikan kepada generasi sekarang yang tidak mengalami penjajahan fisik, bahwa penjajahan mengakibatkan kita menjadi bangsa kuli karena kebodohannya. Karena bodohnya akhirnya menjadi malas, karena malas menjadi miskin. Dan itu akan memudahkan bangsa asing mengeksploitasi bangsa kita.

Bagaimana dengan KKN yang katanya masih sulit diberantas ?

Itu masih sulit dan masih melekat. Siapa orangnya tidak akan menolong anaknya ? Siapa orangnya tidak menolong saudara-saudaranya ? Tapi jangan di monopoli, kalau tidak anaknya, kerabatnya tidak dimasukkan ke dalam lingkup pekerjaannya. Tetapi apabila sadar bahwa ini demi kepentingan bangsa dan negara, saya kira harus melalui selektifitas, harus berkompetensi, harus bisa menyeleksi, sebab apabila tidak itulah kejadiannya. Sampai saat ini KKN masih berjalan dan tumbuh subur, bahkan hukum pun masih menjadi sesuatu yang abu-abu.
Tapi memang harus diakui bahwa perjalanan untuk maju, untuk menjadi bangsa yang besar tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, perjalanan untuk maju banyak rintangan dan hambatan. Dan itu yang harus diperjuangkan oleh generasi sekarang. Berjuang melawan ketidakadilan hukum, berjuang menjadi bangsa yang bersih dan tidak korup, berjuang melawan penjajahan ekonomi maupun budaya, dan juga berjuang melawan kemiskinan mental.

Tentunya untuk menjadi bangsa yang maju memerlukan sosok atau tokoh pemimpin yang mumpuni. Menurut Bapak, sosok pemimpin seperti apakah yang dibutuhkan oleh rakyat ?

Pemimpin yang peduli akan nasib rakyatnya, pemimpin yang mengedepankan kepentingan rakyatnya, pemimpin yang memberikan keleluasaan dan memajukan rakyatnya, adalah pemimpin yang benar-benar disebut pahlawan. Siapapun akan menjadi pahlawan, kalau pada masa revolusi para pejuang berjuang dengan mengorbankan harta jiwa dan raga, tetapi pada masa sekarang berjuang bisa dilakukan sesuai dengan kemampuan dan keahliannya di berbagai bidang. Bukan hanya pemimpin yang menjadi pahlawan, siapapun bisa, petugas kebersihan, perawat, dokter, guru, pemadam kebakaran. Semuanya bisa menjadi pahlawan, kalau memang mereka bekerja dengan ikhlas, tanpa pamrih, jujur, mempunyai itikad baik dan benar-benar bekerja sesuai dengan keahliannya demi kepentingan kemanusiaan dan untuk memajukan rakyat.

Langkah apa yang mesti di ambil oleh Pemerintah Daerah agar menjadi pahlawan bagi rakyatnya ?

Pemerintah daerah harus mampu membangun suasana yang harmonis, terutama antara legeslatif dan eksekutif. Kalau harmonis dan ide itu tidak terlalu beda untuk mengangkat harkat dan martabat rakyat Sumenep, khususnya di bidang kemiskinan, saya kira akan lebih cepat. Karena Sumenep sebenarnya daerah makmur, tetapi kenapa tingkat kemakmuran masih melebar dan dalam ? Seperti yang diberitakan di koran Radar Madura, “rakyat Sumenep sebenarnya tidak miskin” ; orangnya kaya-kaya, kalau selamatan mengeluarkan biaya jutaan, ini salah satu contoh. Tetapi dapat kita lihat dimana-mana ada orang berkeliaran, berkeliling dari satu ruah ke rumah lain, menadahkan tangan, ngemis, padahal di rumahnya di mempunyai ternak yang banyak. Rakyat yang seperti inilah yang harus dirubah. Merubahnya dengan mentalitas yang tinggi. Yaitu dengan cara menggugah para ulama, karena ulama menjadi panutan di pelosok. Panutan orang desa bukan pejabat tetapi para ulama.

Selama ini peringatan-peringatan hari bersejarah, termasuk hari pahlawan hanya diperingati sebatas seremonial belaka. Sedangkan esensi dari peristiwa tersebut kurang dimaknai, menurut Bapak bagaimana ?

Memang untuk memasukkan nilai-nilai itu memang sulit karena sudah terpengaruh jauh pada bidang material. Karena saat ini yang terpenting adalah memenuhi semua kebutuhan sesuai dengan standar hidup masyarakat masa kini. Dengan demikian banyak sekali dari kita melupakan sisi moralitas. Yang terpenting bagaimana kebutuhan kita terpenuhi. Apalagi di jaman global seperti ini, kejahatan dan penyakit sosial merajalela dan mengintip anak bangsa, permasalahannya sangat kompleks.

Berarti perjuangan “pahlawan-pahlawan” sekarang lebih berat dari para pahlawan pejuang pendiri bangsa ini ?

Betul. Karena apa ? Membangun masyarakat lebih sulit daripada berjuang memanggul senjata dan mengusir para penjajah. Karena membangun masyarakat dan daerah khususnya di era Otonomi ini rintangannya multi kompleks. Pemerintah harus mampu mengangkat rakyat dari kebodohan, dimana rakyat harus diangkat dari kemiskinan, dimana harus mengangkat mental rakyat (mental kuli) warisan penjajah, dimana harus berjuang melawan penjajahan sekarang ini, yaitu penjajahan ekonomi. Saat ini, para penjajah modern senantiasa mencari jalan untuk menjajah kembali, tetapi bukan penjajahan fisik.

Apa yang mesti dilakukan agar nilai-nilai kepahlawanan kembali menguat dan mengakar ?

Tetap berjuang dengan dilandasi oleh keikhlasan, tanpa pamrih dan rela berkorban demi kemajuan dan kemanusiaan

Tulisan ini menyalin dari: Lilik Rosida Irmawati: Perjuangan Sekarang       Melawan Kemiskinan Mental http://lidawati.blogspot.com/2011/04/perjuangan-sekarang-melawan-kemiskinan.html#ixzz1djQt5CAk
Mohon cantumkan sumber link diatas

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s