Lahirnya Konsep Pertahanan Udara Nasional

Posted: 23 Maret 2011 in Nasional, Pertahanan Negara, Pertahanan Udara

Oleh: Budhi Achmadi

“Whoever control the air, will control the surface” (Billy Mitchell)

Tidak ada sesuatu yang tetap dalam kehidupan yang berlangsung semakin cepat ini kecuali perubahan itu sendiri. Tidak ada pilihan bagi setiap bangsa ataupun umat manusia di alam semesta ini untuk mampu bertahan, bahwa mereka harus secara terus menerus melakukan perubahan. Tidak peduli dalam bidang sosial, politik, ekonomi, pendidikan, ataupun pertahanan dan keamanan. Harus selalu diupayakan suatu yang bernama perubahan agar setiap tujuan dicapai dengan efektif dan efisien.

Saat konsep pertahanan udara mencuat di negeri ini, pasti banyak orang menganggap sebelah mata dan mengidentikkan sebagai kepentingan sepihak untuk pemekaran Angkatan Udara. Hal ini tidak perlu kita perdebatkan, karena di negara Amerika pun, seorang kolonel Billy Mitchel harus menjadi martir dan dipecat dari dinas ketentaraan Angkatan Darat saat memperkenalkan kekuatan Angkatan Udara. Satu hal yang terpenting adalah, waktu akan menjadi saksi tentang urgensi pertahanan udara bagi sebuah negara.

Berpuluh tahun yang lalu, Jendral AD Mac Arthur yang menjadi salah satu hakim militer bagi kasus pemecatan Billy Mitchel menyampaikan, “Kolonel Billy Mitchell, dalam hati yang paling dalam saya mengakui teori-teori anda tentang kekuatan udara. Saya yakin bahwa apa yang menjadi pemikiran brilyan anda akan menjadi kenyataan. Dan hari ini saya hanya menjalankan tugas saya untuk menjatuhkan hukuman tentang sebuah sikap yang menurut institusi adalah indisipliner karena melanggar doktrin dan sama sekali tidak menyalahkan ide pemikiran anda.” Dan benar adanya bahwa dengan penuh rasa malu, markas besar AD Amerika akhirnya merehabilitasi nama baik Billy Mitchell beberapa tahun kemudian dan menjadikannya pahlawan nasional di kemudian hari. Konsep pertahanan udara mulai diakui di tanah kelahirannya.

Setidaknya, jangan sampai ada Billy Mitchell baru di negeri ini, yang disebabkan oleh beberapa orang yang tidak mau mengerti tentang arti penting sebuah kekuatan untuk mempertahankan wilayah udara nasional kita.

Ihwal Kekuatan Udara Di Indonesia

Sedari awal, bangsa kita telah merasakan tentang perlunya suatu usaha dan kekuatan untuk mempertahankan wilayah udara Indonesia dari kemungkinan serangan udara musuh. Bahkan saat Belanda masih bercokol di Indonesia, pangkalan-pangkalan udara sudah dibangun sebagai bagian dari sistem pertahanan nasional untuk mencegah ancaman musuh. Hal ini mengandung makna bahwa Belanda menyadari bahwa pertahanan udara merupakan aspek penting dalam pembentukan sistem pertahanan di wilayah Indonesia.

Embrio Angkatan Udara Belanda bernama Proefvliegavdeling (PVA) berdiri pada tanggal 21 Juli 1918. Namun demikian, PVA sudah mendirikan sebuah escadrille (skadron) di Soekamiskin – Jawa Barat pada bulan Agustus 1921 dengan kekuatan enam pesawat. Ini adalah skadron pesawat pertama yang pernah ada di Indonesia. Jenis pesawat yang digunakan adalah De Havilland dan Fokker D-VII. Komandannya adalah Kapten Stom.

Pada tanggal 31 Maret 1939, Angkatan Udara Belanda berdiri dengan nama bernama Militaire Luchtvaart. Namun demikian pada tanggal 1 September 1939, Jerman menginvasi Polandia menandai dimulainya PD II. Belanda dilanda ketakutan perang. Tidak hanya di negaranya sendiri, karena Jepang juga semakin mengancam di Hindia Belanda (Indonesia). Maka Belanda pun mulai mengadakan pembangunan pangkalan-pangkalan udara.

Selain membangun berbagai macam fasilitas pangkalan udara, ML membuka berbagai macam pelatihan terbang bagi para pemuda pribumi. Hal ini memberi keuntungan bagi bangsa kita sehingga pada saat penjajah hengkang dari tanah air, pesawat-pesawat bekas mereka segera bisa diterbangkan di wilayah udara nasional.
Tonggak Sejarah Angkatan Udara

Sejarah telah membuktikan bahwa AURI yang lahir pada tanggal 9 April 1946 dengan revolusi kemerdekaan dan hanya dibekali dengan beberapa rongsokan pesawat peninggalan Jepang, tidak mau menyerah begitu saja. Semangat untuk berjuang dan memikirkan perkembangan kemajuan Angkatan Udara tetap berjalan untuk menambah dan mengisi kekuatan dan kemampuan AURI.

Pada masa perang kemerdekaan, unsur-unsur pertahanan udara milik TNI umumnya masih merupakan bagian dari pada kesatuan infanteri ataupun kesatuan pertahanan pangkalan, sedang persenjataannya terbatas pada senjata PSU (Penangkis Serangan Udara) peninggalan tentara pendudukan Jepang dan Belanda. Tidak dapat dilupakan pula bahwa rakyat sangat berperan sebagai unsur pertahanan sipil di bidang pertahanan udara, antara lain bertindak sebagai “People Warning” (Early Warning) dan membantu penyelenggaraan perlindungan masyarakat terhadap bahaya udara.

Pada saat kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamasikan, negara kita belum memiliki pesawat terbang, semua pesawat yang ada di Indonesia masih dikuasai atau dimiliki oleh Jepang maupun Belanda. Pada tanggal 5 Oktober 1945, terjadi perubahan organisasi Angkatan Bersenjata. BKR telah berubah nama menjadi TKR. Sehingga TKR jawatan penerbangan pun mulai membuat perencanaan baru, termasuk di dalamnya adalah usulan untuk membentuk sekolah penerbang.

Mengingat begitu mendesaknya tenaga penerbang, pada tanggal 15 November 1945, A. Adisutjipto mendapat tugas untuk mendirikan sekolah penerbang di Pangkalan Udara Maguwo – Yogyakarta. Adisutjipto pernah mendapatkan pendidikan di Sekolah Penerbang Belanda Militaire Luchtvaart School di Kalijati, bahkan sempat menjadi penerbang militer Belanda dengan pangkat Letnan Adjudan. Sebenarnya ada satu lagi penerbang kita yang setara kemampuannya dengan Adisutjipto, namun beliau gugur di daerah Selat Malaka dengan pesawat B-10 saat diserang oleh pesawat “Zero” Jepang. Beliau adalah Letnan Sambudjo Hurip. Sehingga harapan satu-satunya untuk menerbangkan pesawat-pesawat peninggalan Jepang, terletak pada Adisujipto.

Sekolah penerbang yang fasilitas serta peralatannya serba seadanya ini merupakan sekolah penerbang pertama di Indonesia yang dikelola oleh putra bangsa Indonesia sendiri. Bahkan sekolah penerbang ini merupakan lembaga pendidikan pertama yang dimiliki AURI, sehingga setiap tanggal 15 November dijadikan Hari Jadi Kodikau.

Dengan keberhasilan para perintis AURI mendidik sejumlah pemuda Indonesia menjadi penerbang, kekuatan AURI semakin nampak dan kegiatan penerbangan juga semakin kelihatan. Oleh sebab itu, rakyat dan pemerintah bertambah yakin terhadap kemampuan TKR Jawatan Penerbangan dan mulai tanggal 9 April 1946 ditingkatkan menjadi Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara disingkat TRI AU, yang kedudukannya sederajat dengan angkatan lain serta dipimpin oleh seorang Kepala Staf Angkatan Udara yang saat itu dijabat oleh Komodor Udara Surjadi Suryadarma dan berkedudukan di Yogyakarta. Dengan adanya pendidikan sekolah penerbang, sayap tanah air mulai mengepak dengan terbangnya para kadet penerbang tersebut. Para penerbang yang sebetulnya masih berstatus siswa tersebut mulai menerbangkan pesawat tua rampasan Jepang.

Tiga dari sejumlah siswa sekolah penerbang yang dirintis Adisutjipto – Yogyakarta, pada tanggal 29 Juli 1947 mengukir sejarah dengan melaksanakan pemboman di atas kota-kota Ambarawa, Salatiga dan Semarang. Tiga siswa tersebut adalah Kadet Penerbang Sutarjo Sigit dibantu penembak Sutarjo, Kadet Suharnoko Harbani dibantu penembak udara Kaput, serta Kadet Penerbang Muljono dibantu penembak udara Dulrahman. Tiga pesawat yang dipergunakan adalah dua Churen dan sebuah Guntai. Serangan udara ini merupakan serangan udara pertama yang dilakukan oleh pejuang Indonesia, di daerah yang dikuasai musuh.

Tetapi sayang, keberhasilan tiga putra Indonesia di pagi hari itu harus ditebus dengan mahal, karena sore harinya pesawat Dakota VT-CLA yang bersiap mendarat di Maguwo ditembak jatuh oleh pesawat pemburu Belanda jenis Kittyhawk yang berpangkalan di Kalibanteng – Semarang. Dalam peristiwa itu, tiga perintis Angkatan Udara yaitu, Adisutjipto, Abdulrahman Saleh dan Adi Sumarmo gugur dengan jatuhnya pesawat Dakota tersebut di dusun Ngoto sebelah barat Maguwo. Padahal, pesawat tersebut dalam misi jelas yaitu proyek kemanusiaan yang membawa obat-obatan bantuan dari Malaysia untuk Palang Merah Indonesia, sudah dikonfirmasikan dan terbang sesuai dengan peraturan penerbangan internasional dan pesawat Dakota adalah pesawat angkut yang tidak bersenjata. Peristiwa bersejarah tanggal 29 Juli 1947 tersebut diperingati sebagai Hari Bhakti Angkatan Udara.

Untuk memperlihatkan eksistensinya, mulailah diadakan penerbangan keluar negeri, meskipun harus menembus blokade udara yang dilakukan oleh pihak Belanda. Beberapa peristiwa heroik penembusan tersebut mewarnai perjuangan para penerbang kita saat itu, walaupun hanya sedikit orang yang mengetahui perjuangan Angkatan Udara dalam menegakkan kemerdekaan bangsa kita saat itu agar NKRI mendapatkan pengakuan secara de jure dari dunia internasional. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan mengadakan penerbangan ke luar negeri dengan pesawat bertandakan bendera merah putih. Bila pesawat kita berhasil atau diijinkan mendarat disuatu negara, maka secara otomatis negara tersebut mengakui keberadaan negara Indonesia merdeka. Sehingga pada saat agresi Belanda II, pesawat kita banyak mendapat serangan dari pesawat Belanda. Namun banyak juga pesawat yang berhasil lolos terbang ke luar negeri.

Tahun 1947 ada dua lagi peristiwa penting bagi perjuangan bangsa Indonesia yaitu operasi militer pertama kali yang dilakukan oleh AURI di kota Waringin Kalimantan pada tanggal 17 Oktober 1947 serta jatuhnya pesawat AURI di Tanjung Hantu – Malaysia yang mengakibatkan gugurnya Iswahjudi dan Halim Perdanakusuma. Peristiwa pertama diangkat sebagai hari jadi Paskhasau yaitu Pasukan Khas AU yang dulunya sempat bernama PGT (Pasukan Gerak Tjepat) dan Kopasgat (Komando Pasukan Gerak Cepat). Sedangkan dua penerbang yang gugur di Tanjung Hantu namanya diabadikan untuk nama Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma (sebelumnya bernama Tjililitan) dan Iswahjudi (sebelumnya bernama Maospati). Adanya perang kemerdekaan I dan II serta tugas lain yang dilaksanakan oleh Angkatan Udara saat itu, sehingga berkembang dalam suasana perang, serta suasana tidak menentu. Namun berkat perjuangan para pendahulu kita, Angkatan Udara tetap tangguh dan berkembang hingga sekarang.

Berkat perjuangan gigih bangsa Indonesia baik melalui perjuangan fisik ataupun politik, akhirnya antara pemerintah Indonesia dan belanda mengadakan perundingan di Den Haag yang dikenal dengan Konferensi Meja Bundar. Akhir konferensi pada tanggal 23 Agustus 1949 ini memaksa semua fasilitas penerbangan baik pesawat, pangkalan serta pendukungnya yang dimiliki AU Belanda (ML/Militaire Luchtvaart) diserahkan kepada AURI pada tahun 1950.

Adanya penyerahan ini, mendorong AURI untuk membentuk beberapa skadron yang disesuaikan dengan jenis pesawat serta penggunaannya. Pada saat itu segala macam pesawat yang ditempatkan di Pangkalan Udara Tjililitan dijadikan satu kesatuan dan diberi nama Skadron 1, sedangkan pesawat-pesawat yang ada di Pangkalan Udara Andir dilebur dalam Skadron 2. Hal ini berlaku sampai tahun 1951. Sebab pada tanggal 21 Maret 1951 keluarlah Surat Penetapan Kasau Nomor : 2811/KS/1951 yang menyatakan grup operasional terdiri dari Skadron 1 (Pembom) pesawat B-25, Skadron 3 (Pemburu) pesawat P-51, Skadron 4 (Pengintai) pesawat Auster dan Piper L-4J, Skadron 5 (Angkut Operasional) pesawat C-47. Disamping hal itu, di Pangkalan Udara Andir dibentuk Skadron II (Pengangkut) yang diberi nama DAUM (Dinas Angkutan Udara Militer) dan sekolah penerbang yang dilengkapi dengan berbagai jenis pesawat.

Pada tanggal 23 April 1951, susunan tersebut diubah dengan Surat Penetapan Kasau Nomor : 28A/11/KS/1951 tentang pembentukan skadron udara, yaitu Skadron 1 (Pembom) pesawat B-25, Skadron 2 (Angkut) pesawat C-47 Dakota, Skadron 3 (Pemburu) pesawat P-51 Mustang “Cocor Merah”, Skadron 4 (Intai Darat) pesawat Auster, Skadron 5 (Intai Laut) pesawat PBY-54 Catalina (versi amfibi).

Lahirnya Radar “Si Penjejak Pesawat”

Radar sebagai alat pendeteksi sudah mulai digunakan lebih dari 60 tahun untuk berbagai macam keperluan terutama dalam militer. Meskipun teknologi yang digunakan sudah lebih maju dibandingkan radar di tahun pertamanya yaitu 1930-an namun fungsi dasarnya tidak berubah, yaitu sebagai pengukur jarak dan arah dari suatu objek. Pada prinsipnya setiap objek seperti pesawat, kapal laut, mobil, pejalan kaki, lautan ataupun daratan semuanya dapat memantulkan energi radar. Perubahan besar hanya terjadi pada desain sistim, metode dan kecepatan pemrosesan data signal radar, kapasitas dan cara penyajian data pada layar monitor. Kunci dari modernisasi sistim ini adalah pada penggunaan teknologi komputer, yang dengan cepat memproses informasi dari stasiun radar dan menampilkan pada layar monitor dengan berbagai macam variasi grafik dan alphanumeric serta dapat dihubungkan langsung dengan berbagai macam sistim senjata seperti peluru kendali maupun meriam penangkis serangan udara.

Dalam dekade 1930-an, saat PD I berakhir suasana di Eropa masih memanas. Jerman semakin mengembangkan kekuatan udaranya. Hal ini menimbulkan ketakutan terhadap Inggris dan Perancis yang saat itu merupakan rival Jerman di Eropa. Sehingga kedua negara tersebut ikut mengembangkan kekuatan udaranya. Pada masa jeda perang ini, kedua kekuatan berusaha saling memperkuat teknologi militernya.

Salah satu yang dilakukan Inggris adalah menemukan sebuah alat yang bernama sound tracker (penjejak suara) untuk mengantisipasi datangnya pesawat-pesawat musuh. Alat ini merupakan embrio dari sistem pertahanan udara modern, selain penemuan pesawat, komunikasi radio dan pelontar amunisi (bom). Inggris menempatkan sound tracker bersama-sama dengan pasukan pengintai yang berada di pantai (Selat Inggris). Pada saat ada pesawat asing masuk ke wilayah Inggris mereka segera mengontak pangkalan tempur terdekat agar musuh dapat dihadapi pesawat kawan. Walaupun tidak optimal dan sering lambat dalam merespons kedatangan musuh, alat ini adalah penemuan terbesar dalam sejarah perang.

Pada tahun 1886 sebenarnya sifat pantulan energi gelombang radio telah diketahui dan pada tahun 1930, pengukuran dengan menggunakan prinsip “pemancaran dan pantulan kembali energi radio” dapat dipahami. Siapa orang yang paling berjasa dalam pengembangan teknologi sound tracker tersebut kemudian? Ia adalah Sir Robert Alexander Watson-Watt, ahli fisika kelahiran Skotlandia, yang dikemudian hari diberi julukan “Bapak Radar”.

Tahun 1917, Watson bekerja di kantor meteorologi Inggris, dimana ia bertugas merancang suatu peralatan untuk mendeteksi petir/badai. Semuanya berubah saat ia mulai tertarik untuk menyelediki sifat-sifat ionosfer pada tahun 1926. Watson kemudian ditunjuk untuk mengepalai riset radio di Laboratorium Fisika Nasional Inggris pada tahun 1935, yang membawanya untuk menciptakan alat penunjuk posisi pesawat. Suatu hari Watson dimintai pendapat tentang kemungkinan signal radio untuk digunakan sebagai senjata penghancur. Ia mengatakan bahwa signal radio hanya dapat digunakan untuk menentukan lokasi pesawat.

Karena teknologi sound tracker dirasakan sangat minim kemampuannya maka dimulailah riset-riset baru yang kemudian menemukan apa yang disebut dengan teknologi “radio detection and ranging” yang disingkat radar. Radar dipatenkan di Inggris pada bulan April 1935.

Seperti dalam gambar di atas, radar bekerja dengan cara memancarkan signal yang akan mengenai sasaran udara yang melintas di dalamnya. Signal akan dipantulkan oleh pesawat

Skadron Jet Pertama SOC

Salah satu alasan dalam pembentukan sebuah komando yang bertugas menjaga wilayah udara nasional adalah dengan kedatangan armada pesawat De Havilland-115 Vampire. Untuk mewadahi pesawat-pesawat ini dibentuk Kesatuan Pancar Gas (KPG) yang merupakan embrio skadron jet pertama TNI AU, yaitu Skadron Udara 11.

Pesawat DH-115 merupakan pesawat sumbangan pemerintah Inggris kepada pemerintah RI, dan diserahterimakan pada tahun 1955. Sebagai home basenya adalah Pangkalan Udara Andir – Bandung (sekarang Lanud Husein S.).

Beberapa personel Angkatan Udara dikirimkan ke Inggris untuk belajar dan mengawaki pesawat Vampire. Di bawah pimpinan Kapten Udara Rusmin, para penerbang kita belajar bagaimana untk menerbangkan Vampire. Sedangkan mereka yang dikirim ke Inggris untuk belajar mengoperasikan pesawat Vampire adalah sebagai berikut Letnan Udara Sumitro, Letnan Udara Ignatius Dewanto, Letnan Udara Loely Wardiman, Letnan Udara Rusman, dan Letnan Udara Musidjan. Sedangkan rombongan personel teknisi dipimpin oleh Letnan Udara Satu Kamarudin.

KPG sendiri diresmikan Kasau pada tanggal 20 Pebruari 1956. Kekuatan pertama kali adalah 8 pesawat. Ditunjuk sebagai komandan skadron, Letnan Udara I Leo Wattimena. Lalu perubahan dari KPG menjadi Skadron Udara 11 didasarkan Surat Keputusan Kasau Nomor : Skep/56/III/1957 tanggal 20 Maret 1957. Pada saat diresmikan tanggal 1 Juni 1957 di Pangkalan Udara Andir, Kapten Udara Leo Wattimena masih menjabat sebagai komandan skadron. Pesawat Vampire secara resmi menjadi pesawat pertama yang digunakan oleh Skadron Udara 11.

Beberapa kejadian penting pernah dialami para penerbang saat menerbangkan pesawat Vampire ini. Misalnya pesawat dengan nomor registrasi J-702 pernah keluar landasan sewaktu latihan rutin. Pesawat J-707 mendarat darurat di sawah tanpa roda. Selain kecelakaan, ternyata masih banyak kejadian lain yang menjadi kenangan para penerbang dan ground crew pesawat Vampire. Diantaranya adalah pengalaman sewaktu pesawat Vampire terbang formasi dengan 7 pesawat pada suatu upacara kebesaran di tahun 1956. Hal tersebut merupakan pengalaman dan kenangan tersendiri bagi para personel, baik pada saat masih berbentuk KPG ataupun Skadron Udara 11.

Pesawat jet adalah hal baru bagi bangsa kita saat itu, sehingga dalam menangani pesawat Vampire diperlukan adaptasi yang baik. Bila sebelumnya Angkatan Udara hanya mengelola pesawat piston, sekarang sudah mulai mengelola pesawat jet tempur. Leo Wattimena menjabat komandan skadron sampai tahun 1961. Sampai tahun tersebut, Skadron Udara 11 masih berada di Pangkalan Udara Andir. Kekuatan total pesawat adalah 16 pesawat Vampire.

Pembentukan SOC

Sampai pertengahan dekade 50-an, belum ada penambahan kekuatan udara kita kecuali hanya proses konsolidasi organisasi. Namun pada tahun 1955, AURI mendatangkan armada pesawat DH-115 Vampire. Sehingga mulai dipikirkan untuk memiliki komando yang menangani masalah pertahanan udara nasional.

Embrio dari Kohanudnas terbentuk tahun 1958 sebagai sebuah organisasi bernama SOC (Sector Operation Centre). Organisasi ini berfungsi sebagai komando pengendali unsur-unsur pertahanan udara dalam memberikan perlindungan kepada daerah Jakarta dan Bandung terhadap kemungkinan serangan udara PRRI/Permesta. Unsur pertahanan udara yang dimiliki oleh SOC adalah satuan pancargas “Vampire”, unsure kekuatan Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP), Pasukan Penangkis Serangan Udara (PPSU), dan pesawat P-51 Mustang, serta unsur artileri pertahanan udara (Arhanud) milik Angkatan Darat. Kapten Udara Ignatius Dewanto yang berhasil menembak B-26 Invader AUREV pada tanggal 18 Mei 1958, yang diterbangkan agen CIA bernama Allan Pope.

Pembentukan SOC pada awalnya dilaksanakan demi mengantisipasi serangan udara dari pemberontak PRRI/Permesta yang menggunakan pesawat B-26 Mitchel di daerah Jawa dan Sumatera. Pemerintah RI saat itu marah besar dengan terungkapnya operasi intelijen CIA yang ikut mendukung pemberontakan PRRI/Permesta. Keterlibatan CIA ini diketahui setelah penerbang P-51 Mustang AURI, Kapten Udara Ignatius Dewanto berhasil menembak B-26 Invader AUREV pada tanggal 18 Mei 1958 yang ternyata diterbangkan seorang agen CIA bernama Allan Pope.

SOC membuktikan peran besarnya dalam peyelenggaraan pertahanan udara di masa itu. Hal itu ditunjukkan dengan dapat dilumpuhkannya kekuatan udara PRRI/Permesta dalam waktu yang singkat.

Selanjutnya, unsur-unsur pertahanan udara dari Angkatan Udara tersebut diperluas dengan satuan-satuan pancargas MiG-15, MiG-17 dan Satuan-Satuan Radar yang mampu secara aktif untuk mengadakan pertahanan udara terbatas di wilayah Indonesia bagian barat. Kapten Udara Leo Wattimena (mantan PangKohanudnas) menjadi Komandan Skadron Udara pertama AURI pada tahun 1955.

Combat Air Patrol (CAP)

CAP yang dalam istilah kita disebut patroli pertahanan udara, telah ada sejak awal perang dunia pertama. Pada saat itu pesawat masih berfungsi sebagai pesawat pengintai. Mereka melaksanakan patroli udara dengan satu pesawat dan belum mengenal istilah formasi atau kerjasama di udara.

Dimulai dengan keberhasilan seorang penerbang Jerman, Oswald Boelcke, dalam menemukan berbagai macam taktik dasar pertempuran udara, maka CAP mulai dilaksanakan dengan formasi. Formasi tidak bisa dilaksanakan dengan optimum karena pada era tersebut belum ada komunikasi radio. Perkembangan taktik formasi yang benar-benar membanggakan adalah pada era 1920 – 1935 saat komunikasi radio mulai ditemukan. Sejak saat ini, penerbang dapat menginstruksi ke pesawat lain dengan mudah.

Formasi CAP yang digunakan sampai sekarang, dikembangkan untuk pertama kali pada masa awal perang sipil di Spanyol yang menyulut terjadinya PD II. Pada tahun 1937, Jerman baru saja mendapatkan pesawat baru Me-109, namun dalam jumlah terbatas. 6 pesawat baru Me-109 Jerman lalu berdatangan di Spanyol, yaitu Messerschmitt Me-109. Mereka harus dengan segera mem-back up pro fasis Spanyol. Walaupun jumlahnya sangat sedikit, namun kedatangan pesawat-pesawat ini mempunyai arti sendiri dalam perkembangan taktik pertempuran udara.

Sebelumnya, elemen tempur terkecil harus terdiri dari 3 pesawat yang terbang dengan vic formation atau echelon. Namun karena jumlah Me-109 yang sedikit mengharuskan mereka untuk terbang formasi 2 pesawat. Sehingga para penerbang mencoba menemukan taktik yang baik untuk formasi 2 pesawat ini.

Setelah melaksanakan berbagai macam latihan, maka timbul dari Oberleutnant Gunther Lutzow, komandan flight Me-109 yang datang pertama kali di Spanyol, dan penggantinya Oberleutnant Joachim Schlichting tentang taktik-taktik baru tersebut. Setelah dilaksanakan beberapa kali penerbangan, maka ditemukan formasi terbaik untuk terbang 2 pesawat, yaitu line abreast. Dalam formasi ini, kedua pesawat terbang sejajar dengan jarak 200 yard.

Dalam berbagai latihan yang dilaksanakan, didapatkan kenyataan bahwa formasi loose pair atau dalam bahasa Jerman, rotte (formasi jauh) seperti tersebut di atas, ternyata lebih tangguh dibanding formasi-formasi jarak dekat lain yang digunakan sebelumnya. Setelah itu mereka menemukan formasi in trail, dan fighting wing. Kemudian, formasi pesawat tempur dalam jumlah yang lebih besar menggunakan dasar yang diambil dari formasi 2 pesawat tersebut.

Pesawat tempur Kohanudnas yang mengadakan patroli udara di wilayah udara nasional saat ini masih mewarisi taktik-taktik tersebut di atas. Namun demikian, pesawat-pesawat tempur modern sudah dilengkapi dengan peralatan yang lebih canggih dan kemampuan pesawat yang lebih baik. Mereka dilengkapi dengan radar, sistem navigasi, radar warning receiver (RWR), juga rudal-rudal. Di bawah terdapat radar permukaan yang akan meningkatkan situation of awareness dari penerbang.

About these ads
Komentar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s