Benih Cinta Tanah Air Di Sekolah

Posted: 8 Februari 2010 in Bahasa budaya, Cinta Tanah Air, Sekolah
Oleh: F. Ariningrum I.W

Apa yang dilakukan sekolah (para guru) untuk menanamkan kebanggaan pada diri para siswa-siswinya untuk bisa mencintai negerinya sendiri? Bagaimana dengan sekolah berkurikulum asing? Inilah pengakuan beberapa di antaranya.

“Sekolah kami memang belum memiliki program esktrakurikuler seperti pramuka, tari-tarian daerah, dan sebagainya. Namun untuk memupuk rasa cinta tanah air pada para siswa, kami para guru kerap menyelenggarakan event misalnya, Indonesian Culture. Pada event itu, masing-masing kelas dari kelas 1 sampai 6 akan memilih sendiri daerah mana yang akan mereka pelajari selama seminggu ke depan.

Dari berbagai referensi, mereka akan memperoleh macam-macam informasi mengenai provinsi pilihan mereka. Dari makanan, sejarah, gaya hidup dan social life-nya. Bahkan ada satu hari dimana dilakukan cooking project untuk memasak makanan dari provinsi tersebut. Bila memungkinkan akan diundang orang asli dari suatu daerah umpama, orang asli Jawa Tengah yang akan bercerita di depan kelas mengenai provinsi tersebut.

Saat akhir minggu masing-masing kelas akan melakukan open house dan menampilkan beragam karya dan informasi mengenai provinsi yang dipelajarinya. Contohnya, satu kelas menampilkan provinsi Nusa Tenggara dengan memajang poster wilayah tersebut, benda-benda khas daerah Nusa Tenggara, dan murid-murid kelas itu mengenakan pakaian tradisionalnya. Lalu masing-masing kelas saling mengunjungi dan bertanya untuk mengenal provinsi lainnya. Kami percaya anak akan mendapatkan pengetahuan dan bisa mengerti dengan melakukan sesuatu (knowledge, understanding, dan doing something/KUDO). Cara ini akan lebih efektif, karena para murid belajar sesuatu yang riil sehingga bisa menghayati kecintaan terhadap tanah air daripada menghafal.

Pada event lainnya—seperti Hari Kartini, Pendidikan Nasional, atau 17 Agustus—sebelum sampai hari H, anak-anak sudah belajar hal-hal yang mengarah pada puncak perayaan hari nasional tersebut. Misal, mereka fokus belajar sejarah mengenai masa lalu dan bagaimana sejarah tersebut bisa membantu mereka di masa depan.

Untuk hal-hal kecil, kami menanamkan kecintaan pada tanah air melalui makanan, misalnya. Saat lunch, siswa-siswi diperkenalkan pada hidangan budaya Indonesia semisal nasi-tempe agar mereka tidak hanya tahu makan burger saja.

Pelajaran Pancasila dimulai sejak kelas 1-3. Mereka belajar tentang apa itu Pancasila dan setiap silanya. Pancasila tidak dihafalkan melainkan diterapkan dalam aktivitas kesehariannya. Umpama, untuk sila kesatu Ketuhanan Yang Maha Esa, anak tahu bahwa seseorang butuh agama. Mereka tahu di Indonesia ada perbedaan agama. Diharapkan dengan perbedaan tersebut anak bisa saling menghargai dan bersaudara.

Kami juga mengajari mereka bahasa Indonesia yang baik dan benar sama seperti anak-anak di sekolah lain. Bahasa ini justru jadi bahasa pergaulan karena dianggap lebih comfortable meski secara akademis, sekolah memang menekankan anak-anak untuk bisa dua bahasa (Inggris-Indonesia).

Anak asing yang bersekolah di sini juga belajar semua tentang Indonesia. Bukan memaksa mereka untuk jadi warga negara Indonesia, tapi karena mereka tinggal di Indonesia dan harus menghargai budaya bangsa Indonesia.”

About these ads
Komentar
  1. santi mengatakan:

    assalam…
    salam slaturahim,
    afwan, kalo bisa ada artikel tentang cara penerapan cinta tanah air dan bela negera di sekolah..
    syukron,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s