Membangun Semangat Kebangsaan Berlandaskan Nilai-Nilai Budaya Lokal Dalam Kerangka Budaya Nasional

Posted: 15 September 2009 in Pendidikan Bela Negara

http://s2.causes.com/photos/jL/6i/Gy/a1/QY/0O/xH/iWJ.jpgOleh:  Sairul Sidiq, SH.

A.   Pendahuluan

Bila para pemikir sekarang mewacanakan “globalisasi”, Ki Hadjar pada zamannya memakai istilah “pengaruh zaman”. Di sini, jendela-jendela tradisi perlu dibuka dan cara hidup ditafsir ulang. Dengan cara demikian, seorang pujangga menangani sekaligus dua pekerjaan rumah. Melakukan konservasi tanpa harus menjadi konservatif dengan cara membuat tradisinya tetap relevan dengan “semangat zaman”, menganut hukum “kodrat-alam”, “continuity and change”, yang ada kesesuaiannya dengan asas “Tri-kon”. Bahwa dalam pertukaran budaya harus tetap ada “kontinuitas” dengan alam kebudayaan sendiri, tetapi juga ada “konvergensi” dengan budaya-budaya lain. Yang akhirnya mewujudkan budaya global yang “konsentris”. Berarti, bertitik-pusat satu dengan alam-alam kebudayaan sedunia, tetapi tetap memiliki garis-lingkarannya sendiri, wujud semangat ke-Bhinneka Tunggal Ikaan kita Bagi kebudayaan, apa yang kini dikenal sebagai globalisasi bukanlah hal baru. Sejarah menunjukkan, di masa lampau globalisasi telah berulangkali melakukan persentuhan dengan budaya-budaya lokal di seluruh Nusantara. Dulu, proses persentuhan budaya lokal dengan tradisi-tradisi besar dunia telah melahirkan keragaman budaya Nusantara. Persentuhan yang dinamik itu tidak muncul dengan sendirinya, tetapi -meminjam istilah Umar Kayam-lahir dari suatu proses “tawar-menawar”.
Merajut dialog antara tradisinya sendiri dengan tradisi-tradisi lain, menjalin saling pemahaman akan kesamaan dan perbedaan, dengan demikian menghindarkan diri dari “benturan antartradisi”. Meminjam anjuran Mochtar Pabottinggi, agar setiap kelompok budaya saling menyapa dan mengenal, untuk saling memberi dan menerima. Karena sekaranglah saatnya kita mengukuhkan persatuan dan kesatuan bangsa yang tidak sebatas tawar-menawar politik, tetapi dengan tawaran kehidupan budaya yang lebih hangat.

Pabottinggi, yang berasal dari etnis Bugis-Makassar, memimpikan bagaimana kelompok etnisnya belajar dari etnis Jawa dan Minang. Dari sistem nilai Jawa, etnis Bugis bisa mendewasakan prinsip siri’, agar tidak terkungkung pada masalah-masalah sempit kekeluargaan, melainkan menjangkau hal-hal yang lebih penting, lebih mulia dan lebih besar artinya bagi bangsa. Dari etnis Minang, orang Bugis dapat belajar tentang prinsip musyawarah, karena mereka terbiasa menyelesaikan persoalan secara kaku, pantang berubah, sebab siri’ memerlukan pemenuhan seketika. Dari sistem nilai Jawa, orang Bugis dapat belajar tentang relativisme nilai-nilai serta internalisasi dan preservasi kekuatan di dalam kalbu. Kelompok etnis Jawa dan Minang pun dapat belajar dari sistem nilai Bugis-Makasar dalam penekanan kesetiaan pada kata (hand). Orang Bugis tidak suka melebih-lebihkan kata. Ucapan akkanaka (saya berkata) memiliki bobot yang sangat matter-of-fact dalam tradisi historiografi Bugis-Makasar. Itulah sebabnya mengapa peninggalan-peninggalan tertulis mereka punya kadar historisitas yang lebih kuat dibanding dengan babad-babad Tanah Jawa yang bersifat legenda. Demikian juga, masyarakat etnik yang lain agar dapat belajar dari budaya malu (al-haya’) dan berkata yang benar (quit al-haq dua integritas pribadi Muslim Aceh yang khas.

Setiap pejabat publik hendaknya merasa malu jika melakukan kesalahan, dan siap mengundurkan diri dari jabatannya. Terlalu lama bangsa ini bersifat permisif terhadap kesalahan pemimpinnya. Budaya malu ini sangat efektif penerapannya di lingkungan bangsa Jepang dan Korea. Jika “akulturasi” budaya-budaya etnik Nusantara itu bisa berlangsung mulus secara organis, barangkali wujud sintesis budaya itu bisa diartikan sebagai “puncak-puncak” budaya Nusantara versi baru, sebagaimana pernah digagas oleh Ki Hadjar dalam Polemik Kebudayaan tahun 1930-an, tapi terbentuk dari dinamika proses dialogis antar budaya-budaya etnik, bukan yang sudah ada sebelumnya. Itulah yang dilakukan Ki Hadjar Dewantara. la berdialog dengan tradisi lama yang memuat nilai-nilai kearifan lokal yang pada zamannya sedang marak untuk digali maknanya kembali. Diperingatkan olehnya, bahwa pedoman yang harus diingat-ingat ialah: “Syariat tanpa hakikat adalah kosong. Sebaliknya hakikat tanpa syariat menjadi batallah shalat seseorang”. Jadi hakikat dan syariat kedua-duanya penting. Meskipun demikian hakikatlah yang harus diutamakan, sebab mengetahui hakikat lebih sukar daripada melihat syariat.

B. Membangun Semangat Kebangsaan Berlandaskan Nilai-Nilai Budaya Lokal Dalam Kerangka Budaya Nasional.

Pelestarian dan pengembangan budaya daerah sebagai satu asset bangsa, perlu dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan budaya masyarakat, sehingga budaya bangsa tidak terlindas oleh derasnya arus globalisasi yang membawa berbagai macam pengaruh dan dampak bagi kehidupan masyarakat. Disamping itu pelestarian dan pengembangan budaya bangsa dilaksanakan untuk kepentingan pariwisata, yang dapat meningkatkan citra daerah maupun tarat hidup masyarakatnya. Untuk itu perlu adanya kesadaran dan komitmen bersama dari seluruh komponen bangsa untuk tetap melaksanakan pembangunan kebudayaan ini dalam rangka memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

Kesadaran kebangsaan Indonesia adalah kesadaran multikultural yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia adalah satu bangsa yang terdiri dari berbagai macam budaya, baik yang berlatar belakang agama, suku maupun keturunan. Keberagaman budaya itu adalah ciri bangsa Indonesia. Keberagaman budaya yang ada tidak akan dilebur menjadi satu karakter tunggal yang baru sebagaimana konsep melting pot. Konsep kebudayaan Indonesia adalah konsep cultural pluralism. Dalam konsep ini kelompok-kelompok yang berbeda bahkan harus didorong untuk menumbuh-kembangkan sistem budayanya masing-masing dalam kebersamaan, agar dengan demikian dapat memperkaya kehidupan masyarakat majemuk yang bersangkutan. Oleh karenanya, adalah wajar bila satu kelompok, apakah etnik, agama, atau ras mempunyai kebanggaan dan solidaritas kelompoknya masing-masing.

Solidaritas atau kepentingan kelompok bahkan tetap dihormati dan dihargai. Akan tetapi, apabila sudah menyangkut solidaritas dan kepentingan bangsa, solidaritas dan kepentingan kelompok harus ditinggalkan. Apabila sudah menyangkut kepentungan bangsa, maka komitmen solidaritasnya harus terangkat dari tingkat lokal primordial ke tingkat nasional yang membangsa. Keberadaan bangsa Indonesia didasarkan pada kesamaan tekad, semangat dan cita-cita. Yakni, kesamaan tekad dan semangat untuk bersatu menjadi satu bangsa merdeka dalam wadah Negara Indonesia. Jadi, keinginan bersatu itulah yang menjadi roh keberadaan bangsa Indonesia.

Kesamaan tekad dan semangat untuk bersatu tumbuh ketika setiap warga bangsa Indonesia merasa senasib sepenanggungan dalam cengkraman penjajah. Terutama dikalangan warga bagsa yang sudah terdidik tumbuh pemahaman dan kesadaran bahwa tanpa persatuan sebagai suatu bangsa kita tidak akan dapat mengusir kaum penjajah. Pemahaman, kesadaran, dan kehendak untuk bersama itu kemudian menyebar dan disepakati oleh seluruh warga bangsa Indonesia. Itulah semangat kebangsaan yang berdasarkan pada cipta, rasa dan karsa bangsa dalam melakasanakan tugas kesejarahannya, membangun diri untuk melanjutkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bersama bangsa-bangsa lainnya ditengah peradaban dunia.

C. Budaya Dan Kearifan Lokal Masyarakat Lampung

Senada dengan tema yang di ungkap di atas yaitu membangun semangat kebangsaan yang berlandaskan budaya lokal dalam kerangka budaya nasional. Berikut dikemukakan tentang budaya dan kearifan lokal masyarakat Lampung.

Secara umum Kebudayaan didefinisikan sebagai hasil karya manusia yang diciptakan guna mempertahankan kelangsungan kehidupan manusia. Kebudayaan penting bagi kehidupan manusia untuk digunakan sebagai alat beradaptasi dengan lingkungan sosial dan alam. Hasil karya manusia yang berwujud kebudayaan itu menonjolkan unsur estetika, pengetahuan maupun yang berkaitan dengan peristiwa kehidupan manusia itu sendiri. Wujud kebudayaan itu dapat berupa nilai-nilai yang diwarisi secara turun temurun, yang dipergunakan sebagai acuan dalam bertindak dan bertingkahlaku dalam komunitasnya, maupun berhubungan dengan masyarakat lain diluar kelompok mereka. Wujud kebudayaan itu dapat pula bewujud kesenian, bahasa, dan struktur masyarakat yang berlaku pada komunitas mereka masing-masing. Kebudayaan daerah Lampung dimulai sejak zaman pra-sejarah. Berdasarkan peninggalan pra-sejarah daerah Lampung termasuk wilayah penyebaran kebudayaan Megalitik dan kebudayaan Perunggu. Kenyataan ini berdasarkan penemuan berupa genderang perunggu atau nekara dan patung pasemah, pada permulaan pertama abad masehi diperkirakan pengaruh Hindu mulai masuk ke Indonesia. Pengaruh kekuasaan kerajaan Sriwijaya meletakkan dasar kebudayaan Hindu di daerah Lampung dan berkembang terus sampai pada zaman Majapahit. Peninggalan Agama Hindu dan Budha sampai sekarang masih ada dalam tradisi masyarakat Lampung seperti; struktur masyarakat, alam fikir dan upacara adat.

Warna kehidupan sosial masyarakat Lampung ternyata mampu memberikan suatu wajah Indonesia mini. Penduduk yang mendiami ujung moncong pulau sumatera ini terdiri dari berbagai macam suku bangsa. Hampir sebagian besar suku bangsa yang ada di Indonesia terdapat di Lampung seperti: Suku Jawa, Sunda, Bali, Minangkabau, Batak, Semendo, Ogan, Bugis, Maluku dan perantauan lain dari Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Melihat perkembangan tersebut wajar jika kemudian Lampung berkembang menjadi sebuah kawasan yang multietnik. Dampak paling nyata dari beranekaragam tadi, menyebabkan Lampung memiliki nilai dan sistem khas, bercirikan huruf aksara (ka ga nga) dan ragam bahasa yang spesifik, menggambarkan betapa tingginya nilai budaya Lampung. Masyarakat lampung terdiri dua kelompok besar (khua jurai) yaitu pepadun dan saibatin. Dua kelompok adat itu mempunyai adapt istiadat yang sangat kuat dan sangat kental mewarnai kehidupan masyarakat lampung. Keragaman budaya tersebut disatukan oleh prinsip filosofis masyarakat Lampung yang dikenal dengan sebutan Pi’il Pasanggiri yang terdiri dari:

1. Pi’il Pesenggiri (rasa harga diri) yaitu suatu falsafah dimana masyarakat lampung benar-benar menjaga kehormatan dirinya maupun keluarganya, terutama menjaga harkat dan martabat kaum wanitanya. Juga diterjemahkan suatu keharusan hidup bermoral tinggi, jiwa besar, tahu diri dan tahu kewajiban.
2. Nengah Nayappur, (hidup bermasyarakat) berarti berbaur ketengah khalayak (terbuka), yang berarti pula dalam kehidupan sehari-hari etnis pendatang ikut bergabung baik dalam kegiatan adat maupun kegiatan kemasyarakatan lainnya. Dalam istliah lain diartikan suatu keharusan berjiwa sosial, gotong royong, dan berbuat baik sesama manusia.
3. Nemui Nyimah, (terbuka tangan) berarti berlaku hormat dan menghormati dalam bertamu atau melayani tamu dengan baik dan hati yang ikhlas.
4. Bejuluk Beadek, (bernama-bergelar) berarti mempunyai gelar dalam hal pergaulan sehari-hari, ada tata krama dalam tutur sapa antara satu dengan yang lain, yang muda ke yang tua dan yang muda ke yang kecil serta suatu keharusan berjuang untuk meningkatkan kesempurnaan hidup, bertata tertib dan tata krama sebaik-baiknya.
5. Sakai Sambayan, (tolong menolong) merupakan suatu keharusan untuk saling tolong-menolong baik dalam keadaan senang, keadaan susah dan harus senantiasa mengupayakan kerukunan serta keharmonisan sesama anggota keluarga dan anggota masyarakat.

Nilai budaya ini menjadi suatu kearifan lokal (local genius l local wisdom) bagi masyarakat lampung, karena ia mampu berfungsi sebagai problem solving dalam setiap masalah yang muncul. Kearifan lokal dapat didefinisikan sebagai nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan-kekayaan budaya lokal berupa tradisi, petatah-petitih dan semboyan hidup. Kearifan lokal sepertinya menjadi obat mujarab untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang timbul akibat perubahan zaman yang mendera setiap pelosok dunia. Dengan obat “kearifan lokal” maka penyakit masyarakat yang dapat terobati yaitu; Pertama, menurunnya ketegangan dan ancaman konflik antar kelompok masyarakat. Kedua, semakin kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan Bhineka Tunggal Ika. Ketiga, semakin berkembangnya penerapan nilai baru yang positif dan produktif dalam rangka memantapkan budaya nasional yang terwujud dalam setiap aspek kebijakan pembangunan. Keempat, meningkatnya pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya. Hal ini senada dengan amanat pasal 22 Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi; (1) Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia ditengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budaya. (2) Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.

Ada beberapa ungkapan yang menjadi kearifan lokal masyarakat Lampung antara lain “kippak mak nulung kidang dang nyegung” (kalau tidak bisa menolong jangan mengganggu), “sejawohni lapahan, sebekhak ni tengliak” (semakin jauh perjalanan yang ditempuh, semakin luas wawasan/pengetahuan yang di dapat).

D. Analis Pemikiran

1. Kita semua paham bahwa ajaran-ajaran Ki Hadjar Dewantara ternyata masih sangat relevan untuk menghadapi jaman globalisasi bahkan beliaupun telah memberikan cara-cara atau kunci untuk mengatasinya. Kunci yang paling utama adalah kita “kembali kepada budaya dan jati diri kita sendiri”
2. Kekhasan budaya Indonesia yakni hijau cahaya matahari dipantulkan oleh daun, semenatara kuningnya oleh kenanga, serta merahnya oleh mawar. Namun tidak pada tempatnya kalau “daun” mengatakan bahwa cahaya matahari itu hijau, atau kuning menurut kenanga atau merah menurut mawar. Bagaimana kalau semuanya hijau? Tentu saja “ijo loyo-loyo”. Kalau semuanya kuning sakit kuning. Kalau semuanya merah, trachoom, sakit mata. Maka sungguh berkat kata-kata sang pujangga: Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangerwa.
3. Mencintai suatu Negara bagi seluruh warga Indonesia, harus ditunjukkan dengan mereka mencintai lambang/symbol eksistensi suatu negaranya. Bila Indonesia memiliki simbol Merah Putih sebagai bendera Republik Indonesia, burung Garuda (dalam Bhineka Tunggal Ika) sebagai simbol pemersatu dan Pancasila sebagai yang “harus dimuliakan” maka seluruh warga Indonesia harus mencintai Merah Putih, Garuda (Bhineka Tinggal Ika) dan Pancasila. Kita tidak mendewakan/menuhankan warna merah putih, burung garuda atau pancasila, akan tetapi secara simbolis dan ruhani spiritual, kita wajib menempatkan simbol-simbol tersebut sebagai sebagaian dari ibadah kita, sebab cinta-Negara adalah sebagaian dari iman kepada Tuhan.
4. Menurut hemat penulis, bahwa kita harus betul-betul memahami apa makna hakiki dari Bhineka Tunggal Ika karena ini adalah sandi (slogan/adagium) yang harus digunakan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Beberapa waktu terakhir ini selalu muncul di media masa cetak maupun elektronik konflik horizontal seperti kerusuhan antar suku, antar agama (keyakinan). Maka solusinya kita harus menggunakan kata sandi yaitu bagi masyarakat yang datang ke suatu daerah yang baru (masyarakat pendatang) segera ucapkanlah “assalumualaikum-dimana bumi di pinjak disitu langit dijunjung” artinya bahwa kita telah berikrar terimalah kami sebagai bagian dari masyarakatmu (mu=kelompok) dan kami juga berikrar akan menjunjung tinggi dan berperilaku sesuai dengan prinsip-prinsip yang hidup dalam masyarakat tersebut. Kemudian masyarakat yang didatangi (penduduk pribumi) jawablah dengan sandi “waalaikumsallam-Bhineka Tunggal Ika” artinya kami persilahkan dan selamat datang, dengan demikian disadari bahwa dengan adanya sekelompok masyarakat pendatang berarti terjadi perubahan bahwa yang tadinya pendudukku “homogen” sekarang menjadi “heterogen”. Demikian juga bagi masyarakat sesama pendatang kata sandi yang harus kita gunakan “Indonesiaku Dengan Sejuta Warna-Warni Senyum Bangsaku”. Begitu juga dalam konteks agama, kita harus senantiasa menjunjung tinggi kata sandi “Tuhan Yang Maha Esa” artinya kita tidak perlu memperdebatkan masalah keyakianan yang berbeda-beda tetapi kita sepemahaman bahwa Tuhan Itu Esa.

E. Kesimpulan

Sebagai akhir dari makalah ini, maka dapat kami simpulkan bahawa identitas budaya bangsa Indonesia sudah jelas dan terang sebagaimana tersirat dalam sesanti “Bhineka Tunggal Ika” dalam satuan wilayah nusantara “Negara Kesatuan Republik Indonesia” yang berdasarkan pada ideologi atau falsafah hidup bangsa Indonesia yaitu “Pancasila” yang kesemuanya termaktub dalam UUD 1945.

F. Tentang Penulis

Ketika lahir di Tulang Bawang, 7 Juni 1982 kedua orang tua penulis mewariskan sebuah nama Sairul Sidiq. Berkediaman di Kampung Tulang Bawang Kecamatan Bahuga Kabupaten Way Kanan Prov. Lampung. Setelah tamat Sekolah Dasar di SD N 01 Bumi Agung Bahuga Way Kanan kemudian melanjutkan di SLTP CIPTA KARYA Buay Madang OKU-TIMUR, selanjutnya di SMU YPB BELITANG OKU-TIMUR. Sedangkan gelar kesarjanaan diperoleh di Perguruan Tinggi Muhammadiyah Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Adapun Gelar master diperoleh dari Magister Ilmu Hukum Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Selain kuliah penulis juga gemar menulis karya tulis ilmiah yang menghantarkannya sebagai finalis Mahasiswa Berprestasi UAD yaitu; Pertama, Arah Baru Pengembangan Pemilu yang Berkualitas dan Berwawasan Demokratis. Kedua, Tantangan Indonesia Sebagai Bangsa yang Demokratis. Selama masa study penulis merupakan mahasiswa Penerima Beasiswa Bantuan Akademik dari UAD, Penerima Beasiswa Bantuan Belajar dari Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Penerima Beasiswa Supersemar dari Yayasan SUPERSEMAR, Bantuan Study S.2 dari Pemerintah Provinsi Lampung. Penulis juga aktif diberbagai kegiatan kemahasiswaan seperti; Pengurus HMI Cabang Yogyakarta, Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa UAD Yogyakarta, Presiden Mahasiswa UAD Yogyakarta, MENWA Satuan Ahmad Dahlan, Ketua Umum Himpunan Pelajar Mahasiswa Lampung Yogyakarta (HIPMALA), Ketua Umum Komite Independen Peduli Pembangunan Lampung (KIPPLAM), Ketua Umum Garuda Nusantara (GARNUS) Indonesia, Dewan Pakar Jaringan Nusantara (JN) DPC Sleman DIY dan Sekarang Ketua Forum Relawan Sultan Untuk Nasional Provinsi Lampung (FORSUN) dan Pengurus Ikatan Keluarga Alumni Mahasiswa Way Kanan Yogyakarta (IKAM-WK).

About these ads
Komentar
  1. Iksa mengatakan:

    Bagaimana mempertahankan budaya dan kearifan lokal dimasa sekarang ini? Hampir disemua segi kehidupan (dan bernegara) yang digunakan adalah budaya dan kearifan impor ….

  2. nisa mengatakan:

    terlalu panjang……….
    jadi orabg susah untuk dibaca…
    seharusnya yang penting2 jha….

  3. FADHLI DZIL IKROM mengatakan:

    Nilai-Nilai Budaya >>>
    mari kita

    jaga,

    \\,

    lestarikan,,

  4. SAUT BOANGMANALU mengatakan:

    TERIMAKASIH INFORMASI DAN TULISANNYA. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

  5. pernikahan adat mengatakan:

    Begitu indah dan kaya Indonesia ini, mari bersama kita lestarikan budaya kita,, salam kenal dari Pernikahan Adat Di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s