Pengembangan Iptek, Industrialisasi, dan Kemajuan Bangsa

Posted: 3 September 2009 in Bangsa, Industrialisasi, IPTEK

See full size imageOleh: Rokhmin Dahuri

PADA 17 Agustus tahun ini, NKRI genap berusia 64 tahun. Kita seluruh rakyat Indonesia patut bersyukur kepada Tuhan YME karena atas kehendak-Nya wilayah darat dan laut Nusantara ini kaya dengan berbagai macam SDA (sumber daya alam).

Lebih dari itu, posisi geoekonomi Indonesia juga sangat strategis, dengan sekitar 45% dari total volume perdagangan barang dan komoditas dunia diangkut kapal-kapal niaga melalui alur laut kepulauan Indonesia. Karena itu, dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, seharusnya Indonesia kini sudah menjadi bangsa besar yang maju dan makmur.

Sayangnya, sampai sekarang status Indonesia masih sebagai negara berkembang dengan tingkat pengangguran dan kemiskinan yang tinggi serta daya saing dan indeks pembangunan manusia (IPM) yang rendah. Bayangkan, dalam lingkup ASEAN saja, IPM Indonesia hanya di atas Filipina, Kamboja, Laos, dan Myanmar (UNDP, 2008).

Sementara itu, daya saing Indonesia di Asia hanya menempati urutan-42, satu tingkat di atas Filipina. Vietnam bertengger pada peringkat-39, Thailand 26, China 20, Malaysia 18, dan Singapura 1 (IMD, 2009). Padahal, di era globalisasi ini hanya bangsa yang berdaya sainglah yang bisa maju, makmur, dan berdaulat (Porter, 1998; Vietor, 2005).

Ekonomi berdaya saing
Oleh sebab itu, mulai sekarang pemerintah bersama seluruh komponen bangsa mesti mengembangkan sistem ekonomi nasional yang berdaya saing dan berdaya lenting (resilient). Yakni sebuah sistem ekonomi yang mampu menghadirkan kedaulatan pangan, energi, sandang, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya; dan secara simultan bisa mengekspor sejumlah barang dan jasa secara efisien dan berkelanjutan.

Itu dapat diwujudkan dengan memacu produktivitas dan efisiensi di setiap sektor ekonomi, baik sektor riil maupun sektor keuangan. Kemudian, pemerintah harus mendorong lahirnya perusahaan-perusahaan Indonesia berkelas dunia (Indonesian multinational corporations) yang tidak hanya mampu menangkis serangan pesaing-pesaing asing di pasar domestik, tetapi juga mampu melakukan penetrasi dan memenangi persaingan di pasar global.

Selain ketersediaan infrastruktur, pasok energi, iklim investasi yang kondusif, dan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), variabel yang sangat menentukan bagi terwujudnya sistem ekonomi yang berdaya saing dan resilient adalah tingkat penguasaan dan penerapan iptek dalam seluruh mata rantai sistem ekonomi dan industri suatu bangsa.

Di Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara industri maju lainnya, sejak 1950-an sampai sekarang, pertumbuhan produktivitas ekonominya sekitar 87,5% berasal dari kemajuan teknologi, hanya 12,5% yang disumbangkan penggunaan kapital. Demikian pula halnya yang terjadi di Singapura, Malaysia, Taiwan, China, India, dan emerging economies lainnya (Kynge, 2006; Narayanan, 2008).

Hal sebaliknya justru terjadi di Tanah Air. Sejak kemerdekaan sampai sekarang, pemerintah dan pengusaha seakan membiarkan bangsa ini bergantung pada teknologi impor. Hingga kini, kita menjadi bangsa konsumen produk teknologi bangsa-bangsa lain, bukan inovator teknologi.

Ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi impor inilah yang menyebabkan sistem ekonomi dan industri Indonesia kurang kompetitif. Selain itu, input produksi lainnya juga sebagian besar diimpor. Contohnya, ketiga industri andalan nasional (tekstil dan produk tekstil, elektronik, dan otomotif), ternyata kandungan impornya mencapai 70% sampai 85%. Artinya, selama ini kita hanya menjadi \’tukang jahit\’.

Pelembagaan inovasi teknologi
Agar dapat melepaskan diri dari ketergantungan pada teknologi asing, dan sekaligus mengembangkan sistem ekonomi dan industri nasional yang berdaya saing dan resilient; kita harus melakukan institusionalisasi proses-proses inovasi teknologi. Artinya, preskripsi-preskripsi teknologi yang mendasari beroperasinya unit-unit produksi dalam sistem industri nasional harus merupakan hasil karya atau ada dalam kendali bangsa kita sendiri.

Untuk itu, kita mesti melakukan langkah terobosan dengan menyempurnakan sistem manajemen teknologi nasional (SMTN) beserta mekanisme kerjanya. Sebagai sebuah sistem, SMTN terdiri dari empat komponen: produsen, pengguna, penyandang dana, dan regulator teknologi. Tujuan SMTN adalah agar bangsa Indonesia secara mandiri mampu menghasilkan dan mengembangkan teknologi, kemudian mengaplikasikan teknologi tersebut dalam sistem industri dan ekonomi nasional sehingga menghasilkan barang dan jasa yang kompetitif secara berkelanjutan.

Seluruh aktivitas pembangunan ekonomi dan industri nasional harus secara sistemik lebih banyak menggunakan teknologi yang dihasilkan oleh putra-putri bangsa sendiri (endogenous technology). Pengembangan endogenous technology memerlukan SDM berkualitas di bidang penelitian dan pengembangan (R&D) dengan jumlah yang mencukupi, prasarana dan sarana R&D yang mumpuni (bertaraf internasional), dan dukungan dana yang memadai.

Pengembangan model ini hendaknya difokuskan pada jenis-jenis teknologi yang dapat mendukung sektor ekonomi yang merupakan keunggulan kompetitif Indonesia, yakni industri berbasis SDA termasuk pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan, pertambangan dan energi, dan pariwisata.

Adapun jenis-jenis endogenous technology yang dimaksud, antara lain teknologi budi daya flora dan fauna, teknologi pengolahan SDA terbarukan, teknologi herbal, bioteknologi, energi terbarukan, teknologi minyak dan gas bumi, teknologi pertambangan umum, teknologi pendukung industri pariwisata, teknologi kelautan, coastal engineering and management, teknologi perkapalan, teknologi material, teknologi informasi dan komunikasi, dan nanotechnology.

Bioteknologi memungkinkan kita untuk meningkatkan produktivitas budi daya hewan dan tumbuhan berlipat ganda yang ramah lingkungan. Selain itu, dengan bioteknologi kita dapat mengekstraksi senyawa-senyawa bioaktif dari berbagai jenis organisme terestrial maupun perairan sebagai bahan baku untuk industri farmasi, kosmetik, makanan dan minuman, dan beragam industri lainnya.

Dalam jangka pendek, ada baiknya kita meneladani Korea Selatan, Singapura, dan China yang dengan cerdas memanfaatkan kiprah korporasi multinasional di negeri mereka untuk memacu pertumbuhan ekonomi, transfer teknologi, dan peningkatan daya saing nasional (Kwong, et.al., 2001; Kynge, 2006).

Transfer teknologi merupakan salah satu prasyarat utama dalam setiap perjanjian kerja sama investasi dengan korporasi multinasional. Perusahaan-perusahaan multinasional itu mendatangkan berbagai mesin dan peralatan industri mutakhir (state of the art technology) dari negara mereka (negara industri maju) ke tiga negara tersebut. Selain itu, mereka membawa serta perangkat lunak untuk mengoperasikan beragam jenis mesin dan peralatan industri, dan untuk sistem pengendalian proses produksi.

Korporasi multinasional juga menularkan etos kerja industrial kepada para karyawan dan teknisi di ketiga negara itu melalui berbagai program pendidikan dan pelatihan. Lebih dari itu, pemerintah Korsel, Singapura, dan China pun mewajibkan korporasi multinasional untuk melibatkan para peneliti, dosen, dan mahasiswanya dalam kegiatan R&D mereka. Pengetahuan, keahlian, dan etos kerja industrial yang diperoleh melalui on the job training semacam ini berkontribusi sangat signifikan terhadap pembentukan SDM (human capital) yang berkualitas di Korsel, Singapura, dan China.

Dalam jangka panjang, sistem pendidikan dari mulai TK sampai perguruan tinggi harus dirancang supaya mampu menghasilkan SDM berkualitas dalam jumlah sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan perkembangan zaman.

Yaitu para lulusan pendidikan tingkat menengah, diploma, sarjana, magister, dan doktor yang mampu berpikir jernih dan logis, kreatif, inovatif, mampu berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dan asing dengan baik, melek teknologi informasi (computer literacy), berjiwa wirausaha, memiliki etos kerja tinggi, dan beriman dan takwa kepada Tuhan YME. Selain sejumlah kemampuan dasar tersebut, lulusan tingkat menengah kejuruan, diploma, S-1, S-2, dan S-3 tentu harus menguasai keahlian yang menjadi bidang studinya.

Untuk mengurangi pengangguran terdidik yang kian membeludak, jumlah dan kualitas lulusan dari setiap program studi mestinya disesuaikan dengan kebutuhan tenaga kerja nasional saat ini dan di masa mendatang, semacam program link and match.

Dari sisi permintaan, Depnakertrans berperan sebagai leading sector yang menyusun database kebutuhan tenaga kerja nasional saat ini dan yang akan datang. Masukan data berasal dari semua departemen dan instansi pemerintah, pemda, swasta (Kadin), dan sektor informal. Database tentang kebutuhan tenaga kerja ini menjadi dasar bagi perencanaan pembangunan sistem pendidikan nasional oleh Departemen Pendidikan Nasional bersama perguruan tinggi, dan sekolah menengah sebagai penghasil tenaga kerja terdidik dan terampil.

Balai latihan kerja di bawah Depnakertrans dan sejumlah Departemen teknis harus lebih ditingkatkan lagi fungsinya guna memoles para lulusan sekolah tingkat menengah, diploma, atau perguruan tinggi yang belum siap kerja menjadi lebih siap kerja.

Sebagaimana di negara-negara industri maju, sudah saatnya kita mendukung perguruan tinggi secara sungguh-sungguh agar menjadi research-based university, yang mampu menghasilkan teknologi dan berbagai produk inovatif.

Kurikulum pendidikan harus terus disempurnakan sesuai kebutuhan pembangunan dan perkembangan peradaban manusia. Laboratorium, kebun percobaan, kapal latih dan penelitian, perpustakaan, dan prasarana serta sarana lainnya harus terus dikembangkan. Kesejahteraan guru, dosen, dan staf nonakademik yang kini masih jauh dari cukup juga mesti segera ditingkatkan.

Di seluruh dunia, temuan teknologi dari aktivitas penelitian di perguruan tinggi (PT) dan lembaga penelitian semuanya bersifat skala laboratorium. Untuk menjadikannya sebagai teknologi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia perlu upaya scaling-up (komersialisasi) temuan tersebut. Di sini pemerintah dan swasta dituntut bekerja sama dengan PT dan lembaga penelitian dalam mentransformasi temuan hasil penelitian berskala laboratorium menjadi teknologi komersial yang siap pakai oleh masyarakat. Kebijakan dan struktur politik-ekonomi negara harus mendukung tumbuh kembangnya masyarakat yang mencintai science and technology (iptek).

Wujudnya antara lain bisa berupa pemberian beasiswa kepada 30.000 anak bangsa terbaik untuk meraih PhD (doktor) di bidang iptek di berbagai universitas terbaik, baik di dalam negeri maupun luar negeri, sampai 2030. Begitu selesai studi, mereka kembali mendarmabaktikan ilmu dan kepakaran bagi kemajuan dan kemakmuran bangsa.

Strategi itulah yang menjadi kunci sukses kemajuan ekonomi China yang spektakuler dalam dekade terakhir. Dari 1985 sampai 2005, China menghasilkan 30.000 PhD di bidang science and technology (Surya, 2009), sedangkan kita hanya sekitar 4.000 PhD. Akhirnya, pemerintah dan masyarakat seyogianya menghargai orang lebih karena ilmu dan amalnya, bukan karena harta dan takhtanya. Dirgahayu Indonesia!

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s