HARI PAHLAWAN DAN SEMANGAT BELA NEGARA

Posted: 22 Januari 2009 in bela negara, Nasionalisme, Warga Negara

bungtomoOleh : Uwes Fatoni

“Jangan tanyakan apa yang telah negara berikan padamu, Tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan untuk negaramu”

Akhir bulan yang lalu baru saja kita memperingati hari sumpah pemuda, awal bulan ini kita kembali mengenang sejarah perjuangan bangsa melalui peristiwa heroik kepahlawanan tanggal 10 Nopember. Hari pahlawan merupakan rangkaian yang tak terpisahkan dari diorama perjuangan bangsa yang diawali dengan sumpah pemuda (28 Oktober), Kebangkitan nasional (20 Mei), sampai puncaknya kemerdekaan (17 agustus). Kita harus mampu memahaminya dalam satu tarikan nafas.

Peringatan peristiwa sejarah dimaksudkan untuk memperbarui semangat kebangsaan kita sebagai warga negara. Peristiwa-peristiwa tersebut memiliki makna yang sangat dalam tentang semangat perjuangan yang dilakukan para pejuang tempo dulu dalam menghadapi dan menghalau para penjajah Belanda dari bumi nusantara.

Semangat heroik para pahlawan itu menjadi patokan nilai bagi generasi sekarang dan masa mendatang dalam mengisi kemerdekaan. Perjuangan melepaskan diri dari belenggu penjajahan merupakan perjuangan yang sangat berat, namun perjuangan mengisi kemerdekaan lebih berat lagi. Tantangan yang dihadapi generasi saat ini lebih kompleks dengan musuh yang tidak lagi kasat mata seperti penjajah pada masa kemerdekaan dulu. Sekarang kita dituntut mampu melepaskan diri dari penjajahan kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan.

Hari pahlawan menjadi momen tepat untuk memperkuat kembali jiwa kerelaan berjuang dan berkorban demi kepentingan bangsa. Semangat berkorban ini bagi generasi yang lahir paska kemerdekaan dan tidak merasakan perjuangan fisik telah mulai terkikis. Jiwa berkorban yang dulu begitu besar dimiliki para pejuang sekarang hilang diganti oleh jiwa rakus, aji mumpung, dan mental korup.

Dengan hilangnya jiwa berkorban ini tidak heran jiwa nasionalisme dan patriotisme juga hilang. Jabatan publik tidak lagi dianggap amanah dan medan memperjuangkan kepentingan bangsa. Ia justru dianggap ladang pribadi yang harus dikeruk manfaatnya untuk kepentingan pribadi atau golongan. Dari sini muncul jiwa-jiwa yang hobi menyelewengkan dana negara dan akhirnya menciptakan citra Indonesia sebagai negara terkorup sedunia.

Generasi ini adalah generasi usia produktif. Mereka lebih sering terbawa arus zaman edan sebagaimana diungkapkan Aloys B. Purnomo (9/11). Jiwa-jiwa positif berubah menjadi jiwa-jiwa kerdil. Kedisiplinan dan sikap berkorban diganti dengan sikap mau menang sendiri, terserah orang lain mau sengsara yang penting dirinya bahagia.

Untuk kembali menciptakan masyarakat yang cinta tanah air, mau berkorban dan membela negaranya dibutuhkan instrumen pendidikan bela negara. Sekalipun sikap berjuang dan berkorban ini bisa melalui profesionalisme dan semangat belajar serta berusaha, namun wajib militer merupakan instrumen penting dalam usaha bela negara.

Wajib Militer

Pemerintah saat ini sedang menggodog peraturan tentang wajib militer (wamil) melalui RUU Komponen Cadangan Pertahanan Negara. Berdasarkan RUU versi 9 oktober 2006, disebutkan bahwa yang akan direkrut untuk wamil adalah masyarakat usia produktif 18-45 tahun. Mereka akan dididik latihan dasar kemiliteran (latsarmil) dan kemudian dibentuk menjadi komponen cadangan militer. Ini dijalani selama lima tahun dengan biaya ditanggung negara.

Wamil sejatinya merupakan bagian dari upaya bela negara. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 27 ayat (3) mengisyaratkan tentang hak dan kewajiban warga negara untuk ikut serta dalam upaya bela negara dan pasal 30 ayat (1) dan (2) menyatakan rakyat menjadi kekuatan pendukung dalam usaha pertahanan dan keamanan negara.

Wamil bukan untuk menciptakan masyarakat yang militeristik, namun justru untuk membentuk karakter bangsa yang mencintai tanah air, memiliki jiwa patriotisme dan disiplin yang tinggi.

Selama ini yang dilatih pendidikan militer hanya kelompok masyarakat tertentu seperti anggota Linmas (Pelindung masyarakat), Hansip (pertahanan sipil), Satpam (satuan pengamanan), dan Menwa (Resimen Mahasiswa). Dengan adanya Undang-undang komponen cadangan pertahanan negara, seluruh masyarakat juga akan mendapatkan pendidikan militer.

Komponen cadangan negara ini ditugaskan untuk membela negara dari ancaman luar dan menjadi kekuatan perlawanan fisik bersenjata (kombatan) setelah TNI dalam menghadapi ancaman militer. Mereka yang terpilih wamil namun menolak akan terkena sanksi penjara maksimal dua tahun.

Pro kontra

Rencana penyelenggaraan wajib militer ini tentu tidak luput dari pro dan kontra. Ada kekhawatiran komponen cadangan ini akan menjadi angkatan kelima seperti masa pemerintahan Soekarno atau menjadi keamanan rakyat (kamra) yang menghadang rakyat lagi seperti zaman Orde Baru menjelang reformasi.

Beberapa anggota DPR RI menganggap penerapan wamil saat ini belum tepat karena negara tidak dalam keadaan terancam dari luar. Sebaliknya beberapa tokoh termasuk para purnawirawan TNI, berpendapat wamil sudah sangat mendesak diterapkan karena rasa nasionalisme sudah betul-betul luntur di masyarakat.

Undang-Undang tentang bela negara ini sejatinya telah hadir sejak tahun 1954, kemudian direvisi pada tahun 1980 dan terakhir 1982. Di negara lain wamil telah lama berjalan. Singapura sudah menerapkan wamil sejak tahun 1976, sementara Swiss telah memberlakukan sejak 200 tahun lalu, begitu juga di Amerika Serikat.

Di negara-negara tersebut penolakan terhadap UU wamil juga pernah muncul di awal pemberlakuannya. Namun seiring tumbuhnya kesadaran nasionalisme warganya penolakan tersebut lambat laun berubah menjadi dukungan penuh. Bahkan bagi negara-negara tertentu wamil dianggap sebagai sebuah kebutuhan.

Ada beberapa kasus warga negara menolak wajib militer. Misalnya di AS, Muhamad Ali sang petinju legendaris pernah menolak wajib militer. Saat itu ia sedang berada di puncak prestasinya menjuarai sabuk emas. Ketika negaranya memanggil untuk ikut wajib militer, Ali menolak karena menganggap selama ini ia telah berjuang membela negaranya melalui tinju. Penolakan tersebut mengakibatkan Ali terkena sanksi. Sekalipun tidak sampai dibui di hotel prodeo, tapi dia harus rela melepaskan sabuk emasnya dan mendapat larangan tanding di wilayah AS selama kurun waktu tertentu.

Kita masih menunggu hasil penggodogan lembaga legislatif tentang RUU komponen cadangan ini. Namun terlepas apakah wamil akan diterapkan saat ini atau ditunda sampai waktu yang tepat, yang pasti kita masih bisa berjuang membela negara sesuai posisi dan kedudukan kita. Peringatan hari pahlawan menjadi momen yang tepat untuk meningkatkan mental disiplin, rasa nasionalisme, jiwa patriotisme dan kerelaan berkorban untuk membela bangsa dan negara.

Uwes Fatoni, Dosen Civics Education UIN Bandung

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s