Terbaru

KPK di Ambang “Sakratul Maut”

Oleh: Suhardi

Hari-hari sulit, kini sedang melanda Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Yakni hari di mana perjuangan melawan korupsi sedang diuji. Ujian itu terasa menyesakkan dada ketika satu persatu komisionernya dilaporkan kepada pihak kepolisian. Entah benar ada atau dibenarkan, semuanya dijerat kasus hukum. Dimulai dengan ditangkapnya Bambang Widjajanto dengan jeratan pasal 242 juncto pasal 55 KUHP perihal Sumpah Palsu dan Keterangan Palsu. Disusul dengan serangan bertubi-tubi kepada Abraham Samad, Adnan Pandu Praja dan juga Zulkarnain.

Sebagai anak kandung yang lahir dari rahim reformasi, keberadaan KPK menjadi harapan segenap anak bangsa. Harapan tinggi itu digantungkan kepada pundaknya untuk memberantas penyakit akut bangsa, yakni korupsi. Penyakit yang telah merusak perekonomiandan sendi-sendi kehidupan.

Harapan tinggi anak bangsa kepada KPK memang tidak mengecewakan dan telah terbukti. Di usianya yang masih muda, KPK telah berhasil menyelamatkan keuangan negara sekitar Rp153 triliun. Baca kelanjutan halaman ini »

KPK Bisa ‘’Mati Suri’’ Korban Kriminalisasi

Oleh: Muhammad Faisal

Semua pimpinan KPK sudah diadukan ke polisi, namun baru satu yang dijadikan tersangka, yaitu Bambang Widjojanto (BW). Bakal menyusul Abraham Samad (AS) setelah kemarin Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Inspektur Jenderal Budi Waseso mengatakan Penyidik Mabes Polri meyakini Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad (AS) akan menjadi tersangka terkait laporan dugaan melakukan pertemuan dengan pihak yang perkaranya ditangani KPK.
Jika BW dan AS menjadi tersangka maka keduanya diharuskan mundur dari jabatannya saat ini sehingga pimpinan KPK tinggal dua orang tersisa, yaitu Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja dan Zulkarnain. Yang memprihatinkan kita Adnan Pandu juga sudah dilaporkan ke Bareskim Mabes Polri terkait dugaan kejahatan atas kepemilikan saham secara ilegal PT Desy Timber di Berau, Kalimantan Timur. Adnan menjamin pembebasan rekannya.

Begitu juga dengan nasib Wakil Ketua KPK Zulkarnaen dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri terkait dugaan korupsi dana hibah Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) Jawa Timur Tahun 2008. Baca kelanjutan halaman ini »

Bilamana Operasi Jaya Wijaya Benar-benar Terjadi..

GambarOleh: kasamago.wordpress.com

Gagalkan pembentukan Negara Boneka Papua
Kibarkan sang merah putih di Irian Barat tanah air Indonesia
Bersiaplah untuk mobilisasi umum mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa

Ketiga kalimat ini merupakan isi yang tertuang dalam Tri Komando Rakyat atau TRIKORA, dicanangkan oleh Presiden Soekarno setelah pidato agung di alun-alun utara Yogyakarta pada 19 Desember 1961 yang dihadiri sekitar 1 juta masa. Trikora digelorakan oleh Bung Karno sebagai jawaban atas sikap Belanda yang masih ingin tetap bercokol di Irian Barat serta tidak mematuhi hasi Konferensi Meja Bundar (KMB) yang menyatakan bahwa wilayah Republik Indonesia adalah semua bekas wilayah yang dijajah Belanda. Guna mendukung dan melaksanakan perintah Trikora maka dibentulah Komando mandala yang bermarkas di Ujung Pandang (Makassar), komando ini memilik tugas yang amat kompleks dan berat karena harus mengumpulkan dan mengkoordinasikan seluruh kekuatan Negara dalam waktu yang amat singkat dengan luas wilayah tugas yang mencapai separuh dari seluruh luas Republik. Tugas yang super berat demi terwujudnya Operasi JayaWijaya, sebuah operasi klimaks berupa perang terbuka dalam skala besar terhadap Militer Belanda di Irian Barat. Baca kelanjutan halaman ini »

Belanda Tak Pernah Menjajah Bangsa Kita!

Oleh: Tamam Malaka

Belum ada bukti yang masuk akal. Setelah membaca kumpulan sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara, ternyata memang belum ada daerah yang benar-benar dikuasai Belanda.

Walau mungkin terdapat sejarah yang mengatakan ditundukkan atau dikuasai, menurut saya istilah tepatnya bukan dikuasai. Tetapi berhasil dipengaruhi untuk bekerja sama dan kemudian Belanda mendiktekan apa yang menjadi maunya.
Belanda berhasil menjerat Kerajaan Nusantara dengan pinjaman keuangan. Ya seperti yang sedang terjadi zaman sekarang ini. Jika demikian, bukannkah ini sama saja hasilnya? Jika zaman dulu disebut dijajah, mestinya zaman sekarang pun boleh disebut demikian karena situasinya serupa.

Contohlah misalnya kerajaan besar Mataram. Belanda tetap tidak benar-benar pernah berhasil menguasainya. Mataram justru seringkali memanfaatkan Belanda demi kepentingannya sendiri. Misalnya, meminta Belanda untuk membantu dalam menumpas pemberontakan demi pemberontakan yang muncul ke permukaan.

Selama berada di Nusantara, malah Belanda sering mengalami kerugian besar. Baca kelanjutan halaman ini »

Abraham Samad, Pedang Tuhan, dan Syekh Yusuf Makassar

Oleh: Muhammad Hafil / Wartawan Republika

Dua tokoh penegak hukum dikagumi Ketua KPK Abraham Samad. Mereka adalah mantan Menkumham dan Jaksa Agung Baharudin Lopa serta mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Imam Santoso.

Menurut Abraham, mereka adalah dua penegak hukum yang memiliki sifat jujur sekaligus pemberani. Dua sifat inilah yang ditiru Abraham dari mereka. Karena, jujur tanpa memiliki keberanian tidak sempurna. Selain tidak memberikan manfaat bagi orang banyak, juga tidak bisa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. “Saya terinspirasi dari kedua orang ini,” katanya.

Dari mana Abraham memupuk keberaniannya? Ada satu cerita saat malam hari Abraham terpilih menjadi ketua KPK. Ia melakukan shalat malam. Abraham berusaha untuk melakukan ibadah itu dengan penuh kekhusyukan. Hasilnya, ia seolah melakukan berdialog dengan sang pencipta.

Dalam dialog itu, ia diberikan sebilah pedang oleh Tuhan. Ia kemudian menerima pesan yang bunyinya “Hai Abraham, ini saya berikan pedang yang sangat tajam. Baca kelanjutan halaman ini »

Kisah Kejujuran Polisi Hoegeng yang Harus di Teladani Para Pejabat Negeri Ini

Oleh: NN

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid secara bercanda pernah mengatakan bahwa di negeri ini ada dua polisi yang tidak bisa disuap, yakni pertama “polisi tidur” dan kedua Hoegeng.

Bukan untuk kalangan polisi saja, tetapi masyarakat umum pun dapat belajar dari kisah kehidupan Jenderal Hoegeng. Sesungguhnya budaya korupsi itu dapat ditangkal dengan nilai kejujuran, kerja keras, dan kesederhanaan seperti yang tecermin dalam tingkah laku Hoegeng. Hoegeng lahir di Pekalongan 14 Oktober 1921.

Nama pemberian ayahnya adalah Iman Santoso. Waktu kecil dia sering dipanggil bugel (gemuk), lama kelamaan menjadi bugeng, dan akhirnya berubah jadi hugeng. Setelah dewasa bahkan sampai tua, dia tetap kurus. Ayahnya Sukario Hatmodjo pernah menjadi kepala kejaksaan di Pekalongan; bertiga dengan Ating Natadikusumah (kepala polisi) dan Soeprapto (ketua pengadilan), mereka menjadi trio penegak hukum yang jujur dan profesional.

Ketiga orang inilah yang memberikan andil bagi penumbuhan sikap menghormati hukum bagi Hoegeng kecil. Baca kelanjutan halaman ini »

TNI Akan Tambah 17 Pos Baru Diperbatasan

Oleh: Editor Ruslan Burhani (www.antaranews.com)

“Tujuannya untuk menyatakan kehadiran negara dan memberi rasa aman kepada rakyat kita yang tinggal di dekat perbatasan dengan negara tetangga,”

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat berencana menambah 17 pos baru di sepanjang perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

“Tujuannya untuk menyatakan kehadiran negara dan memberi rasa aman kepada rakyat kita yang tinggal di dekat perbatasan dengan negara tetangga,” kata Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) VI Mulawarman Mayor Jenderal TNI Benny Indra Pujihastono di Balikpapan, Rabu.

Kodam VI Mulawarman bertanggung jawab mengawasi perbatasan sepanjang 1.038 kilometer dari timur laut ke barat daya perbatasan dengan negara bagian Sabah dan Sarawak, dua negara federasi Malaysia. Baca kelanjutan halaman ini »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 656 pengikut lainnya.